Biografi Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim

  • Bagikan
Biografi Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim
Biografi Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim

Tokoh Wanita Nusantara

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim lahir pada tanggal 11 Oktober 1922 di Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Beliau merupakan anak kelima dari sepuluh saudara dari pernikahan antara KH. Bisri Syansuri dengan Nyai Hj. Nur Chadijah (adik dari Mbah Abdul Wahab Hasbullah).

Keluarga Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim memulai hidup bersuami dengan menikahi Gus Abdurrahim, putra dari KH. Cholil Singosari, tetapi sayangnya, suaminya tersebut meninggal dunia pada awal pernikahan mereka.

Kemudian, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim menikahi lagi KH. Wahid Hasyim pada tahun 1936 M, tepatnya pada hari Jum’at, 10 Syawal 1356 H. Setelah menikah, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim dan KH. Wahid Hasyim tinggal di Denanyar.

Namun, kemudian pindah ke Tebuireng hingga sekitar tahun 1942. Dari pernikahan ini, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim dan KH. Wahid Hasyim memiliki enam anak, yang kemudian menjadi tokoh terkenal.

Di antara enam anak itu adalah Presiden keempat Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH. Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.

Rumah tangga KH. Wahid dan Nyai Sholichah yang lebih akrab disebut dengan nama tersebut hanya bertahan selama 15 tahun. Pada tahun 1953, KH. Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.

Kiprah Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh di Muslimat NU

Pada tahun 1950, saat KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim ikut pindah ke Jakarta dan terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, terutama di Muslimat NU Jakarta.

Keterlibatannya yang aktif dalam memperbaiki masyarakat dan berjuang untuk kebaikan dimulai dengan menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), ketua Muslimat NU Matraman (1954), ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), dan terakhir sebagai ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU dari tahun 1959 hingga saat beliau meninggal pada Jumat, 29 Juli 1994 pada usia 72 tahun.

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim juga memulai pendirian Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM), yang mengelola berbagai fasilitas umum seperti rumah sakit, klinik, panti asuhan, rumah bersalin, dan fasilitas sosial lainnya.

Kegiatannya tidak hanya terbatas pada lingkup Muslimat NU, ia juga aktif di berbagai organisasi sosial lainnya seperti YDB (Yayasan Dana Bantuan), Yayasan Bunga Kamboja, IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Home Care, panti jompo, dan pengajian untuk para ibu yang disebut al-Ishlah di Mataraman. Di dalamnya, ia sangat aktif dan memainkan peran yang cukup penting.

Selain itu, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim juga terlibat sebagai legislator DKI Jakarta (1957), DPR-GR/MPRS (1960), DPR/MPR (1971 mewakili NU, 1978-1987 mewakili PPP).

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Menjadi Kepala Keluarga

Setelah KH. Wahid meninggal dalam kecelakaan di Cimahi pada tahun 1953, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim mengambil alih semua tanggung jawab dalam menghidupi, membimbing, dan mendidik keluarga.

Meskipun KH. Bisri Syansuri ingin agar Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim kembali ke Jombang melalui musyawarah keluarga, dan bahkan ketika anak-anaknya akan dibagi-bagi di antara paman-pamannya untuk diasuh, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim memilih untuk tinggal di Jakarta bersama anak-anak mereka.

Ketangguhan, kesabaran, dan keuletan Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim, serta keterlibatannya yang aktif di masyarakat, integritasnya, dan doa-doanya yang teguh kepada Allah, telah membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati, tidak hanya oleh anak-anaknya, tetapi juga oleh tokoh-tokoh NU dan kolega-koleganya di luar NU.

Gus Dur, salah satu anaknya, menyebut sang ibu sebagai “ayam induk” bagi para pimpinan NU pada masa itu, selalu terkoneksi dengan para pemimpin masyarakat, lokal, dan nasional.

Bahkan keputusan untuk kembali ke Khitah NU di Situbondo juga tidak terlepas dari sosok Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim. Gus Dur yang dicalonkan di Muktamar NU di Situbondo juga setuju untuk maju setelah meminta restu terlebih dahulu kepada Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim.

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wafat

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim meninggal pada hari Jum’at, tanggal 29 Juli 1994, sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada usia 72 tahun.

Jenazahnya dikebumikan di kompleks pemakaman Pondok Tebuireng Jombang. Nama beliau diabadikan sebagai nama Masjid di Ciganjur, menjadi Masjid al-Munawwaroh.

Demikian biodata Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim yang telah tayang di tokohwanita.co.id. Semoga bermanfaat.

Diolah dari laduni.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *