Menu
Aktivis, Pejuang dan Pahlawan

GKR Hemas Tekankan Refleksi dan Aksi Perempuan Jogja Jelang 100 Tahun Kongres Perempuan Indonesia

  • Bagikan
GKR Hemas Tekankan Refleksi dan Aksi Perempuan Jogja Jelang 100 Tahun Kongres Perempuan Indonesia
GKR Hemas Tekankan Refleksi dan Aksi Perempuan Jogja Jelang 100 Tahun Kongres Perempuan Indonesia

Tokoh Wanita | Menjelang momentum penting peringatan 100 Tahun Kongres Perempuan Indonesia yang akan diperingati pada 2028 mendatang, diskusi publik digelar untuk menguatkan gerakan perempuan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Acara bertema “Peran Media dalam Mendorong Gerakan Perempuan di Yogyakarta: Refleksi Hari Ibu dan Menuju 1 Abad Kongres Perempuan Indonesia” berlangsung di Kantor DPD RI DIY, Rabu (17/12/2025), dan menghadirkan sejumlah tokoh perempuan serta pakar gender.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, menjadi pembicara utama dalam diskusi tersebut. Ia menyatakan bahwa momentum refleksi ini sangat penting untuk mengevaluasi kembali arah dan strategi gerakan perempuan di Indonesia. GKR Hemas mengatakan bahwa Yogyakarta memiliki peran historis yang sangat penting dalam sejarah kebangkitan perempuan di Indonesia, di mana wilayah ini menjadi salah satu titik awal lahirnya kesadaran kolektif perempuan sejak Kongres Perempuan pertama.

Dalam sesi diskusi, GKR Hemas berharap forum ini dapat menghasilkan masukan strategis yang bermanfaat bagi perencanaan gerakan perempuan menuju satu abad Kongres Perempuan. Ia menekankan perlunya keselarasan antara gerakan perempuan dan kebijakan publik agar perjuangan perempuan benar-benar berkelanjutan dan berdampak luas. “Jogja menjadi awal mula gerakan perempuan, dan ini menjadi titik perjuangan perempuan,” ujar GKR Hemas penuh tekad.

Sejumlah isu strategis dibahas dalam pertemuan tersebut, mencakup kekerasan terhadap perempuan di ruang digital, kebutuhan reformasi hukum yang berpihak pada perempuan, tantangan kerusakan ekologis dan krisis iklim, serta pentingnya reformasi birokrasi dengan perspektif kesetaraan gender. Isu-isu ini dianggap perlu dirumuskan bersama sebagai agenda perjuangan kolektif organisasi perempuan di masa mendatang.

GKR Hemas juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi perempuan, khususnya dalam hal kesadaran akan agenda dan tantangan besar ke depan. Menurutnya, meskipun organisasi perempuan di berbagai daerah telah aktif, namun masih terdapat kebutuhan besar untuk memperkuat jejaring dan sinergi antar organisasi agar suara perempuan lebih terintegrasi dalam satu frame perjuangan yang utuh.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa masukan dari diskusi ini akan dirangkum dan dibahas kembali dalam rapat lanjutan yang direncanakan pada 22 Desember 2025, dengan tujuan menyusun resolusi strategis untuk periode 2025–2030. GKR Hemas berharap bahwa hasil dari proses refleksi dan konsolidasi ini dapat memberikan kontribusi nyata dari Yogyakarta terhadap visi Indonesia Emas 2045, mengingat keberagaman budaya dan daerah di wilayah ini menjadi miniatur dari kondisi nasional.

Selain itu, GKR Hemas menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung gerakan perempuan. Ia menggarisbawahi bahwa perjuangan perempuan bukan hanya melibatkan perempuan itu sendiri, tetapi merupakan bagian integral dari pembangunan bangsa ke depan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan pemerintah sangat diperlukan agar tantangan yang dihadapi perempuan dapat dijawab secara komprehensif.

Diskusi publik ini juga menghadirkan pandangan penting dari Prof. Alimatul Qibtiyah, Komisioner Komnas Perempuan periode 2020–2025 sekaligus Guru Besar Kajian Gender di UIN Yogyakarta. Ia mengingatkan bahwa 22 Desember sejatinya merupakan Hari Perjuangan Gerakan Perempuan Indonesia, dan menegaskan bahwa sejarah panjang perjuangan perempuan di negara ini harus menjadi pijakan untuk menyongsong masa depan dengan strategi yang lebih kuat. Jogja, menurutnya, punya peran penting sebagai pusat lahirnya kesadaran kolektif perempuan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, dan politik.

Prof. Alimatul juga menekankan pentingnya konsolidasi gerakan perempuan nasional dalam menghadapi tantangan yang terus berubah dari masa ke masa, mulai dari era kolonial, orde lama, orde baru hingga masa reformasi. Ia mencatat bahwa dinamika tersebut menunjukkan bahwa gerakan perempuan Indonesia tidak statis, melainkan terus berkembang dan harus mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, politik, serta tuntutan global terkait hak asasi manusia dan kesetaraan gender.

Momentum kegiatan ini dinilai penting untuk memperkuat kapasitas perempuan dan memperluas jejaring gerakan perempuan di Indonesia. Dengan pendekatan kolaboratif serta komitmen seluruh pemangku kepentingan, diharapkan gerakan perempuan dapat semakin relevan dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa secara berkelanjutan.

Sumber: Krjogja.com, “GKR Hemas Ingatkan Perempuan Jogja Jelang 100 Tahun Kongres Perempuan”, 17 Desember 2025.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *