Ning Royya | Nyai Dlomroh, Perempuan di Balik Perjuangan KH Abdul Karim dan Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo | Nyai Dlomroh mungkin bukan nama pertama yang muncul ketika orang membicarakan Pondok Pesantren Lirboyo. Sejarah pesantren lebih sering mengingat sosok KH Abdul Karim atau Mbah Manab sebagai pendirinya. Namun, di balik perjalanan panjang KH Abdul Karim dalam mengembangkan pendidikan Islam di Lirboyo, terdapat seorang perempuan yang ikut menopang perjuangan tersebut: Siti Khodijah atau Nyai Dlomroh, putri KH Sholeh Banjarmelati.
Kisah Nyai Dlomroh menarik bukan hanya karena ia merupakan istri seorang ulama besar. Ia juga menunjukkan bagaimana seorang perempuan dapat mengambil peran penting dalam menopang perjuangan dakwah, keluarga, dan pendidikan pesantren melalui kerja keras yang dilakukan jauh dari sorotan.
Siapa Nyai Dlomroh?
Nyai Dlomroh dikenal sebagai Siti Khodijah binti KH Sholeh Banjarmelati, salah seorang tokoh agama di Kediri. Ayahnya dikenal memiliki perhatian besar terhadap dakwah dan pengembangan pesantren. Semangat tersebut kemudian menjadi bagian dari kehidupan Nyai Dlomroh dan keluarganya.
Nyai Dlomroh kemudian menikah dengan KH Abdul Karim, ulama yang kelak dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Sumber resmi Lirboyo mencatat bahwa pernikahan keduanya berlangsung pada 8 Safar 1328 H atau 1908 M. Dua tahun kemudian, keduanya berpindah ke Desa Lirboyo, yang kemudian menjadi titik awal perjalanan pesantren tersebut.
Mengapa KH Abdul Karim Berpindah ke Lirboyo?
Perjalanan menuju Lirboyo tidak terjadi secara kebetulan.
Pada masa itu, Desa Lirboyo dikenal sebagai wilayah yang membutuhkan pembinaan keagamaan dan sosial. Kepala Desa Lirboyo kemudian meminta KH Sholeh Banjarmelati agar menempatkan seorang ulama di wilayah tersebut. Harapannya, kehadiran seorang tokoh agama dapat membantu mengubah kondisi masyarakat dan memperluas syiar Islam.
KH Sholeh kemudian mendorong menantunya, KH Abdul Karim, untuk menetap di Lirboyo.
Pada sekitar 1910 M, KH Abdul Karim bersama Nyai Dlomroh akhirnya berpindah ke desa tersebut. Perpindahan inilah yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo.

Dari Tempat Sederhana, Lirboyo Mulai Tumbuh
Sulit membayangkan bahwa pesantren sebesar Lirboyo berawal dari keadaan yang sangat sederhana.
Ketika pertama kali menetap, KH Abdul Karim membangun rumah dan kemudian mendirikan sebuah langgar kecil yang digunakan untuk beribadah sekaligus mengajarkan ilmu agama. Langgar tersebut kemudian dikenal dalam sejarah Lirboyo sebagai salah satu cikal bakal bangunan pesantren.
Pada awalnya, jumlah santri tentu belum banyak. Namun, seiring waktu, semakin banyak orang datang untuk belajar kepada KH Abdul Karim.
Dari sebuah tempat sederhana, kegiatan pendidikan agama mulai berkembang. Dan di balik proses tersebut, ada Nyai Dlomroh yang ikut menjalani kehidupan penuh kesederhanaan bersama suaminya. Custom Cincin Jogja
Nyai Dlomroh: Istri yang Memilih Ikut Berjuang
Salah satu bagian paling menarik dari kisah Nyai Dlomroh adalah perannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga ketika KH Abdul Karim fokus mengajar dan mengembangkan pesantren.
Dalam tulisan NU Online Lampung, diceritakan bahwa Nyai Dlomroh meminta suaminya untuk lebih berkonsentrasi pada mengajar dan mengaji. Sementara kebutuhan kehidupan sehari-hari, ia berusaha membantu memenuhinya melalui kegiatan usaha.
Ia tidak sekadar menjadi pendamping di rumah.
Nyai Dlomroh ikut bekerja.
Pada awalnya, ia menjalankan usaha medel, yaitu mewarnai kain. Setelah beberapa tahun berkeluarga, ia juga membuka warung dan menjual kayu bakar kepada masyarakat sekitar.
Bagi kehidupan sekarang, mungkin pekerjaan tersebut terlihat sederhana.
Namun pada masa ketika Lirboyo baru dirintis, setiap usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga memiliki arti besar.
KH Abdul Karim mengabdikan waktunya untuk ilmu. Nyai Dlomroh mengerahkan tenaganya untuk menopang kehidupan mereka.
Bukan Sekadar Membantu Suami
Kisah Nyai Dlomroh tidak tepat jika hanya dipahami sebagai kisah seorang istri yang membantu suaminya mencari nafkah.
Perannya jauh lebih luas.
Membangun pesantren bukan hanya persoalan mendirikan bangunan. Ada kehidupan keluarga yang harus dijaga, kebutuhan yang harus dipenuhi, santri yang harus diperhatikan, serta perjuangan panjang yang membutuhkan ketahanan mental.
Dalam konteks inilah peran seorang istri ulama menjadi sangat penting.
NU Online Lampung menyoroti bahwa di balik banyak pesantren besar, perhatian publik sering lebih banyak tertuju kepada sosok kiainya. Padahal, ada istri yang ikut memberikan dukungan, doa, keteguhan, dan pengorbanan selama proses perjuangan tersebut.
Kisah Nyai Dlomroh menjadi salah satu contohnya.
Hidup Sederhana dengan Qanaah
Perjalanan Nyai Dlomroh bersama KH Abdul Karim juga digambarkan sebagai kehidupan yang dijalani dengan perjuangan, rasa syukur, dan qanaah.
Qanaah bukan berarti berhenti berusaha.
Justru kisah Nyai Dlomroh memperlihatkan keduanya berjalan bersama: bekerja keras sekaligus menerima kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Ia berdagang dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup, sementara suaminya mengabdikan diri untuk mengajar dan mengembangkan ilmu agama.
Dari sinilah terlihat bahwa perjuangan mereka bukan dibangun dengan kemewahan, tetapi dengan kesediaan untuk menjalani proses panjang.
Nyai Dlomroh dan Julukan “Sayyidah Khadijah dari Kediri”
Ada satu penyebutan yang membuat kisah Nyai Dlomroh semakin menarik.
Dalam buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, kesaksian sejumlah tokoh mengenai kegigihan Nyai Dlomroh kemudian memunculkan perbandingan dirinya dengan Sayyidah Khadijah. NU Online Lampung menyebutnya sebagai gambaran “Sayyidah Khadijah dari tanah Kediri.”
Perbandingan tersebut bukan berarti keduanya memiliki kehidupan yang sama persis.
Namun ada satu sisi yang menjadi titik persamaan: dukungan seorang istri terhadap perjuangan dakwah suaminya, termasuk melalui dukungan ekonomi.
Dalam kisah Nabi Muhammad ﷺ, Khadijah dikenal sebagai sosok yang memberikan dukungan besar pada masa awal dakwah. Sementara dalam konteks Lirboyo, Nyai Dlomroh dikenang karena ikut menopang perjuangan KH Abdul Karim ketika pesantren masih berada pada tahap awal.
Warisan KH Sholeh Banjarmelati
Nyai Dlomroh juga tidak muncul dari ruang kosong.
Ia merupakan putri KH Sholeh Banjarmelati, seorang tokoh agama di Kediri yang dikenal gigih dalam dakwah melalui pesantren.
Semangat dakwah tersebut kemudian berlanjut melalui keluarga dan jaringan pesantren yang memiliki hubungan dengan beliau. NU Online Lampung menyebut beberapa pesantren yang berkaitan dengan jaringan tersebut, antara lain Kedunglo, Jampes, Batokan, dan Mojo.
Dengan demikian, perjalanan Nyai Dlomroh dapat dilihat sebagai bagian dari jaringan keluarga ulama yang menjadikan pendidikan dan dakwah sebagai jalan pengabdian.
Dari Perjuangan Kecil Menjadi Pesantren Besar
Hari ini, nama Lirboyo telah jauh melampaui desa kecil tempat KH Abdul Karim pertama kali menetap.
Namun sejarah selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Rumah.
Langgar.
Guru.
Santri.
Dan keluarga yang bersedia bertahan dalam keadaan sulit.
Karena itu, ketika membicarakan sejarah Pondok Pesantren Lirboyo, tidak cukup hanya menyebut siapa yang mengajar para santri. Penting pula melihat orang-orang yang memungkinkan proses pendidikan itu terus berlangsung.
Nyai Dlomroh adalah salah satu sosok tersebut.
Perempuan yang Berjuang dari Balik Layar
Ada perjuangan yang terlihat.
Ada pula perjuangan yang berlangsung dalam diam.
KH Abdul Karim berada di ruang pengajaran dan menjadi sosok utama dalam perkembangan pendidikan pesantren. Sementara Nyai Dlomroh menjalankan perannya melalui usaha, keluarga, dan dukungan terhadap suaminya.
Keduanya mengambil jalan yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama.
Membangun kehidupan yang dipenuhi ilmu dan dakwah.
Inilah yang membuat kisah Nyai Dlomroh layak dikenang.
Bukan karena ia mencari popularitas.
Justru sebaliknya.
Ia berjuang ketika belum banyak orang melihat hasilnya.
Ia bekerja ketika pesantren belum menjadi lembaga besar.
Dan ia mendukung perjuangan suaminya ketika jalan yang ditempuh masih panjang.
Pelajaran dari Kisah Nyai Dlomroh
Kisah Nyai Dlomroh memberikan pelajaran bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu lahir dari satu orang.
Ada guru yang mengajar.
Ada santri yang belajar.
Ada masyarakat yang mendukung.
Dan ada keluarga yang rela berkorban.
Di balik sejarah besar Pondok Pesantren Lirboyo, Nyai Dlomroh mengajarkan bahwa perempuan tidak selalu harus berada di depan panggung untuk memberikan pengaruh besar.
Kadang kontribusi terbesar justru lahir dari pekerjaan yang tidak banyak dilihat orang.
Dari sebuah usaha kecil.
Dari dapur rumah.
Dari kesabaran.
Dari dukungan kepada pasangan.
Dan dari keyakinan bahwa perjuangan yang dilakukan hari ini mungkin baru akan terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.
Nyai Dlomroh mungkin tidak selalu menjadi nama pertama yang disebut dalam sejarah Lirboyo. Tetapi kisah perjuangannya menunjukkan bahwa sebuah pesantren besar tidak hanya dibangun dengan ilmu, melainkan juga dengan pengorbanan orang-orang yang bersedia menjaganya dari belakang.
Nyai Dlomroh adalah sosok penting dalam kisah awal perjalanan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Sebagai istri KH Abdul Karim dan putri KH Sholeh Banjarmelati, ia ikut menopang perjuangan keluarga dan perkembangan pesantren melalui kerja keras serta usaha ekonomi.
Kisahnya mengingatkan bahwa sejarah pesantren tidak hanya berisi nama para kiai dan ulama. Di dalamnya terdapat pula perempuan-perempuan yang bekerja, berdoa, mendukung, dan berkorban dalam diam.
Dan dari balik perjuangan yang sering tidak terlihat itulah, sebuah sejarah besar dapat tumbuh.






