Biografi Bu Nyai Masruroh Hasyim binti Kiai Hasan Muchyi

  • Bagikan
Biografi Bu Nyai Masruroh Hasyim binti Kiai Hasan Muchyi
Biografi Bu Nyai Masruroh Hasyim binti Kiai Hasan Muchyi

tokohwanita.co.id – Nyai Masruroh, yang juga dikenal sebagai Nyai Kapu, adalah sosok perempuan yang luar biasa. Beliau adalah istri terakhir yang mendampingi KH. Hasyim Asy’ari hingga akhir hayatnya. Nyai Masruroh adalah putri bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Kiai Hasan Muchyi dan Nyai Khodijah.

Ayahnya adalah pendiri dan pengasuh Pesantren Salafiyah Kapurejo, yang dulunya adalah prajurit Pangeran Diponegoro bernama Raden Mas Ronowijoyo. Beliau mendirikan pesantren di daerah Kapurejo, Kecamatan Pagu, Kediri (yang kemudian dikenal sebagai Ponpes Salafiyah Kapu).

Biografi Nyai Masruroh Hasyim

Sejak kecil, Nyai Masruroh tumbuh di lingkungan keluarga yang kuat dalam ajaran Islam. Tidak mengherankan jika keilmuannya tentang agama tidak diragukan. Pendidikan agamanya diperoleh langsung dari ayah dan ibunya sendiri, mulai dari dasar-dasar agama, membaca Al-Qur’an, kitab turats, dan lainnya.

Dia menerima dengan baik materi yang diajarkan oleh orang tuanya dan karena kesungguhannya dalam belajar, ia mampu menguasai semua materi dan bahkan mampu membantu mengajar santri putri di pesantren keluarganya. Selain pandai dalam ilmu turats, ia juga dikenal oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya sebagai ahli tirakat.

Lika-Liku Kisah Percintaan Nyai Masruroh Hasyim

Karena kepribadian yang terpuji dan keahliannya dalam memahami kitab turats, akhirnya ia dipilih oleh KH. Ihsan Dahlan, seorang pengarang terkenal yang merupakan pengasuh pesantren Jampes Kediri, untuk menjadi istrinya. Namun, pernikahan mereka hanya bertahan selama beberapa waktu saja dan akhirnya bercerai tanpa memiliki keturunan. Selanjutnya, Nyai Masruroh dinikahi oleh Sayyid Shodaqoh dari Bani Dahlan.

Dalam pernikahan dengan suami kedua ini, ia dikaruniai seorang putri bernama Nur Jannah, namun sayangnya pernikahan ini juga tidak bertahan lama dan akhirnya bercerai. Putri Nyai Masruroh, Nur Jannah, ikut bersama ayahnya, Sayyid Shodaqoh.

Dari Kapu Hingga Tebuireng

Suatu saat, Nyai Masruroh mengalami sakit yang cukup serius. Keluarganya tidak tega melihat keadaannya yang semakin parah, sehingga Kiai Hasan Muchyi mengadakan sebuah sayembara. Dalam sayembara tersebut, siapa pun yang bisa menyembuhkan Nyai Masruroh akan dijadikan saudara jika perempuan atau suami jika laki-laki.

Kabar tentang sayembara ini sampai kepada KH. Hasyim Asy’ari, sehingga ia datang ke Kapurejo menaiki delman untuk membantu menyembuhkan Nyai Masruroh. Berkat kekuatan Allah, Nyai Masruroh akhirnya sembuh.

KH. Hasyim Asy’ari sudah menjadi duda – setelah ditinggal Ny. Nafiqoh binti Kiai Ilyas – sebelum menikahi Nyai Masruroh. Dalam pernikahan ini, KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat anak: Abdul Kadir (lahir 1360 H), Nyai Fatimah (lahir 1361 H), Nyai Khodijah (lahir 1364 H), dan Gus Ya’qub (lahir 1366 H).

Setelah melangsungkan akad nikah, KH. Hasyim dan Nyai Masruroh sering berganti-ganti antara Tebuireng dan Kapurejo karena keduanya memiliki tanggung jawab yang harus dipikul.

KH. Hasyim Asy’ari bertanggung jawab mengurus Pesantren Tebuireng dan juga ditugaskan untuk terus mengembangkan pondok pesantren yang saat ini dikenal dengan sebutan Pondok Kapu. Sementara itu, Nyai Masruroh berperan sebagai ibu nyai dan penerus Pesantren Salafiyah Kapurejo.

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari datang ke Pesantren Kapu, ia langsung mengembangkan sektor pendidikan. Sebelumnya, Kiai Hasan Muchyi hanya mengajar ngaji untuk masyarakat sekitar saja. Namun, pada masa Kiai Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh, mereka mulai merumuskan sistem pendidikan dan pembangunan madrasah yang masih berlangsung hingga sekarang.

Nyai Masruroh Hasyim, Teladan Perempuan Milenial

Nyai Masruroh adalah istri yang sangat hormat kepada suaminya dan sangat sederhana. Dia tidak pernah meminta untuk dibelikan ini atau itu. Kesederhanaannya terlihat dari cara berpakaiannya yang tidak terlalu mewah. Bahkan kerudung yang diberikan oleh suaminya, KH. Hasyim Asy’ari, selalu disimpan dengan rapi dan hanya dipakai untuk acara khusus. Nyai Masruroh sering memberi nasihat kepada para santrinya, terutama santri putri, untuk menjadi istri yang baik bagi suami kelak.

Dia sering berkata, “Ingat ya, perempuan itu seperti pakaian bagi laki-laki, menghangatkan di musim hujan dan meneduhkan di saat kemarau.” Nasihat ini dia ambil dari QS. Al-Baqarah ayat 187. Nyai Masruroh juga sangat tekun dalam bertirakat, setiap hari ia menghiasi hidupnya dengan berpuasa dan shalat malam tanpa henti. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan keredaan Allah SWT dan agar mendapat barokah yang bisa bermanfaat bagi anak cucu atau keturunannya.

Nyai Masrurah selalu siap untuk mendukung suaminya dalam menghadapi perjuangan. Dia juga sangat cekatan dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul. Pada tahun 1942, KH. Hasyim Asy’ari ditangkap oleh Tentara Jepang dan dipaksa untuk menghormati Kaisar Hirohito serta taat kepada Amarterasu Omikami atau Dewa Matahari.

Pada saat itu, para santri Nyai Masruroh berusaha untuk membebaskan dan mengikuti KH. Hasyim Asy’ari untuk memastikan keadaannya. Nyai Masruroh yang saat itu berada di Tebuireng rela mengungsi ke Denanyar sesuai permintaan KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai istri, rasa khawatir dan sedih Nyai Masruroh tentu saja teruji pada saat itu. Namun, dia tidak diam saja. Nyai Masruroh terus semangat mengajar santri putri dan selalu meminta doa untuk suaminya yang tercinta.

Menuju Hari Tua

Hadratussyikh wafat pada tahun 1947, dan Nyai Masrurah kembali ke tempat kelahirannya di Pesantren Kapurejo untuk membimbing para santri di sana. Namun, karena usianya sudah lanjut dan sakit, keluarga akhirnya memutuskan untuk memindahkannya ke ndalem yang terletak di depan pesantren Tebuireng.

Pada tahun 1977, beberapa orang tua murid datang ke Nyai Masruroh dengan maksud untuk menitipkan putrinya untuk belajar agama dan menuntut ilmu di sekolah formal. Nyai Masruroh menerima amanah tersebut dan menempatkan para santri di rumahnya. Santri pertama terdiri dari 7 orang, kebanyakan berasal dari Jawa Barat dengan tingkat pendidikan SMP-SMA.

Karena jumlah santriwati semakin banyak, Nyai Masruroh memutuskan untuk merombak rumahnya yang hanya memiliki satu kamar mandi dan WC menjadi beberapa kamar untuk menampung santriwati yang semakin banyak. Nyai Masruroh mengajar para santri dengan tekun dan telaten, dibantu oleh putrinya, Hj. Chodidjah Hasyim. Atas inisiatif Hj. Chodidjah dan suaminya, KH. Abdurrahman Utsman, asrama yang sudah ada diperluas menjadi pondok pesantren yang diberi nama Al-Masruriyyah.

Nyai Masruroh Wafat

Nyai Masruroh binti Kiai Hasan Muchyi wafat pada hari Selasa, 1 Mei 1979 M atau 4 Jumadal Akhirah 1399 H, karena sakit diabetes. Beliau dimakamkan di Pemakaman keluarga Tebuireng bersama dengan mendiang suaminya, KH. Hasyim Asy’ari, dan keluarga lainnya. Setelah itu, estafet kepemimpinan Al-Masruriyyah dipegang oleh putrinya, Hj. Chodidjah Hasyim, dan suaminya, KH. Abdurrahman Utsman.

*Diolah dari tebuireng.online

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *