Biografi Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

  • Bagikan
Biografi Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Kelahiran Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

TOKOH WANITA – Ibu Nyai Hj. Zuhriyyah atau yang biasa disapa Ibu Nyai Zahro’ merupakan seorang ulama perempuan yang tekun dalam menjaga Al-Qur’an. Ia merupakan putri terakhir dari pasangan KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad dan Ibu Nyai Khodijah. Ia memiliki saudara kandung, yaitu Ibu Nyai Juwairiyyah, Ibu Nyai Durriyah, Ibu Nyai Walidah, KH. Ahmad, dan Ibu Nyai Zuhriyyah. Beliau adalah salah satu ulama perempuan yang sangat kuat dan tekun dalam menjaga Al-Qur’an.

Ibu Nyai Zahro lahir pada hari Rabu Kliwon, tanggal 3 Jumadilakhir 1358 H/ 19 Juli 1939 M. Namanya sesuai dengan huruf awal namanya, yaitu ‘Za’. Pada saat usianya baru tiga tahun, ia ditinggal ayahnya menghadap Allah SWT.

Riwayat Keluarga Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Ibu Nyai Zahro’ belum menikah pada usia 35 tahun, meskipun sudah banyak orang yang hendak menikahinya. Dengan halus, beliau menolak. Kemudian datang seorang kiai terkenal, KH. Mubasyir Mundzir, yang pengasuh Pondok Pesantren Ma’unah Sari Kediri. Kiai Mubasyir belum menikah pada usia 55 tahun. Mungkin ini takdir pertemuan antara dua orang yang menjadi kekasih Allah.

Suatu hari, Kiai Mubasyir mendapat saran untuk melamar Ibu Nyai Zahro’. Karena belum saling mengenal, Kiai Mubasyir meminta Gus Thoha untuk melihat Ibu Nyai Zahro’ dengan mata batinnya. Gus Thoha berhasil melihat Ibu Nyai Zahro’ dengan jernih, dan menemukan bahwa Ibu Nyai Zahro’ adalah burung merpati putih dengan paruh emas yang selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dua orang yang belum pernah bertemu dan hanya terlihat dengan mata batin yang jernih akhirnya bisa menikah dan membangun keluarga yang selalu takut kepada Allah. Inilah sesungguhnya jodoh yang diridhoi Allah. Dua kekasih Allah yang selalu takut kepada-Nya bertemu dan saling melengkapi. Pada akhirnya, di hari Jumat akhir bulan Juni 1973, KH. Mubasyir menikah dengan Ibu Nyai Zuhriyyah dengan sederhana. Acara pernikahan ini disaksikan oleh KH. Ali Maksum sebagai wali, KH. Ahmad Munawwir sebagai wali, Bapak Syal’an, dan Gus Thoha. Pernikahan ini berlangsung di Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L dengan mahar sebesar 10.000 dan ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Gus Toha.

Pendidikan Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Setelah dewasa, Ibu Nyai Zahro’ nyantri di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus di bawah asuhan KH. Arwani Amin sampai hafal Al-Qur’an. Setelah selesai nyantri di Kudus, beliau kembali ke Krapyak untuk membantu ibunya mengurus Rubatut Tahfidz (sekarang komplek L) bersama KH. Ahmad Munawir.

Ibu Nyai Zahro’ sangat istiqomah dalam menjaga hafalan Qur’annya. Bahkan ketika ada tamu ke rumahnya, hanya ditemui sebentar untuk menggurkan kewajiban menerima tamu. Setelah itu, beliau meminta izin untuk berlama-lama di belakang, sehingga membuat tamu segera pamit pulang dan beliau melanjutkan deres Qur’annya.

Guru-Guru Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Guru-guru beliau saat menuntut Ilmu adalah:

  1. Nyai Hj. Khodijah
  2. KH. Ali Maksum
  3. KH. Arwani Amin

Murid-Murid Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Ma’unah Sari Kediri

Pribadi Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir

Al-Qur’an yang sudah dihafalkan oleh Ibu Nyai Zahro’ menjadi pedoman dalam bertingkah laku sehari-hari. Ini menjadikan Ibu Nyai Zahro’ memiliki akhlak yang sangat bagus dan selalu takut kepada Allah. Ketakwaannya terlihat dari salah satu akhlaknya yaitu ketika di jalan sedang berpapasan dengan lawan jenis, beliau selalu menundukkan kepala tanpa berani melihat orang yang bukan muhrimnya. Menjaga pandangan merupakan bukti ketakwaan kepada Allah karena hal ini bisa menimbulkan syahwat yang dapat menjadi zina mata.

Nyai Hj. Zuhriyyah Munawwir Wafat

Beliau wafat pada tahun 2009 dimakamkan di komplek pemakaman pesantren Ma’unah Sari Kediri berdampingan dengan makam KH. Mubasyir Mundzir

Kunjungi Mall Tokoh Wanita

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *