Biografi Nyai. Hj. Makkiyah As’ad Situbondo

  • Bagikan
Biografi Nyai. Hj. Makkiyah As’ad Situbondo
Biografi Nyai. Hj. Makkiyah As’ad Situbondo

Kelahiran Nyai. Hj. Makkiyah As’ad

TOKOHWANITA.CO.ID – Nyai Hj. Makkiyah As’ad lahir pada tanggal 31 Desember 1954 di Situbondo. Dia adalah putri dari pasangan KH. As’ad Syamsul Arifin dan Nyai Zubaidah Baidhowi. Dia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, yaitu Nyai Hj. Zainiyah As’ad, Nyai Hj. Mukarromah, Nyai Hj. Makkiyah As’ad, Nyai Hj. Isaiyah As’ad, dan KH. Fawaid As’ad. Sementara saudara-saudara ibunya adalah KH. Cholil As’ad Syamsul Arifin dan Abdurrahman.

Nyai Hj. Makkiyah As’ad merupakan sosok yang lahir dari keluarga ulama terkemuka, yang semakin menguatkan posisinya sebagai ulama yang tidak boleh dianggap remeh. Ayahnya, KH. As’ad, adalah seorang ulama terkenal yang terlibat dalam sejarah lahirnya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Ayahnya juga merupakan anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim atau KH. Syamsul Arifin dan Nyai Siti Maimunah yang berasal dari Pamekasan Madura. Dari sisi ayahnya, KH. As’ad merupakan keturunan Sunan Ampel, sedangkan dari sisi ibunya, ia masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu langsung dari Sunan Kudus.

Keluarga Nyai. Hj. Makkiyah As’ad

Nyai Hj. Makkiyah As’ad mengakhiri masa lajangnya dengan menikah KH. Nawawi Abdul Jalil dari Pesantren Sidogiri. Dari pernikahan tersebut, dia dikaruniai 2 orang putri. Pernikahan Nyai Hj. Makkiyah dengan KH. Nawawi tidak bertahan lama karena takdir tidak mempertemukan mereka selamanya. Setelah berpisah dari KH. Nawawi, Nyai Hj. Makkiyah As’ad menikah lagi pada tahun 1980 dengan salah satu muridnya sendiri, yaitu Drs. KH. Shidqie Mudzhar, yang berasal dari Pondok Pesantren al-Huda di Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan.

Drs. KH. Shidqie Mudzhar adalah ulama terkemuka dari Pamekasan yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. KH. Shidqie Mudzhar adalah seorang aktivis PMII, NU, dan dosen di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur. Bahkan, dia menjadi salah satu pendiri Universitas Islam Madura (UIM) Betet, Pamekasan, IAI Ibrahimy Sukerojo, dan IDIA al-Amien, Prenduan, Sumenep.

Dari pernikahan Nyai Hj. Makkiyah dengan Drs. KH. Shidqie Mudzhar, dia dikaruniai 5 orang anak laki-laki dan perempuan, diantaranya Nyai Hj. Makhsusi Zakiyah, Nyai Hj. Asma Zubaidah, Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, K. Zainul Hasan, dan Nyai Hj. Diana Kholidah.

Sosok Ulama Perempuan Nyai Hj. Makkiyah As’ad di Mata Keluarga Menurut Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah Shidqie, Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah figur ibu teladan yang memberikan perhatian penuh pada masa depan anak-anaknya. Menurut Ning Dia, sapaan akrabnya, Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah sosok inspiratif yang berjuang tanpa lelah untuk membesarkan anak-anaknya. Sejak ditinggal oleh almarhum Drs. KH. Shidqie Mudzhar, Nyai Makkiyah harus berjuang untuk membesarkan tiga anaknya yang masih kecil agar tetap tegar dalam menghadapi cobaan yang datang.

Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah mengakui bahwa sikap tidak menyerah merupakan keteladanan yang patut diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain. Menurut Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, Nyai Makkiyah adalah seorang ibu yang tegas dalam mendidik anak-anaknya. Jika anak yang bersangkutan melakukan kesalahan, Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak segan untuk memberikan teguran dan peringatan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Meskipun dikenal sebagai sosok yang tegas, Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak memiliki amarah yang berlebihan. Dia memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk memperbaiki sikap dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama maupun norma di masyarakat. Kombinasi antara sikap tegas dan kebijaksanaan dalam menyikapi masalah merupakan nilai keteladanan yang patut diikuti oleh semua santri dan keluarga besarnya.

Menurut pandangan Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, keberadaan Nyai Hj. Makkiyah As’ad di tengah keluarga merupakan anugerah yang luar biasa, karena dia memberikan keteladanan kepada anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Nyai Hj. Makkiyah mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa perempuan tidak boleh hanya pasif, tetapi harus belajar organisasi dan terjun langsung ke masyarakat.

Dorongan konstan dari Nyai Hj. Makkiyah As’ad membuat Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah Shidqie semakin termotivasi untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Saat ini, Ning Dia terdaftar sebagai mahasiswi Ekonomi Syariah di Pascasarjana UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Menurut cerita putranya, Lora Zainul Hasan, Nyai Makki merupakan ibu yang sangat perhatian dalam memberikan kasih sayang kepada semua anak-anaknya. Meskipun memiliki jadwal yang sangat padat, dia tidak lupa untuk memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati. Di tengah kesibukan mengisi acara pengajian dan menghadiri berbagai pertemuan muslimat, Nyai Hj. Makkiyah As’ad terus memantau perkembangan anak-anaknya agar terus belajar dan mengaji setiap hari.

Pendidikan Nyai. Hj. Makkiyah As’ad

Nyai Hj. Makkiyah As’ad telah dibesarkan di pesantren sejak kecil, dan hanya menyelesaikan Pendidikan Salaf hingga tingkat Madrasah Tsanawiyah saat ini. Meskipun demikian, kecerdasan dan pengetahuannya tidak kalah dengan orang-orang yang mengikuti pendidikan formal pada masanya. Bimbingan langsung dari ayahnya membuatnya menjadi seorang muslim yang taat dan mampu melanjutkan perjuangan ulama.

Nyai. Hj. Makkiyah As’ad Memimpin Tiga Pesantren

Bagi ulama perempuan di Madura, menjadi pengasuh tiga pesantren sekaligus merupakan sesuatu yang tidak biasa, karena ini merupakan tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan eksistensi dan peran pesantren dalam membangun moralitas umat dan bangsa secara keseluruhan. Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak sengaja menjadi pimpinan tiga pesantren, tetapi situasi dan kondisi yang memaksanya untuk mengambil alih keberlangsungan pesantren yang dipimpinnya.

Seperti yang diketahui, Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah pengasuh di tiga pesantren, yaitu Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah di Sukerojo, Situbondo, Pondok Pesantren Al Huda di Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan, dan Pondok Pesantren As-Shidqiyah di Perum Batu Kencana, Batuan, Sumenep. Menurut penulis, menjadi pengasuh di tiga pesantren sekaligus merupakan prestasi luar biasa di usianya yang sudah memasuki 60 tahun.

Sangat jarang ditemukan ulama perempuan yang memegang kendali beberapa pesantren di Madura, karena kepemimpinan pesantren seringkali dipegang oleh kiai atau ulama laki-laki. Di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah di Sukerojo, Nyai Hj. Makkiyah As’ad memimpin sebuah pesantren yang dihuni oleh ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.

Pesantren ini berlokasi di desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, yang didirikan pada tahun 1914 oleh KH. Syamsul Arifin dari Pamekasan Madura. Setelah KH. Syamsul Arifin meninggal, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, KH. As’ad Syamsul Arifin, yang dikenal sebagai ulama kharismatik karena memiliki karomah sebagai seorang wali.

Ciri yang membedakan pesantren ini adalah adanya perpaduan antara sistem salaf dan modern, sehingga saat ini jumlah santri yang tinggal di sana tidak kurang dari 15000 orang. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah juga telah mengembangkan pendidikan umum mulai dari tingkat SMP hingga Institut Agama Islam Ibrahimy. Menurut Nyai Hj. Makkiyah As’ad, pesantren ini kemudian dikelola oleh KH. R Fawaid As’ad, saudara kandungnya sendiri yang merupakan tokoh NU yang berpengaruh di kalangan masyarakat bawah karena kewibawaannya.

Selama kepemimpinannya, KH. Fawaid telah melakukan banyak pembenahan dalam sistem pendidikan pesantren sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk dengan memilih beberapa santri berprestasi untuk mengurus pesantren. Menurut Nyai Hj. Makkiyah As’ad, upaya KH. Fawaid telah menghasilkan terobosan yang luar biasa sehingga pesantren terus berkembang hingga sekarang. Namun, kepemimpinan KH. Fawaid harus terhenti karena beliau meninggal dunia di usia 43 tahun karena penyakit diabetes dan jantung.

KH. Fawaid As’ad meninggal pada tanggal 9 Maret 2012 di Surabaya dan kemudian dimakamkan di samping makam ayahnya, KH. As’ad Syamsul Arifin. Setelah kepergiannya, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah kemudian dipimpin oleh KH. Azaim Ibrahimy, yang merupakan keponakan dari Nyai Hj. Makkiyah As’ad. Nyai Hj. Makkiyah As’ad sendiri merupakan putri dari Kiai As’ad Syamsul Arifin dan menceritakan langsung pergantian pengasuh tersebut. Menurutnya, isyarat estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dari KH. Fawaid As’ad ke KH. Azaim Ibrahimy sudah ada sejak dulu.

Nyai Hj. Makkiyah As’ad memaparkan isyarat tersebut di hadapan ribuan alumni Salafiyah Syafi’iyah di Mushalla Ibrahimy. Menurutnya, sekitar tahun 1980, Nyai Zainiyah As’ad sering bercanda bahwa setelah Kiai Fawaid yang memimpin pesantren, Ra Zaim yang akan menjadi pemimpin selanjutnya. Candaan tersebut ternyata menjadi kenyataan. Meskipun estafet kepemimpinan pesantren jatuh ke tangan KH. Azaim Ibrahimy, Nyai Hj. Makkiyah As’ad tetap memegang kendali sebagai ketua Yayasan Pesantren, karena dianggap memiliki kharisma sebagai ulama perempuan yang luar biasa.

Bagi Nyai Makkiyah, pesantren Salafiyah Syafi’iyah merupakan amanah yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Bersama dengan KH. Azaim Ibrahimy, Nyai Hj. Makkiyah As’ad bekerja sama untuk memajukan pesantren agar terus menjadi benteng terakhir moralitas umat dan bangsa dari kehancuran.

Di Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, yang terletak di Duko Timur, Larangan, Pamekasan, Nyai Hj. Makkiyah memegang kendali seluruh kegiatan di pesantren, termasuk kegiatan belajar di lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiah (MI) hingga Madrasah Aliyah (MA).

Setelah kepergian KH. Shidqi Mudzhar, kepemimpinan pesantren secara otomatis berada di tangan Nyai Hj. Makkiyah As’ad yang rutin memantau langsung semua kegiatan di pesantren. Namun, dua tahun kemudian, pada tahun 2002, KH. Shidqie Mudzhar dipanggil oleh Sang Maha Kuasa sehingga estafet kepemimpinan pesantren dipegang oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad.

Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka terletak di desa Duko Timur, Larangan, Pamekasan, dengan luas sekitar 30.000 m2. Di sebelah baratnya, pesantren ini berbatasan dengan perkampungan, sedangkan di sebelah timurnya terdapat area persawahan yang luas. Pesantren ini dihuni oleh sekitar 500 santri yang tinggal di asrama atau tidak tinggal di asrama (santri kalong).

Sebagai alumni dari Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, penulis cukup mengenal keberadaan pesantren tersebut. Masyarakat umumnya mengenal pesantren ini dengan sebutan Ponpes Sumber Nangka, karena di belakang pesantren terdapat sungai dengan sumber mata air yang diberi nama Sumber Nangka oleh warga sekitar. Menurut keterangan Nyai Hj. Makkiyah As’ad, pesantren ini didirikan pada tahun 1907 oleh KHR. Zainuddin yang beristerikan Nyai Hj. Siti Aisyah dari Penang, Malaysia. Setelah kepergian KH. Shidqie Mudzhar, pesantren ini kemudian diasuh oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad sebagai pimpinannya.

Pesantren Al-Huda Sumber Nangka sudah berdiri lebih dari satu abad, sehingga sistem pendidikannya harus mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, pesantren ini yang diasuh oleh KH. Fawaid As’ad dikenal sebagai pesantren “basic nature” (pesantren yang berwawasan modern) dengan adanya jenjang pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan non-formal diantaranya adalah pengajian kitab, jami’yatul qurro’ wal huffadz, diniyah, dan khitobah. Sementara pendidikan formal dimulai dari jenjang PAUD hingga MA.

Pesantren ketiga yang dipimpin oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah Pondok Pesantren As-Shidqiyah di Perum Batu Kencana, Batuan, Sumenep. Pesantren ini didirikan pada tahun 1998 oleh KH. Shidqie Mudzhar di atas tanah yang dihibahkan oleh masyarakat setempat dengan tujuan untuk menyebarluaskan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat dan membentengi umat dari perbuatan amoral.

Pesantren As-Shidqiyah didirikan sebagai cabang dari pesantren Al-Huda di Sumber Nangka. Meskipun hanya menyediakan pendidikan PUAD dan madrasah diniyah, pesantren ini tetap disambut dengan baik oleh masyarakat sekitar karena kegiatan keagamaan yang rutin diadakan di sini.

Setelah KH. Shidqie Mudzhar meninggal pada tahun 2002, pucuk pimpinan pesantren secara otomatis dipegang oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad. Seluruh kegiatan dan pembangunan pesantren berada di bawah pengawasan dan pantauan Nyai Hj. Makkiyah As’ad, sehingga masyarakat harus berkordinasi langsung dengan beliau. Keberadaan pesantren ini diakui sebagai anugerah luar biasa oleh masyarakat, karena didirikan oleh ulama besar dan dipimpin oleh putri pelaku sejarah NU, KH. As’ad Syamsul Arifin.

Menurut K. Syamsul Hadi Anwar, salah seorang kerabat Nyai Hj. Makkiyah As’ad, pendirian pesantren As-Shidqiyah bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar menjadi pemimpin di masyarakat. Pesantren ini sengaja dipersiapkan untuk keturunan beliau agar siap menjadi ulama yang memimpin lembaga pendidikan pesantren.

Berdirinya lembaga pendidikan pesantren seperti As-Shidqiyah tentu saja bertujuan untuk memperluas jaringan dakwah yang bisa memberikan kesadaran spiritual dalam menerima nasehat-nasehat yang bersifat religius. Tujuan pendirian pesantren ini juga tidak lepas dari keperihatinan KH. Shidqi Mudzhar dan Nyai Hj. Makkiyah As’ad terhadap dinamika moralitas yang terjadi di masyarakat bawah dan perkotaan.

Sang ulama memang memiliki alasan yang cukup kuat untuk cemas akan dekadensi moral yang terus merajalela di masyarakat, sehingga diperlukan gerakan kultural-religius yang dapat memperkuat kegiatan keagamaan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya bergabung dengan komunitas berlabel religius yang siap menyambut semua kalangan untuk belajar agama.

Eksistensi pesantren As-Shidqiyah yang dipimpin oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad diharapkan dapat membantu para santri untuk mempelajari kitab-kitab kuning yang ditulis oleh ulama-ulama klasik pada abad pertengahan, sehingga tujuan awal untuk mencetak kader-kader religius dapat tercapai. Selain fokus pada pembelajaran kitab kuning sebagai pedoman untuk menyelesaikan masalah umat, santri juga dilatih untuk menjadi pribadi muslim yang tangguh dan mandiri secara psikologis.

Kematangan santri dalam menghadapi tantangan dari luar merupakan modal yang berharga dalam mengembangkan potensi pribadi mereka agar lebih terasah. Secara fungsional, keberadaan pesantren As-Shidqiyah tidak terlepas dari tujuan awal pendiriannya, yaitu untuk memperkenalkan ajaran-ajaran Islam yang bersifat primer dan menyangkut masalah ibadah, sehingga ajaran agama dapat benar-benar dihayati oleh setiap individu. Tidak mengherankan jika Nyai Hj. Makkiyah As’ad menjadi representasi ulama perempuan yang tidak hanya pasif, tapi juga mampu mengubah kehidupan masyarakat secara nyata.

Nyai. Hj. Makkiyah As’ad Pendakwah Profesional

Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak hanya memiliki latar belakang keluarga yang terkemuka di dunia keulamaan di Nusantara, tetapi juga memiliki kecerdasan dalam menyampaikan pesan-pesan agama secara jelas kepada masyarakat. Beliau memiliki modal simbolik yang luar biasa karena merupakan bagian dari keluarga yang terkenal sebagai ulama terkenal yang terlibat dalam pendirian organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu NU.

Jaringan keulamaan memang menjadi modal penting bagi seseorang untuk membangun relasi dan menjadi juru dakwah di tengah-tengah masyarakat. Koneksi Nyai dalam tradisi pesantren di Madura membantunya dalam membangun relasi yang memudahkan dia dalam menjadi juru dakwah atau mengisi pengajian umum di tengah-tengah masyarakat. Tradisi pesantren merupakan sistem sosial yang tumbuh melalui sistem kekerabatan yang dibangun oleh kiai.

Nyai Hj. Makkiyah As’ad mengambil misi dakwah yang disarankan oleh suaminya, KH. Shidqie Mudzhar. Ketokohan Kia As’ad merupakan pintu masuk bagi Nyai Hj. Makkiyah As’ad untuk terlibat dalam bidang dakwah untuk meneruskan perjuangan suaminya yang telah memberikan izin kepada beliau untuk aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan di masyarakat.

Modal latar belakang keluarga yang terkemuka di dunia keulamaan membuat Nyai Makkiyah dihormati sebagai ulama perempuan yang handal dalam menyampaikan dakwahnya. Jika Nyai berasal dari keluarga kiai yang kharismatik dan terkemuka di masyarakat, maka posisi Nyai juga akan dihargai dan dihormati lebih baik.

Kiprah Nyai Hj. Makkiyah As’ad dalam bidang dakwah tidak terlepas dari peran KH. As’ad yang sejak kecil sudah sering mengajaknya untuk mengikuti acara pengajian dan pertemuan organisasi NU. Sejak usia 7 tahun, Nyai Hj. Makkiyah As’ad sering dibawa oleh ayahnya untuk menghadiri pengajian atau pertemuan NU. Dari pelajaran yang diberikan oleh ayahnya ini, Nyai Hj. Makkiyah As’ad menjadi ulama perempuan yang tidak takut dengan stigma negatif di tengah-tengah masyarakat.

KH. As’ad memberikan pelajaran yang luar biasa kepada Nyai agar dia tidak hanya duduk di rumah, tetapi juga harus melakukan kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Ketika menikah dengan KH. Shidqi Mudzhar pada tahun 1980, Nyai Hj. Makkiyah As’ad diberikan kebebasan untuk mengekspresikan kemampuannya dalam bidang dakwah.

Nyai Hj. Makkiyah As’ad disarankan untuk mengisi pengajian di desa-desa melalui acara muslimat dan fatayat yang berada di bawah naungan Nadhlatul Ulama. Dukungan penuh dari suaminya, membuat Nyai Hj. Makkiyah As’ad merasa terdorong untuk lebih giat dalam memberikan dakwah kepada masyarakat. Sejak itulah, Nyai Hj. Makkiyah As’ad aktif mengisi pengajian di berbagai acara muslimat, mulai dari tingkat ranting hingga tingkat pusat.

Kegiatan dakwah yang dijalani Nyai Hj. Makkiyah As’ad masih terus berlangsung hingga sekarang. Beliau termasuk ulama perempuan yang aktif dalam memberikan dakwah, baik tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Selain diundang ke berbagai wilayah di Indonesia, beliau juga sering diminta untuk mengisi pengajian di beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan lainnya.

Dalam penuturannya, beliau mengatakan bahwa kegiatan dakwah tidak hanya sebatas wilayah Indonesia, tapi juga dari Malaysia, yang dihadiri oleh alumni Sukorejo, TKI, dan warga dari berbagai negara. Kiprah keulamaan Nyai Hj. Makkiyah dalam bidang dakwah tidak bisa diragukan lagi, karena kegiatan dakwah yang beliau jalani sudah menyentuh ke hampir seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara di Asia.

Aktivis Wanita dan Berjiwa Sosial

Kiprah luar biasa yang dicapai oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan dan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah aktivis di berbagai organisasi NU, seperti fatayat dan muslimat.

Kariernya dimulai setelah menikah dengan Almarhum KH. Shidqi Mudzhar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan. Beliau mendapat izin dari suaminya untuk terlibat dalam organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Kegiatan organisasi dimulai dari tingkat ranting, PAC, PW, dan Pusat.

Saat ini, beliau terdaftar sebagai anggota dewan penasehat Pimpinan Pusat Muslimat NU periode 2011-2016. Posisinya lebih tinggi daripada Menteri Sosial, Hj. Khofifah Indar Parawansa yang menjabat sebagai ketua Umum Muslimat NU.

Perjalanan karir Nyai Hj. Makkiyah As’ad di organisasi muslimat tidak hanya bergantung pada keturunan keluarga yang merupakan pelaku sejarah dari salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga didukung oleh kepemimpinan yang sangat kharismatik dan menyampaikan pesan-pesan moral yang menyentuh hati masyarakat.

Partisipasi Nyai Hj. Makkiyah As’ad dalam kegiatan organisasi menunjukkan kiprah seorang ulama perempuan Madura yang memiliki komitmen tinggi untuk memperjuangkan NU dari segala ancaman. Nyai Hj. Makkiyah As’ad sangat menyadari bahwa organisasi NU harus dijaga sebagai perjuangan untuk mempertahankan ajaran ahlussunah wal jamaah yang merupakan bagian penting dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Nyai Hj. Makkiyah terkenal sebagai ulama perempuan yang memiliki jiwa sosial terhadap semua orang, termasuk kerabat, saudara, santri, dan masyarakat secara umum. Beliau juga sering melakukan kegiatan sosial untuk anak yatim dan mengadakan doa bersama untuk masa depan mereka agar terus semangat dalam menjalani kehidupan. Hal terpenting yang juga dilakukan oleh Nyai Hj. Makkiyah adalah menekankan kepada santrinya untuk rajin bersilaturrahmi sebagai fondasi untuk mempererat persaudaraan antar sesama manusia.

Diolah dari situs laduni.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *