Profil Ning Imaz Fatimatuz Zahra Lengkap dengan Nasihat

  • Bagikan
Profil Ning Imaz Fatimatuz Zahra Lengkap dengan Nasihat

Kelahiran Ning Imaz Fatimatuz Zahra

Ning Imas Fathmah Zahro atau lebih sering kita kenal dengan sebutan Ning Imaz merupakan putri sulung dari pasangan KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan Nyai Hj. Eeng Sukaenah. Beliau lahir di Cirebon, 06 October 1996.

Pendidikan Ning Imaz Fatimatuz Zahra

Sejak lahir beliau tumbuh dan besar di lingkungan pesantren. Hal inilah yang membuat beliau sangat mencintai berbagai ilmu pengetahuan, terlebih pada ilmu fiqih dan keislaman.

Sejak tahun 2008 hingga 2016, beliau mengenyam ilmu Al-Qur’an di Madrasah Hidayatul Mubtadiaat Fittahfidzi Wal Qiraat Lirboyo Kediri.

Kiprah Ning Imaz Fatimatuz Zahra

Ning Imaz mengajar dan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Lirboyo Kediri, saat ini beliau juga tengah menyelesaikan pendidikan di Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri.

Di tengah aktivitas yang padat beliau juga aktif berdakwah melalui akun media sosial serta seringkali mengisi kajian dan seminar di berbagai kota di Indonesia.

Profil Ning Imaz Fatimatuz Zahra Lengkap dengan Nasihat

Dawuh atau nasihat Ning Imaz Fatimatuz Zahra

  • “Pada dasarnya jodoh itu sudah diatur, tapi potensi kita harus diupayakan.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Sesungguhnya kesantunan dan kebaikanlah yang menentukan kemanusiaan seseorang. Sesungguhnya orang lembutlah yang memiliki kekuatan dan keberanian.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Hidup bersama dalam damai adalah tentang menerima perbedaan, dan kesediaan untuk mendengarkan, mengenali, menghormati, dan menghargai orang lain. Lebih dari sebelumnya, keragaman merupakan kenyataan yang memperkaya kehidupan umat manusia.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahro
  • “Tanpa sadar kita sering kali memaksa orang lain tampak sempurna di mata kita, hingga kita lupa bercermin dan memperbaiki diri.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Tidak peduli seberapa dalam anda mencintai seseorang, bagaimana anda diperlakukan itu jauh lebih penting. Tidak peduli seberapa dalam anda mencintai seseorang, cara anda dalam mencintai mereka itu jauh lebih penting.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Milikilah standart dan batasan-batasan hidup yang jelas, supaya ngga mudah terombang-ambing kata-kata tanpa bukti nyata.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Dalam islam, rumah tangga dibangun di atas pondasi takamul (saling melengkapi), tarahum (saling menyayangi), ta’awun (saling tolong menolong). Bukan di atas pondasi shira (pertentangan atau menang-menangan.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Dalam sebuah hub, perempuan juga butuh jaminan rasa aman sebelum mengorbankan diri untuk memberi leboh banyak atau terlibat lebih jauh.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Saya tidak pernah membiarkan mimpi saya sekedar mimpi, sata bangun dan saya mewujudkannya.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Untuk menjadi hamba yang kaffah itu tidak perlu menjadi bintang yang dieluh-eluhkan semua orang. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama, yang penting punya niat yang benar dan juga cara yang benar.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Perempuan, apabila bukan ilmu dan agama yang menjadj pegangannya, maka ia akan menjadi gila sebab perasaannya.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Perempuan itu memiliki kiiprah, keistimewaannya sendiri dan mampu menjadi seseorang yang bermanfaat jika digali dan juga dimaksimalkan potensinya.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Wibawa seorang wanita tak ditentukan oleh gaya hidupnya, namun isi kepalanya.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “kita perlu melawan ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh diri sendiri untuk menjadi perempuan yang lebih percaya diri pada potensi-potensi yang kita miliki.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Perempuan dalam menghadapi mimpinya tidak perlu meragukan perkara yang tidak seharusnya dilakukan. Seperti misalnya, jika saya terlalu pintar dan berhasil maka nanti laki-laki akan minder untuk menyandingi. Pada akhirnya untuk mencapai mimpinya tersebut, perempuan akan berpikir dua kali, sehingga yang terjadi ialah perempuan akhirnya menyerah pada budaya patriaki dan tidak berusaha untuk mengptimalkan kemampuannya.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Kita tidak perlu risau prihal jodoh. Sebab kita akan bersama dengan orang yang satu frekuensi dengan yang kita radiasikan. Oleh sebab itulah potensi harus terus kita upayakan. Kehidupan yang signifikan ini harus harus kita usahakan walaupun jodoh sudah ditentukan.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Mengingant Al-Ummu madrasatul ula, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, sehingga pendidikan perempuan itu tidak akan pernah sia-sia dan percuma. Justru akan bermanfaat untuk mendidik regenerasi bangsa. Karena dalam pembelajaran itu tidak hanya sekedar transformasi pengetahuan saja, tapi ada prosesnya juga.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Perempuan saat sekolah pastinya akan melewati berbagai ujian dan problematika yang menimpa saat ia berproses. Itulah yang akan membentuk dan menjadikannya matang secara emosi, secara spiritual dan juga secara intelektual.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Ketika kemudian dia mendidik anak, maka telah dibekali dengan memiliki pola asuh yang sehat. Dan ketika ia memiliki pola asuh yang sehat, maka anaknya akan tumbuh dengan sehat pula. Seorang anak yang tumbuh dengan pola asuh yang sehat, dia akan tumbuh dengan mental yang sehat. Orang yang mentalnya sehat itu intelektualitasnya akan lebih mudah berjalan dengan baik, sehingga akan lebih mudah diberitahu mana yang baik dan mana yang buruk tanpa perlu dipaksa dan diancam.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • “Memang segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk berpikir. Karena terkadang otak kita itu menipu kita. Terlalu banyak berpikir yang sebenarnya realitasnya tidak sesulit itu. Jadi memang kita harus memiliki batasan dalam memikirkan segala sesuatu, bahwa tidak semuanya harus ada jawabannya sekarang, dan itu tidak apa-apa.” – Ning Imaz Fatimatuz Zahra
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *