Tokoh Wanita | Guru Pesantren Bergaji di Atas UMR, KH M. Cholil Nafis Sebut sebagai Kunci Modernisasi | Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mendalami ilmu agama. Di tengah perubahan zaman, pesantren juga dituntut mampu membangun sistem pendidikan yang profesional, mandiri, dan mampu menyiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.
Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah kesejahteraan guru. Ketua Gerakan Pengasuh Pesantren Indonesia (GAPI), KH M. Cholil Nafis, menilai bahwa penghargaan terhadap guru perlu menjadi bagian penting dalam proses modernisasi pesantren.
Gagasan tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam talkshow bertema “Transformasi Pesantren dalam Meningkatkan Kualitas SDM Indonesia melalui Pendidikan Tinggi” yang digelar Baznas RI bersama Majelis Alumni IPNU di Pondok Pesantren Al Wahabiyah, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kesejahteraan Guru Menjadi Bagian dari Modernisasi Pesantren
Menurut Kiai Cholil, perubahan pesantren perlu dimulai dari pengelolaan yang lebih profesional. Salah satu bentuknya adalah memberikan penghargaan yang layak kepada para guru.
Ia mendorong agar guru pesantren memperoleh penghasilan yang setidaknya berada di atas standar upah minimum, disertai dengan berbagai dukungan kesejahteraan.
Guru Tidak Hanya Membutuhkan Gaji
Dalam pengelolaan Pondok Pesantren Cendekia Amanah di Depok, Kiai Cholil menjelaskan bahwa kesejahteraan guru tidak berhenti pada gaji pokok.
Guru juga mendapatkan sejumlah dukungan seperti tunjangan bagi keluarga, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga jaminan pensiun. Bahkan, terdapat mekanisme kenaikan penghasilan secara berkala.
Bagi Kiai Cholil, perhatian terhadap kesejahteraan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap profesi pendidik sekaligus upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat.
Kesejahteraan Harus Diikuti Kualitas
Memberikan penghasilan yang layak bukan berarti menurunkan standar profesionalisme. Justru, peningkatan kesejahteraan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas guru.
Karena itu, proses penerimaan tenaga pendidik di Pesantren Cendekia Amanah dilakukan melalui seleksi yang ketat. Tujuannya agar guru yang bergabung memiliki kapasitas keilmuan, kompetensi, dan dedikasi yang sesuai dengan kebutuhan pesantren.
Dengan cara tersebut, pesantren dapat membangun hubungan yang sehat antara kesejahteraan pendidik dan kualitas pendidikan.
Pesantren Perlu Membangun Kemandirian Ekonomi
Persoalan kesejahteraan guru tentu tidak dapat dipisahkan dari kondisi keuangan pesantren. Untuk memberikan penghasilan yang layak secara berkelanjutan, pesantren membutuhkan sumber pendanaan yang kuat.
Kiai Cholil karena itu menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi pesantren melalui pengelolaan keuangan yang lebih tertata dan pengembangan berbagai unit usaha.
Mengembangkan Unit Usaha Pesantren
Unit usaha dapat menjadi salah satu sumber pemasukan untuk menopang kegiatan pendidikan. Dalam paparannya, Kiai Cholil menyebut sejumlah contoh usaha seperti pertanian hidroponik dan peternakan.
Jika dikelola dengan baik, kegiatan ekonomi tersebut bukan hanya memberikan pemasukan tambahan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan pesantren.
Santri bahkan dapat memperoleh pengalaman praktis mengenai kewirausahaan, pengelolaan usaha, dan kemandirian ekonomi.
Tidak Selamanya Bergantung pada Bantuan
Kemandirian ekonomi juga membuat pesantren memiliki kemampuan yang lebih besar untuk membiayai kebutuhan internalnya.
Pesantren diharapkan tidak terus-menerus bergantung pada sumbangan maupun pengajuan proposal bantuan. Dengan sumber pendapatan yang dikelola secara profesional, kebutuhan operasional dan kesejahteraan guru dapat direncanakan secara lebih berkelanjutan.
Memadukan Ilmu Agama dan Ilmu Modern
Modernisasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam yang selama ini menjadi fondasinya.
Sebaliknya, pesantren perlu menemukan keseimbangan antara kekuatan tradisi keagamaan dengan kebutuhan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berkembang di era modern.
Tradisi Keilmuan Tetap Menjadi Fondasi
Ilmu agama tetap menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren. Nilai-nilai keislaman, akhlak, dan tradisi keilmuan pesantren merupakan fondasi yang membentuk karakter para santri.
Modernisasi seharusnya tidak menghilangkan identitas tersebut.
Santri Perlu Dibekali Kompetensi Masa Kini
Di sisi lain, santri juga perlu memiliki kemampuan yang relevan dengan perkembangan dunia.
Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan profesional, serta kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting agar lulusan pesantren dapat mengambil peran lebih luas di masyarakat.
Keseimbangan antara ilmu salaf dan ilmu modern inilah yang menurut Kiai Cholil perlu dibangun dalam ekosistem pendidikan pesantren.
Profesionalisme Pengelolaan Menentukan Masa Depan Pesantren
Modernisasi pesantren pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang gedung baru, teknologi, atau fasilitas pendidikan.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pesantren dikelola.
Mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, sistem keuangan, kesejahteraan guru, hingga pengembangan unit usaha perlu ditata secara profesional.
Menghargai Guru Berarti Menjaga Kualitas Pendidikan
Guru merupakan salah satu unsur utama dalam proses pendidikan. Ketika pendidik mendapatkan penghargaan yang layak, memiliki kepastian kesejahteraan, dan bekerja dalam sistem yang profesional, mereka memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalankan tugasnya.
Karena itu, meningkatkan kesejahteraan guru bukan semata-mata persoalan menaikkan gaji. Lebih jauh, hal tersebut merupakan bagian dari investasi terhadap kualitas pendidikan pesantren.
Membangun Pesantren yang Mandiri dan Berdaya Saing
Melalui GAPI, Kiai Cholil berharap model pengelolaan pesantren yang lebih mandiri dan memberikan perhatian terhadap profesi guru dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai pesantren di Indonesia.
Pesantren memiliki sejarah panjang dalam mendidik dan membentuk generasi bangsa. Tantangannya kini adalah bagaimana warisan tersebut dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Guru yang sejahtera, manajemen yang profesional, ekonomi pesantren yang mandiri, serta pendidikan yang mampu mempertemukan ilmu agama dan ilmu modern dapat menjadi bagian dari jalan menuju pesantren yang lebih kuat.
Modernisasi, pada akhirnya, bukan tentang meninggalkan tradisi. Modernisasi adalah tentang bagaimana pesantren mampu menjaga nilai-nilai terbaiknya sekaligus mempersiapkan diri untuk menjawab kebutuhan zaman.









