Menu
Aktivis, Pejuang dan Pahlawan

Biografi Siti Rukiah Kertapati: Sastrawan Perempuan yang Terlupakan, Karya, Kehidupan dan Perjalanan di Tengah Revolusi

  • Bagikan
Biografi Siti Rukiah Kertapati: Sastrawan Perempuan yang Terlupakan, Karya, Kehidupan dan Perjalanan di Tengah Revolusi
Biografi Siti Rukiah Kertapati: Sastrawan Perempuan yang Terlupakan, Karya, Kehidupan dan Perjalanan di Tengah Revolusi

Tokoh Wanita | Biografi Siti Rukiah Kertapati: Sastrawan Perempuan yang Terlupakan, Karya, Kehidupan dan Perjalanan di Tengah Revolusi |  Siti Rukiah Kertapati merupakan salah satu sastrawan perempuan Indonesia yang pernah memiliki tempat penting dalam dunia sastra pada masa awal kemerdekaan. Ia menulis puisi, cerpen, novel, hingga cerita anak. Namun, perjalanan hidup Siti Rukiah kemudian berubah setelah pergolakan politik 1965.

Situasi politik saat itu membuat pemerintah melarang sejumlah karyanya. Siti Rukiah juga harus menjalani penahanan tanpa pengadilan. Sejak saat itu, kehidupan sang sastrawan berubah dan ruangnya untuk menulis semakin terbatas.

Padahal, sebelum mengalami masa sulit tersebut, Siti Rukiah sudah menorehkan banyak pencapaian. Ia pernah menjadi sekretaris redaksi Pudjangga Baru dan meraih Hadiah Sastra BMKN melalui Tandus. Ia juga aktif dalam lingkungan kebudayaan Lekra.

Kini, nama Siti Rukiah Kertapati kembali mendapat perhatian. Sejumlah karya lamanya kembali dibaca dan dikaji. Karena itu, kisah hidupnya menjadi bagian penting untuk memahami sejarah sastra Indonesia, khususnya pengalaman perempuan pada masa revolusi.

Siapa Siti Rukiah Kertapati?

Siti Rukiah Kertapati lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 25 April 1927. Ia tumbuh ketika Indonesia berada dalam masa penuh pergolakan menuju kemerdekaan.

Setelah menyelesaikan pendidikan keguruan, Siti Rukiah bekerja sebagai guru di Purwakarta. Pada saat yang sama, minatnya terhadap sastra terus berkembang. Ia gemar membaca dan mulai menuangkan pikirannya melalui tulisan.

Ketika masih muda, Siti Rukiah mulai menulis puisi. Beberapa tulisannya kemudian muncul di berbagai majalah dan media sastra. Purwakarta juga memiliki peran penting dalam perjalanan kepengarangannya. Di kota tersebut, ia menyaksikan langsung perubahan sosial yang terjadi selama masa Revolusi Indonesia.

Masa Muda Siti Rukiah dan Awal Karier Menulis

Minat Siti Rukiah terhadap dunia sastra tumbuh sejak usia muda. Sekitar 1946, ia mulai menulis puisi dan mengirimkan karyanya ke majalah Gelombang Zaman.

Setelah itu, tulisannya muncul di sejumlah media lain, termasuk Mimbar Indonesia. Pada 1948, Siti Rukiah mendapat kepercayaan menjadi koresponden majalah Pudjangga Baru di Purwakarta.

Tidak hanya menulis, ia juga ikut mengembangkan kehidupan kebudayaan di daerahnya. Pada akhir 1940-an, Siti Rukiah terlibat dalam penerbitan majalah budaya Irama di Purwakarta.

Pengalaman tersebut memperluas pergaulannya dengan dunia intelektual. Dari sinilah karier Siti Rukiah sebagai penulis semakin berkembang.

Siti Rukiah dan Majalah Pudjangga Baru

Tahun 1950 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Siti Rukiah.

Pada tahun tersebut, ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai sekretaris redaksi majalah Pudjangga Baru. Di tahun yang sama, novel Kejatuhan dan Hati mulai terbit.

Lingkungan Pudjangga Baru mempertemukan Siti Rukiah dengan banyak tokoh sastra Indonesia. Ia berada dalam generasi penulis yang menggunakan sastra untuk membicarakan kemerdekaan, perubahan sosial, kehidupan rakyat, serta pergulatan manusia setelah perang.

Selain itu, pengalaman hidup di Purwakarta selama Revolusi Indonesia 1945–1949 ikut memengaruhi karya-karyanya. Siti Rukiah banyak mengangkat kehidupan rakyat biasa, perempuan, cinta, keluarga, dan dampak peperangan.

Siti Rukiah dan Sidik Kertapati

Kehidupan Siti Rukiah juga memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah Indonesia.

Pada 1947, Siti Rukiah bertemu dengan Sidik Kertapati. Sidik aktif dalam perjuangan dan kemudian dikenal sebagai politikus yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Keduanya kemudian menikah pada 2 Februari 1952. Setelah pernikahan tersebut, nama Siti Rukiah Kertapati semakin dikenal dalam dunia sastra.

Rumah tangga mereka dikaruniai enam orang anak. Di tengah kehidupan keluarga, Siti Rukiah tetap menjalankan aktivitas kepenulisan. Ia bahkan membantu Sidik dalam menyusun buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kehidupan Siti Rukiah sebagai Ibu

Di balik sosoknya sebagai sastrawan, Siti Rukiah juga menjalani peran sebagai ibu dari enam anak.

Setelah menikah, perhatiannya terhadap sastra anak semakin besar. Ia kemudian menulis berbagai cerita yang menyasar pembaca muda.

Beberapa karya tersebut antara lain Si Rawun dan Kawan-kawannya, Teuku Hasan Johan Pahlawan, Taman Sanjak Si Kecil, Pak Supi Kakek Pengungsi, Jaka Tingkir, Dongeng-Dongeng Kutilang, dan Kisah Perjalanan Si Apin.

Pengalaman sebagai ibu turut memberi warna pada perhatiannya terhadap sastra anak. Kehidupan keluarga dan pengalaman membesarkan enam anak menjadi bagian dari perjalanan Siti Rukiah sebagai penulis.

Karya Siti Rukiah yang Paling Dikenal

Sepanjang kariernya, Siti Rukiah menghasilkan karya dalam berbagai bentuk. Ia menulis novel, puisi, cerita pendek, serta sastra anak.

Beberapa karya Siti Rukiah yang dikenal antara lain:

  • Kejatuhan dan Hati (1950)
  • Tandus (1952)
  • Si Rawun dan Kawan-kawannya (1955)
  • Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957)
  • Taman Sanjak Si Kecil (1959)
  • Pak Supi Kakek Pengungsi (1961)
  • Jaka Tingkir (1962)
  • Dongeng-Dongeng Kutilang (1962)
  • Kisah Perjalanan Si Apin (1962)

Selain itu, Siti Rukiah juga menghasilkan sejumlah puisi. Beberapa judulnya antara lain “Ilham II”, “Adikku Kecil”, “Pahlawan”, “Buntu Kejaran”, “Pohon Sunyi”, “Kamar Tua”, “Tanah Air”, “Tanda Tanya”, “Aku Sendirian”, dan “Layar Hitam”.

Novel Kejatuhan dan Hati

Salah satu karya paling penting dalam perjalanan Siti Rukiah adalah Kejatuhan dan Hati yang terbit pada 1950.

Novel ini mengisahkan Susi, seorang perempuan muda yang tinggal bersama orang tua dan dua saudarinya di sebuah kota kecil. Ceritanya membawa pembaca pada persoalan keluarga, cinta, tekanan untuk menikah, serta kehidupan di tengah revolusi.

Susi menghadapi pilihan yang tidak mudah. Keluarga memiliki harapan terhadap masa depannya. Namun, Susi juga memiliki keinginan dan pandangan sendiri mengenai kehidupan.

Karena itu, Kejatuhan dan Hati tidak hanya bercerita tentang cinta. Siti Rukiah juga menunjukkan bagaimana revolusi memengaruhi kehidupan masyarakat biasa.

Peristiwa besar dalam sejarah ternyata tidak hanya berlangsung di medan perang. Dampaknya masuk ke rumah, keluarga, hubungan cinta, bahkan pilihan hidup seseorang.

Tandus dan Penghargaan Sastra BMKN

Selain Kejatuhan dan Hati, Tandus menjadi karya penting dalam perjalanan sastra Siti Rukiah.

Tandus memuat kumpulan puisi dan cerita pendek. Menurut penelitian Yerry Wirawan, buku tersebut terdiri atas 34 puisi dan enam cerita pendek.

Sebagian besar karya di dalamnya mengambil latar pengalaman dan suasana Revolusi Indonesia. Melalui tulisan-tulisan tersebut, Siti Rukiah menghadirkan kegelisahan manusia di tengah perubahan zaman.

Prestasi penting kemudian datang melalui Tandus. Buku tersebut meraih Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk kategori puisi.

Penghargaan itu diberikan pada 1953 untuk karya yang terbit pada 1952. Pencapaian tersebut menempatkan Siti Rukiah di antara penulis penting pada masanya.

Siti Rukiah dan Sastra Perempuan Indonesia

Siti Rukiah memiliki posisi penting dalam sejarah sastra perempuan Indonesia. Melalui karya-karyanya, ia menghadirkan pengalaman perempuan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pada masa itu, cerita tentang revolusi sering menonjolkan perjuangan laki-laki. Siti Rukiah menawarkan sudut pandang yang berbeda.

Ia menulis tentang perempuan yang menghadapi cinta, keluarga, tekanan sosial, kemiskinan, perang, dan perubahan politik. Dengan begitu, pembaca dapat melihat dampak sejarah dari sisi yang lebih personal.

Dalam sejumlah cerpennya, perempuan tidak sekadar menjadi tokoh pendamping. Mereka menjadi tokoh utama yang menghadapi perubahan dalam kehidupan mereka sendiri.

Karena itu, karya Siti Rukiah juga menarik perhatian penelitian yang membahas gender, kehidupan perempuan, dan struktur sosial pada masa awal kemerdekaan.

Siti Rukiah dan Lekra

Perjalanan Siti Rukiah kemudian bersentuhan dengan dunia politik dan kebudayaan kiri.

Pada 1959, Siti Rukiah masuk dalam jajaran pimpinan pusat Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dalam Kongres I Lekra pada Januari 1959, ia menyampaikan gagasan mengenai pentingnya seniman mengunjungi desa-desa petani dan kamp buruh.

Setelah itu, ia terpilih sebagai anggota Dewan Nasional Lekra.

Keterlibatan tersebut kemudian membawa konsekuensi besar setelah pergolakan politik 1965. Namun, penting untuk melihat perjalanan karya Siti Rukiah secara lebih luas.

Misalnya, Tandus sudah terbit pada 1952, jauh sebelum Siti Rukiah masuk dalam struktur Lekra. Karena itu, karya-karyanya tidak dapat dipahami hanya melalui label politik.

Karya Siti Rukiah juga memperlihatkan pengalaman pribadi, kehidupan keluarga, persoalan perempuan, serta situasi sosial pada zamannya.

Karya Siti Rukiah Dilarang Setelah 1965

Pergolakan politik 1965 mengubah kehidupan Siti Rukiah secara drastis.

Pemerintah kemudian melarang peredaran sejumlah karyanya. Beberapa judul yang terkena larangan antara lain Kejatuhan dan Hati, Tandus, Kisah Perjalanan Si Apin, Jaka Tingkir, dan Teuku Hasan Johan Pahlawan.

Pada akhir 1965, aparat menangkap Siti Rukiah tanpa proses pengadilan dan menahannya di Purwakarta. Ia kemudian memperoleh kebebasan pada April 1969.

Saat itu, Siti Rukiah tidak hanya menghadapi persoalan pribadi. Ia juga harus memikirkan keenam anaknya yang masih membutuhkan perhatian.

Ketika Siti Rukiah Harus Berhenti Menulis

Bagian paling memilukan dalam perjalanan hidup Siti Rukiah datang setelah ia keluar dari tahanan.

Siti Rukiah tidak lagi memiliki kebebasan yang sama untuk berkarya. Berdasarkan sumber yang mengutip suratnya kepada peneliti Annabel Gallop, ia keluar dari tahanan dengan syarat tidak kembali menulis atau menerbitkan karya.

Bagi seorang sastrawan, kondisi tersebut tentu sangat berat. Menulis bukan sekadar pekerjaan bagi Siti Rukiah. Tulisan menjadi cara untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan pengalaman.

Namun, Siti Rukiah memilih bertahan demi keluarganya. Ia menjalani kehidupan sederhana di Purwakarta. Untuk membantu kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya, ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menjahit, serta menyulam.

Keputusan tersebut membuat dunia sastra kehilangan salah satu penulis perempuannya yang penting.

Tahun-Tahun Sunyi Siti Rukiah

Setelah peristiwa tersebut, nama Siti Rukiah perlahan menghilang dari perhatian publik.

Keadaan itu bukan berarti karya-karyanya kehilangan nilai. Sebelumnya, beberapa karya Siti Rukiah sudah mendapat penghargaan dan banyak dibaca.

Akan tetapi, kondisi politik membuat karya-karyanya sulit beredar. Pada akhirnya, generasi berikutnya semakin jarang mengenal namanya.

Pada 1980-an, Siti Rukiah sempat kembali bersentuhan dengan lingkungan penulis. Namun, pengalaman traumatis yang ia alami membuatnya tidak kembali produktif seperti sebelumnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa perubahan politik dapat meninggalkan dampak panjang. Bukan hanya kehidupan seseorang yang berubah, tetapi juga ingatan masyarakat terhadap karya dan tokoh penting pada masa lalu.

Akhir Kehidupan Siti Rukiah Kertapati

Siti Rukiah menjalani tahun-tahun terakhir kehidupannya di Purwakarta.

Di lingkungan tempat tinggalnya, masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan sederhana. Kesaksian tentang dirinya juga tercatat dalam arsip Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta.

Siti Rukiah Kertapati meninggal dunia di Purwakarta pada 6 Juni 1996, dalam usia 69 tahun. Namun, beberapa sumber mencatat tanggal wafat yang berbeda, yaitu 7 Juni 1996.

Perbedaan pencatatan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas biodata dan akhir kehidupan Siti Rukiah.

Karya Siti Rukiah Kembali Dikenal

Setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesunyian, karya Siti Rukiah kembali mendapat perhatian.

Pada 2017, penerbit Ultimus di Bandung menerbitkan kembali beberapa karyanya. Di antaranya Tandus, Kejatuhan dan Hati, dan Pak Supi Kakek Pengungsi.

Penerbitan ulang tersebut membuka jalan bagi generasi baru untuk mengenal Siti Rukiah.

Kini, pembaca dapat melihat kembali karya-karyanya dari sudut pandang yang lebih luas. Sastra Siti Rukiah tidak hanya berbicara tentang politik, tetapi juga tentang keluarga, cinta, perempuan, revolusi, dan kehidupan masyarakat biasa.

Mengapa Siti Rukiah Penting dalam Sejarah Sastra Indonesia?

Siti Rukiah penting bukan hanya karena banyaknya karya yang ia hasilkan.

Lebih dari itu, tulisan-tulisannya memperlihatkan sisi lain dari sejarah Indonesia. Sejarah sering kali bercerita tentang tokoh politik, perang, dan perubahan kekuasaan. Siti Rukiah justru membawa pembaca melihat dampak perubahan tersebut dari kehidupan manusia biasa.

Melalui Kejatuhan dan Hati, misalnya, pembaca dapat melihat bagaimana revolusi memengaruhi cinta, keluarga, dan pilihan hidup seorang perempuan.

Sementara itu, Tandus memperlihatkan kegelisahan manusia ketika menghadapi revolusi dan perubahan sosial.

Kisah hidup Siti Rukiah sendiri memberikan pelajaran lain. Seorang sastrawan yang pernah menerima penghargaan akhirnya harus berhenti menulis karena situasi politik.

Warisan Siti Rukiah Kertapati

Warisan Siti Rukiah tidak hanya berupa buku yang ia tinggalkan.

Lebih dari itu, perjalanan hidupnya mengajak kita bertanya kembali tentang siapa saja yang mendapatkan tempat dalam sejarah.

Selama puluhan tahun, nama Siti Rukiah tidak memperoleh ruang sebesar karya-karyanya. Namun, penelitian akademik dan penerbitan ulang bukunya perlahan membawa namanya kembali ke permukaan.

Karya yang pernah terdiam akhirnya kembali dibaca.

Dari sana, kita dapat melihat bahwa sebuah karya mungkin saja kehilangan ruang pada suatu masa. Akan tetapi, waktu dapat membawanya kembali kepada pembaca.

Hari ini, Kejatuhan dan Hati dan Tandus kembali menjadi bagian dari pembicaraan tentang sastra Indonesia.

Siti Rukiah Kertapati pun kembali dikenang. Bukan sekadar sebagai sastrawan perempuan yang terlupakan, tetapi sebagai penulis yang pernah merekam suara manusia biasa di tengah zaman yang penuh pergolakan.

Biodata Siti Rukiah Kertapati

Data Keterangan
Nama Siti Rukiah Kertapati
Nama pena S. Rukiah / S. Rukiah Kertapati
Lahir 25 April 1927
Tempat lahir Purwakarta, Jawa Barat
Profesi Sastrawan, penulis, penyair, guru
Bidang Novel, puisi, cerita pendek, sastra anak
Suami Sidik Kertapati
Pernikahan 2 Februari 1952
Anak 6 orang
Organisasi kebudayaan Lekra
Karya terkenal Kejatuhan dan Hati, Tandus
Penghargaan Hadiah Sastra BMKN
Wafat 6 Juni 1996, Purwakarta
Usia 69 tahun

Daftar Karya Siti Rukiah

Novel

Kejatuhan dan Hati (1950)

Kumpulan Puisi dan Cerita Pendek

Tandus (1952), berisi 34 puisi dan enam cerita pendek.

Karya Sastra Anak

  • Si Rawun dan Kawan-kawannya
  • Teuku Hasan Johan Pahlawan
  • Taman Sanjak Si Kecil
  • Pak Supi Kakek Pengungsi
  • Jaka Tingkir
  • Dongeng-Dongeng Kutilang
  • Kisah Perjalanan Si Apin

Siti Rukiah Kertapati pernah berada di salah satu titik penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia menulis ketika Indonesia baru melewati masa perang dan menghadirkan pengalaman perempuan dalam karya-karyanya.

Ia juga pernah meraih penghargaan sastra. Namun, pergolakan politik kemudian membawa hidupnya ke arah yang berbeda.

Karya-karyanya dilarang. Kebebasannya hilang. Ia pun meninggalkan dunia kepenulisan dan memilih bertahan demi keenam anaknya.

Puluhan tahun kemudian, nama Siti Rukiah kembali ditemukan.

Mungkin, di situlah kisah Siti Rukiah Kertapati menjadi begitu berarti: sejarah bisa membuat sebuah nama tenggelam, tetapi karya yang kuat selalu menemukan jalan untuk kembali dibaca.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TUTUP