Tokoh Wanita | Sebutkan 30 Nama Pahlawan Nasional Beserta Tanggal Lahir dan Wafatnya | Indonesia memiliki ratusan Pahlawan Nasional yang berasal dari berbagai daerah, latar belakang, profesi, dan zaman. Mereka tidak semuanya berjuang dengan cara yang sama. Ada yang mengangkat senjata di medan perang, ada yang bergerak melalui pendidikan, pers, organisasi, diplomasi, politik, agama, kesehatan, hingga kebudayaan.
Karena itu, ketika membicarakan nama-nama Pahlawan Nasional Indonesia, daftar tersebut tidak cukup hanya berisi nama dan tanggal lahir. Di balik setiap tanggal terdapat perjalanan hidup, perjuangan, pengorbanan, serta konteks sejarah yang membentuk Indonesia.
Hingga 2023, pemerintah mencatat 206 Pahlawan Nasional. Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru, yakni KH Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Marsinah, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. Dengan demikian, jumlah yang umum dirujuk menjadi 216 tokoh.
Artikel ini secara khusus membahas 30 Pahlawan Nasional Indonesia yang paling dikenal, lengkap dengan tanggal lahir, tanggal wafat, asal, bidang perjuangan, serta kontribusi pentingnya.
Daftar 30 Pahlawan Nasional Indonesia
| No. | Nama Pahlawan Nasional | Lahir | Wafat | Dikenal karena |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Ir. Soekarno | 6 Juni 1901 | 21 Juni 1970 | Proklamator dan Presiden pertama RI |
| 2 | Drs. Mohammad Hatta | 12 Agustus 1902 | 14 Maret 1980 | Proklamator dan Wakil Presiden pertama RI |
| 3 | Jenderal Sudirman | 24 Januari 1916 | 29 Januari 1950 | Panglima Besar TNI |
| 4 | Ki Hadjar Dewantara | 2 Mei 1889 | 26 April 1959 | Pelopor pendidikan nasional |
| 5 | R.A. Kartini | 21 April 1879 | 17 September 1904 | Pelopor emansipasi dan pendidikan perempuan |
| 6 | KH Ahmad Dahlan | 1 Agustus 1868 | 23 Februari 1923 | Pendiri Muhammadiyah |
| 7 | KH Hasyim Asy’ari | 14 Februari 1871 | 25 Juli 1947 | Pendiri Nahdlatul Ulama |
| 8 | Raden Dewi Sartika | 4 Desember 1884 | 11 September 1947 | Pelopor pendidikan perempuan |
| 9 | Cut Nyak Dhien | 12 Mei 1848 | 6 November 1908 | Pejuang Perang Aceh |
| 10 | Cut Meutia | 15 Februari 1870 | 24 Oktober 1910 | Pejuang perlawanan Aceh |
| 11 | Kapitan Pattimura | 8 Juni 1783 | 16 Desember 1817 | Pemimpin Perang Pattimura |
| 12 | Pangeran Diponegoro | 11 November 1785 | 8 Januari 1855 | Pemimpin Perang Jawa |
| 13 | Tuanku Imam Bonjol | 1772 | 6 November 1864 | Pemimpin Perang Padri |
| 14 | Sultan Hasanuddin | 12 Januari 1631 | 12 Juni 1670 | Sultan Gowa dan pejuang antikolonial |
| 15 | Teuku Umar | 1854 | 11 Februari 1899 | Panglima Perang Aceh |
| 16 | Pangeran Antasari | 1797 | 11 Oktober 1862 | Pemimpin Perang Banjar |
| 17 | Sultan Agung | 1593 | 10 Februari 1645 | Sultan Mataram |
| 18 | I Gusti Ngurah Rai | 30 Januari 1917 | 20 November 1946 | Pemimpin Puputan Margarana |
| 19 | Bung Tomo | 3 Oktober 1920 | 7 Oktober 1981 | Pengobar semangat Pertempuran Surabaya |
| 20 | Otto Iskandardinata | 31 Maret 1897 | 20 Desember 1945 | Tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan |
| 21 | Jenderal Ahmad Yani | 19 Juni 1922 | 1 Oktober 1965 | Panglima Angkatan Darat |
| 22 | Jenderal Gatot Soebroto | 10 Oktober 1907 | 11 Juni 1962 | Tokoh militer Indonesia |
| 23 | Ir. Djuanda Kartawidjaja | 14 Januari 1911 | 7 November 1963 | Deklarasi Djuanda dan perdana menteri |
| 24 | Sutan Sjahrir | 5 Maret 1909 | 9 April 1966 | Perdana Menteri pertama RI |
| 25 | Mohammad Natsir | 17 Juli 1908 | 6 Februari 1993 | Tokoh politik dan Islam |
| 26 | H. Agus Salim | 8 Oktober 1884 | 4 November 1954 | Diplomat dan tokoh pergerakan |
| 27 | dr. Wahidin Soedirohoesodo | 7 Januari 1852 | 26 Mei 1917 | Pelopor Kebangkitan Nasional |
| 28 | Sam Ratulangi | 5 November 1890 | 30 Juni 1949 | Tokoh pendidikan dan Gubernur Sulawesi |
| 29 | Tan Malaka | 2 Juni 1897 | 21 Februari 1949 | Pemikir dan pejuang kemerdekaan |
| 30 | Abdul Muis | 3 Juli 1883 | 17 Juni 1959 | Sastrawan, jurnalis, dan aktivis pergerakan |
Catatan verifikasi: tanggal lahir beberapa tokoh dari periode kolonial tidak selalu seragam dalam sumber sejarah. Contoh yang paling jelas adalah KH Hasyim Asy’ari. NU Online mencatat 14 Februari 1871 sebagai tanggal lahir, tetapi juga menjelaskan adanya sumber yang menuliskan 10 April 1875. Untuk artikel ini digunakan tanggal 14 Februari 1871 karena didukung oleh sejumlah rujukan sejarah dan sumber NU.
1. Ir. Soekarno
Lahir: 6 Juni 1901
Wafat: 21 Juni 1970
Dikenal sebagai: Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.
Soekarno merupakan salah satu tokoh paling sentral dalam sejarah berdirinya Indonesia. Bersama Mohammad Hatta, ia membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Perjuangannya tidak hanya berlangsung pada masa pendudukan Jepang dan menjelang kemerdekaan. Jauh sebelumnya, Soekarno telah aktif dalam pergerakan nasional dan mengembangkan gagasan tentang nasionalisme Indonesia.
Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia pada 1927 dan kemudian mengalami penahanan serta pembuangan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno menjadi Presiden pertama Republik Indonesia. Ia juga memainkan peran penting dalam perumusan gagasan kebangsaan, termasuk Pancasila.
Soekarno wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970. Pemerintah kemudian menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 81/TK/Tahun 1986.
Sumber pendidikan pemerintah mencatat bahwa Soekarno wafat di Jakarta dan dimakamkan di Blitar.
2. Drs. Mohammad Hatta
Lahir: 12 Agustus 1902
Wafat: 14 Maret 1980
Dikenal sebagai: Proklamator dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Mohammad Hatta merupakan pasangan perjuangan Soekarno dalam proklamasi kemerdekaan. Ia lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan sejak muda aktif dalam pergerakan nasional.
Hatta memperoleh pendidikan yang kuat dan mengembangkan pemikiran politik ketika berada di Belanda. Ia menjadi salah satu tokoh penting Perhimpunan Indonesia.
Sekembalinya ke tanah air, Hatta terus memperjuangkan kemerdekaan. Bersama Soekarno, ia menjadi salah satu tokoh yang menandatangani dan membacakan Proklamasi Kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden pertama. Ia juga dikenal sebagai pemikir ekonomi kerakyatan dan salah satu tokoh penting dalam perkembangan demokrasi Indonesia.
Pemerintah menetapkan Soekarno dan Hatta sebagai Pahlawan Nasional pada 2012. Keduanya sebelumnya juga telah memperoleh sebutan Pahlawan Proklamator.
3. Jenderal Sudirman
Lahir: 24 Januari 1916
Wafat: 29 Januari 1950
Dikenal sebagai: Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.
Sudirman merupakan salah satu simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia dikenal bukan hanya karena kepemimpinannya sebagai panglima, tetapi juga karena keteguhannya bergerilya meskipun kondisi kesehatan sangat buruk.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dan Yogyakarta jatuh pada 1948, Sudirman memilih tetap bergerilya. Perjuangan gerilyanya menjadi bagian penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.
Kepemimpinan Sudirman juga berkaitan erat dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara. IKPNI mencatat bahwa PDRI berjalan dengan dukungan Panglima Besar Sudirman selama periode perjuangan tersebut.
Sudirman wafat pada 29 Januari 1950 dalam usia relatif muda. Namanya kemudian menjadi salah satu simbol utama perjuangan militer Indonesia.
4. Ki Hadjar Dewantara
Lahir: 2 Mei 1889
Wafat: 26 April 1959
Dikenal sebagai: Bapak Pendidikan Nasional.
Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
Ia berasal dari lingkungan bangsawan Yogyakarta, tetapi memilih menggunakan kehidupannya untuk memperjuangkan pendidikan rakyat.
Ki Hadjar pernah menempuh pendidikan di ELS dan STOVIA, meskipun pendidikan kedokterannya tidak selesai karena masalah kesehatan.
Perjuangannya melalui tulisan juga membuat pemerintah kolonial khawatir. Salah satu tulisan terkenalnya adalah Als Ik een Nederlander was, yang menjadi kritik tajam terhadap kebijakan kolonial.
Pada 1922 ia mendirikan Perguruan Taman Siswa. Sistem pendidikannya menekankan kemerdekaan belajar dan pembentukan karakter.
Semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani kemudian menjadi bagian penting dari filosofi pendidikan Indonesia.
5. R.A. Kartini
Lahir: 21 April 1879
Wafat: 17 September 1904
Dikenal sebagai: Pelopor pendidikan dan emansipasi perempuan.
Kartini lahir di Jepara dari keluarga bangsawan Jawa.
Pada usia muda, ia harus menjalani masa pingitan. Namun keterbatasan tersebut tidak menghentikan keinginannya untuk belajar.
Kartini banyak membaca buku dan berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Surat-surat tersebut kemudian menjadi salah satu sumber penting untuk memahami pemikirannya mengenai pendidikan, perempuan, perkawinan, dan masyarakat.
Kartini meninggal hanya beberapa hari setelah melahirkan putranya pada 1904.
Gagasan Kartini kemudian dikenal luas melalui kumpulan surat yang diterbitkan setelah wafatnya.
Tanggal kelahirannya, 21 April, kemudian diperingati sebagai Hari Kartini.
6. KH Ahmad Dahlan
Lahir: 1 Agustus 1868
Wafat: 23 Februari 1923
Dikenal sebagai: Pendiri Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan adalah tokoh penting dalam sejarah pembaruan pendidikan dan sosial Islam di Indonesia.
Ia lahir di Yogyakarta dan kemudian memperdalam ilmu agama, termasuk belajar di Makkah.
Pada 18 November 1912, ia mendirikan Muhammadiyah. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia.
Ahmad Dahlan tidak hanya mengembangkan pendidikan agama, tetapi juga memperkenalkan sistem pendidikan yang memadukan pelajaran agama dengan pengetahuan umum. Pemerintah mencatat bahwa ia juga mendirikan berbagai sekolah, masjid, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim.
Karena itu, warisan Ahmad Dahlan tidak hanya terlihat dalam bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan dan pelayanan sosial.
7. KH Hasyim Asy’ari
Lahir: 14 Februari 1871
Wafat: 25 Juli 1947
Dikenal sebagai: Pendiri Nahdlatul Ulama.
KH Hasyim Asy’ari merupakan ulama besar dari Jombang, Jawa Timur.
Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan pesantren. Ia kemudian menuntut ilmu ke berbagai pesantren dan melanjutkan perjalanan intelektual ke Makkah.
Pada 1899, ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Lembaga tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Jawa.
Pada 31 Januari 1926, Hasyim Asy’ari bersama ulama lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama.
Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, namanya juga sangat terkait dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menjadi salah satu konteks penting mobilisasi masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Tanggal kelahiran dan wafat Hasyim Asy’ari memang pernah ditulis berbeda dalam sejumlah sumber. NU Online secara khusus membahas perbedaan tersebut dan menggunakan 14 Februari 1871 sebagai tanggal lahir.
8. Raden Dewi Sartika
Lahir: 4 Desember 1884
Wafat: 11 September 1947
Dikenal sebagai: Pelopor pendidikan perempuan di Jawa Barat.
Dewi Sartika merupakan tokoh pendidikan yang memperjuangkan akses pendidikan bagi anak perempuan.
Pada 1904, ia mendirikan sekolah yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri.
Pendidikan yang diperjuangkannya bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan serta pembentukan kepercayaan diri.
Setelah Indonesia merdeka, kondisi perang membuat sekolah yang dibangunnya menghadapi kesulitan. Dewi Sartika kemudian harus mengungsi dan akhirnya meninggal di Cineam pada 11 September 1947. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden No. 252 Tahun 1966.
9. Cut Nyak Dhien
Lahir: 12 Mei 1848
Wafat: 6 November 1908
Dikenal sebagai: Pejuang Perang Aceh.
Cut Nyak Dhien merupakan salah satu tokoh perempuan paling terkenal dalam sejarah perlawanan terhadap Belanda.
Ia berasal dari Aceh dan terlibat dalam perjuangan setelah suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur.
Setelah itu, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjuangan dan kemudian menikah dengan Teuku Umar. Keduanya menjadi pasangan pejuang yang terkenal dalam sejarah Perang Aceh.
Perjuangan Cut Nyak Dhien berlangsung dalam kondisi yang sangat berat. Usia, penyakit, dan tekanan perang tidak membuatnya menyerah.
Setelah tertangkap Belanda, ia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Cut Nyak Dhien wafat pada 6 November 1908.
KOWANI mencatat tanggal lahirnya 12 Mei 1848 dan tanggal wafatnya 6 November 1908.
10. Cut Meutia
Lahir: 15 Februari 1870
Wafat: 24 Oktober 1910
Dikenal sebagai: Pejuang perlawanan Aceh.
Cut Meutia berasal dari Keureutoe, Aceh Utara.
Ia ikut berjuang melawan Belanda bersama suaminya, Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong.
Setelah suaminya ditangkap dan dihukum mati, perjuangannya tidak berhenti. Cut Meutia kemudian meneruskan perlawanan bersama Pang Nanggroe.
Pang Nanggroe juga gugur pada 1910. Cut Meutia kemudian terus memimpin perlawanan hingga akhirnya gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910.
KOWANI mencatat Cut Meutia lahir 15 Februari 1870 dan wafat 24 Oktober 1910.
11. Kapitan Pattimura
Lahir: 8 Juni 1783
Wafat: 16 Desember 1817
Dikenal sebagai: Pemimpin Perlawanan Maluku.
Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy merupakan tokoh perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme Belanda.
Pada 1817, Pattimura memimpin perlawanan rakyat Maluku dan berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua.
Perlawanan kemudian meluas ke wilayah lain di Maluku. Belanda akhirnya mendatangkan pasukan tambahan sehingga posisi Pattimura semakin terdesak.
Ia kemudian ditangkap dan dihukum mati di Ambon pada 16 Desember 1817.
Sumber pendidikan Kemendikdasmen mencatat Pattimura lahir 8 Juni 1783 dan meninggal 16 Desember 1817.
12. Pangeran Diponegoro
Lahir: 11 November 1785
Wafat: 8 Januari 1855
Dikenal sebagai: Pemimpin Perang Jawa.
Pangeran Diponegoro merupakan salah satu tokoh perlawanan terbesar terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Ia lahir di lingkungan Keraton Yogyakarta dan sejak kecil diasuh oleh Ratu Ageng di Tegalrejo.
Perlawanan yang dikenal sebagai Perang Jawa berlangsung pada 1825–1830 dan menyebabkan kerugian besar bagi pemerintah kolonial.
Diponegoro menggunakan jaringan masyarakat serta strategi perang gerilya untuk menghadapi kekuatan Belanda.
Belanda akhirnya menggunakan strategi penangkapan melalui perundingan di Magelang. Diponegoro kemudian diasingkan dan menjalani masa akhir kehidupannya di Makassar.
IKPNI mencatat ia lahir 11 November 1785 dan wafat di Fort Rotterdam, Makassar, pada 8 Januari 1855.
13. Tuanku Imam Bonjol
Lahir: 1772
Wafat: 6 November 1864
Dikenal sebagai: Pemimpin Perang Padri.
Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Sumatera Barat.
Ia dikenal sebagai pemimpin utama dalam Perang Padri yang kemudian berkembang menjadi perlawanan terhadap Belanda.
Berbeda dengan sejumlah tokoh lain dalam daftar ini, tahun kelahirannya lebih sering dicatat daripada tanggal lengkapnya. Karena itu, penulisan 1772 lebih aman secara historis daripada memaksakan tanggal dan bulan yang tidak konsisten antar sumber.
Ia kemudian ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Imam Bonjol wafat di Manado pada 6 November 1864.
14. Sultan Hasanuddin
Lahir: 12 Januari 1631
Wafat: 12 Juni 1670
Dikenal sebagai: Sultan Gowa ke-16.
Sultan Hasanuddin merupakan salah satu tokoh perlawanan terhadap VOC dari Kesultanan Gowa.
Ia memimpin Gowa dalam menghadapi ekspansi VOC di Sulawesi Selatan.
Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya Ayam Jantan dari Timur.
Perjuangan Sultan Hasanuddin berlangsung dalam konteks persaingan politik dan ekonomi yang sangat kompleks di kawasan timur Nusantara.
Ia wafat di Gowa pada 12 Juni 1670.
Sumber pendidikan Kemendikdasmen mencatat Sultan Hasanuddin lahir 12 Januari 1631 dan wafat 12 Juni 1670.
15. Teuku Umar
Lahir: 1854
Wafat: 11 Februari 1899
Dikenal sebagai: Panglima Perang Aceh.
Teuku Umar merupakan salah satu pemimpin penting dalam Perang Aceh.
Ia dikenal menggunakan strategi yang tidak biasa dalam menghadapi Belanda. Salah satu fase perjuangannya adalah ketika ia masuk ke lingkungan militer Belanda dan kemudian membawa perlengkapan serta pasukan untuk kembali memperkuat perlawanan Aceh.
Bersama Cut Nyak Dhien, ia menjadi salah satu pasangan paling terkenal dalam sejarah perjuangan Aceh.
Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899.
16. Pangeran Antasari
Lahir: 1797
Wafat: 11 Oktober 1862
Dikenal sebagai: Pemimpin Perang Banjar.
Pangeran Antasari merupakan tokoh penting dalam perlawanan masyarakat Banjar terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Ia memimpin Perang Banjar yang dimulai pada pertengahan abad ke-19.
Perlawanan tersebut melibatkan kekuatan politik Kesultanan Banjar dan berbagai kelompok masyarakat.
Antasari dikenal sebagai pemimpin yang tetap melanjutkan perjuangan meskipun menghadapi tekanan militer Belanda.
Ia meninggal pada 11 Oktober 1862 akibat penyakit.
17. Sultan Agung
Lahir: 1593
Wafat: 10 Februari 1645
Dikenal sebagai: Sultan Mataram.
Sultan Agung merupakan salah satu penguasa terbesar Kesultanan Mataram.
Ia berusaha memperluas pengaruh Mataram di Jawa dan menghadapi kekuatan VOC yang mulai menguat di Batavia.
Pada masa pemerintahannya, Mataram melancarkan serangan terhadap Batavia pada 1628 dan 1629.
Sultan Agung juga memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan, pemerintahan, serta perkembangan kalender Jawa.
Namanya kemudian diabadikan sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Jawa.
18. I Gusti Ngurah Rai
Lahir: 30 Januari 1917
Wafat: 20 November 1946
Dikenal sebagai: Pemimpin Puputan Margarana.
I Gusti Ngurah Rai adalah tokoh militer dari Bali yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi.
Ia memimpin pasukan Ciung Wanara dalam menghadapi pasukan Belanda.
Puncak perjuangannya terjadi dalam Pertempuran Margarana pada 20 November 1946.
Ngurah Rai bersama pasukannya memilih melakukan perlawanan habis-habisan atau puputan.
Ia gugur dalam pertempuran tersebut pada usia 29 tahun.
Sumber pemerintah dan berbagai arsip sejarah mencatat tanggal lahir 30 Januari 1917 dan wafat 20 November 1946.
19. Bung Tomo
Lahir: 3 Oktober 1920
Wafat: 7 Oktober 1981
Dikenal sebagai: Pengobar semangat rakyat Surabaya.
Nama asli Bung Tomo adalah Sutomo.
Ia dikenal luas karena pidato-pidatonya yang membangkitkan keberanian rakyat Surabaya ketika menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda pada 1945.
Radio menjadi salah satu media penting yang digunakan untuk menyebarkan semangat perjuangan.
Pertempuran 10 November 1945 kemudian menjadi dasar ditetapkannya 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Bung Tomo wafat di Padang Arafah, Arab Saudi, pada 7 Oktober 1981. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Surabaya.
IKPNI mencatat tempat lahirnya Surabaya, 3 Oktober 1920, dan wafat di Padang Arafah pada 7 Oktober 1981.
20. Otto Iskandardinata
Lahir: 31 Maret 1897
Wafat: 20 Desember 1945
Dikenal sebagai: Si Jalak Harupat.
Otto Iskandardinata merupakan tokoh pergerakan nasional dari Jawa Barat.
Ia pernah menjadi guru, wartawan, anggota Volksraad, dan tokoh Paguyuban Pasundan.
Setelah Indonesia merdeka, Otto dipercaya masuk dalam pemerintahan dan menjadi Menteri Negara dalam kabinet awal Republik Indonesia.
Namun kehidupannya berakhir tragis. Ia diculik dan kemudian dibunuh pada Desember 1945.
Otto Iskandardinata lahir 31 Maret 1897 dan meninggal pada 20 Desember 1945.
21. Jenderal Ahmad Yani
Lahir: 19 Juni 1922
Wafat: 1 Oktober 1965
Dikenal sebagai: Panglima Angkatan Darat.
Ahmad Yani merupakan salah satu tokoh militer terpenting pada masa awal Republik Indonesia.
Ia pernah terlibat dalam berbagai operasi militer dan kemudian menduduki posisi penting dalam Angkatan Darat.
Pada 1 Oktober 1965, Ahmad Yani menjadi salah satu korban peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September.
Ia dibunuh di kediamannya dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Data pendidikan sejarah mencatat Ahmad Yani lahir 19 Juni 1922 dan wafat 1 Oktober 1965.
22. Jenderal Gatot Soebroto
Lahir: 10 Oktober 1907
Wafat: 11 Juni 1962
Dikenal sebagai: Tokoh penting pembentukan militer Indonesia.
Gatot Soebroto memiliki perjalanan militer yang panjang. Ia pernah berada dalam lingkungan KNIL, PETA, kemudian menjadi bagian dari tentara Indonesia.
Setelah kemerdekaan, ia terlibat dalam berbagai operasi militer dan menduduki sejumlah jabatan penting.
Gatot Soebroto dikenal pula sebagai salah satu tokoh yang memperhatikan pentingnya pendidikan bagi perwira.
Ia wafat di Jakarta pada 11 Juni 1962 dan dimakamkan di Ungaran.
Data biografis mencatat ia lahir di Purwokerto pada 10 Oktober 1907.
23. Ir. Djuanda Kartawidjaja
Lahir: 14 Januari 1911
Wafat: 7 November 1963
Dikenal sebagai: Penggagas Deklarasi Djuanda.
Djuanda Kartawidjaja merupakan salah satu negarawan penting Indonesia.
Ia pernah memegang banyak jabatan menteri dan kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia.
Namanya paling kuat dikenang melalui Deklarasi Djuanda 1957, yang menegaskan konsep negara kepulauan Indonesia.
Deklarasi tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia mengenai wilayah laut dan konsep Wawasan Nusantara.
Djuanda wafat pada 7 November 1963.
Dokumen dalam repositori Kemendikdasmen mencatat tanggal lahirnya 14 Januari 1911 dan menjelaskan perannya dalam Deklarasi Djuanda.
24. Sutan Sjahrir
Lahir: 5 Maret 1909
Wafat: 9 April 1966
Dikenal sebagai: Perdana Menteri pertama Indonesia.
Sutan Sjahrir merupakan tokoh pergerakan yang sejak muda aktif dalam organisasi politik.
Ia menempuh pendidikan di Belanda dan kemudian aktif dalam pergerakan nasional.
Setelah kemerdekaan, Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
Ia memainkan peran penting dalam diplomasi internasional dan perjuangan mendapatkan pengakuan terhadap Republik Indonesia.
Sjahrir wafat di Zurich, Swiss, pada 9 April 1966.
Data pahlawan nasional yang dihimpun dalam sumber pendidikan mencatat tanggal lahir 5 Maret 1909 dan tanggal wafat 9 April 1966.
25. Mohammad Natsir
Lahir: 17 Juli 1908
Wafat: 6 Februari 1993
Dikenal sebagai: Ulama, politikus, dan Perdana Menteri Indonesia.
Mohammad Natsir merupakan tokoh penting dalam sejarah politik dan pemikiran Islam Indonesia.
Ia aktif dalam organisasi politik dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting Masyumi.
Natsir pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia.
Ia juga dikenal melalui Mosi Integral Natsir pada 1950 yang menjadi bagian penting dalam proses pengembalian Indonesia dari bentuk Republik Indonesia Serikat menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Natsir lahir di Solok pada 17 Juli 1908 dan wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993.
26. H. Agus Salim
Lahir: 8 Oktober 1884
Wafat: 4 November 1954
Dikenal sebagai: Diplomat dan tokoh pergerakan nasional.
Agus Salim merupakan salah satu intelektual penting dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Ia dikenal menguasai banyak bahasa dan memiliki kemampuan diplomasi yang kuat.
Ia aktif dalam Sarekat Islam, Volksraad, pers, dan perjuangan politik.
Setelah kemerdekaan, Agus Salim menjadi salah satu tokoh diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan pengakuan internasional terhadap Republik.
IKPNI mencatat Agus Salim lahir di Koto Gadang pada 8 Oktober 1884 dan wafat di Jakarta pada 4 November 1954.
27. dr. Wahidin Soedirohoesodo
Lahir: 7 Januari 1852
Wafat: 26 Mei 1917
Dikenal sebagai: Pelopor Kebangkitan Nasional.
dr. Wahidin Soedirohoesodo merupakan dokter dan tokoh pendidikan.
Ia dikenal karena gagasannya mengenai pentingnya pendidikan bagi masyarakat pribumi.
Gagasannya turut menginspirasi lahirnya Boedi Oetomo pada 1908.
Karena itu, Wahidin sering ditempatkan sebagai salah satu tokoh awal Kebangkitan Nasional Indonesia.
Ia lahir di Mlati, Sleman, pada 7 Januari 1852 dan wafat pada 26 Mei 1917.
28. Sam Ratulangi
Lahir: 5 November 1890
Wafat: 30 Juni 1949
Dikenal sebagai: Tokoh pendidikan dan Gubernur Sulawesi pertama.
Sam Ratulangi atau Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi merupakan tokoh intelektual dari Minahasa.
Ia memperoleh pendidikan tinggi di Eropa dan meraih gelar doktor dalam bidang matematika dan ilmu alam di Swiss.
Setelah kemerdekaan, ia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi.
Ratulangi kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Serui.
Ia meninggal pada 30 Juni 1949.
Ensiklopedia Pahlawan Nasional dalam repositori Kemendikdasmen mencatat kelahiran Sam Ratulangi pada 5 November 1890 dan wafat pada 30 Juni 1949.
29. Tan Malaka
Lahir: 2 Juni 1897
Wafat: 21 Februari 1949
Dikenal sebagai: Pemikir dan pejuang kemerdekaan.
Tan Malaka merupakan salah satu tokoh paling kontroversial sekaligus berpengaruh dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Ia memiliki perjalanan politik internasional yang panjang dan pernah hidup di berbagai negara.
Pemikirannya banyak dituangkan dalam tulisan, salah satunya Madilog, yang membahas materialisme, dialektika, dan logika.
Tan Malaka memiliki gagasan yang kuat tentang kemerdekaan Indonesia dan menolak kolonialisme.
Pada masa revolusi, ia bergerak dalam perjuangan politik dan gerilya. Ia kemudian tewas ditembak pada 1949.
IKPNI mencatat bahwa Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 53 Tahun 1963.
30. Abdul Muis
Lahir: 3 Juli 1883
Wafat: 17 Juni 1959
Dikenal sebagai: Sastrawan, wartawan, dan tokoh pergerakan.
Abdul Muis merupakan tokoh yang memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu dilakukan melalui medan perang.
Ia aktif sebagai wartawan, penulis, dan aktivis Sarekat Islam.
Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad dan terlibat dalam berbagai aktivitas politik melawan kolonialisme.
Dalam dunia sastra, namanya sangat dikenal melalui novel Salah Asuhan.
Abdul Muis juga memiliki kontribusi dalam gagasan pendirian sekolah teknik yang kemudian berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi penting di Indonesia.
IKPNI mencatat Abdul Muis memperoleh gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 218 Tahun 1959.
Mengapa Tanggal Lahir dan Wafat Pahlawan Penting untuk Dipelajari?
Tanggal lahir dan wafat bukan sekadar data biodata.
Dalam sejarah, tanggal tersebut membantu pembaca memahami rentang kehidupan seorang tokoh dan konteks zaman yang mereka jalani.
Misalnya, Kartini lahir pada 1879 dan wafat pada 1904. Artinya, perjuangannya berlangsung pada masa ketika pendidikan bagi perempuan pribumi masih sangat terbatas.
Sementara itu, Soekarno dan Hatta hidup hingga setelah Indonesia merdeka sehingga perjuangan mereka tidak berhenti pada proklamasi.
Demikian pula Sudirman. Ia wafat hanya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tetapi perjuangannya pada masa revolusi memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan Republik.
Dengan melihat tanggal lahir dan wafat, pembaca juga dapat melihat bahwa usia para pahlawan ketika melakukan perjuangan sangat beragam.
Ada tokoh yang hidup sampai usia lanjut, tetapi ada pula yang gugur ketika masih sangat muda.
Martha Christina Tiahahu, misalnya, dikenal ikut dalam perjuangan ketika masih remaja. Sementara I Gusti Ngurah Rai gugur pada usia 29 tahun.
Pahlawan Nasional Tidak Hanya Berasal dari Kalangan Militer
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Pahlawan Nasional selalu merupakan tokoh yang berperang dengan senjata.
Padahal sejarah Indonesia memperlihatkan spektrum perjuangan yang jauh lebih luas.
Pahlawan dari bidang pendidikan
Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Dewi Sartika, dan Wahidin Soedirohoesodo menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi bentuk perjuangan.
Mereka membangun sekolah, pesantren, organisasi, dan gagasan yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang.
Pahlawan dari bidang politik
Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, Agus Salim, dan Djuanda menunjukkan bahwa perjuangan politik dan diplomasi memiliki posisi penting dalam sejarah kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya harus diproklamasikan, tetapi juga dipertahankan dan diperjuangkan pengakuannya.
Pahlawan dari medan perang
Pattimura, Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Umar, I Gusti Ngurah Rai, Sudirman, dan Ahmad Yani memperlihatkan bentuk perjuangan melalui kekuatan bersenjata.
Namun perjuangan mereka tetap tidak dapat dipisahkan dari konteks politik, sosial, ekonomi, dan masyarakat pada zamannya.
Pahlawan dari dunia sastra dan pers
Abdul Muis merupakan contoh bahwa tulisan juga dapat menjadi senjata perjuangan.
Begitu pula Tan Malaka yang menggunakan buku dan gagasan politik untuk membangun pemikiran tentang kemerdekaan.
Siapa Pahlawan Nasional Indonesia Terbaru?
Perlu dibedakan antara tokoh yang paling terkenal dan tokoh yang paling baru mendapatkan gelar.
Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 tokoh sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025.
Sepuluh tokoh tersebut adalah:
- KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
- Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto
- Marsinah
- Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja
- Hj. Rahmah El Yunusiyah
- Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo
- Sultan Muhammad Salahuddin
- Syaikhona Muhammad Kholil
- Tuan Rondahaim Saragih
- Zainal Abidin Syah
Pemerintah menjelaskan bahwa pemberian gelar tersebut merupakan penghargaan atas jasa luar biasa dalam mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan penambahan tersebut, jumlah Pahlawan Nasional yang umum dirujuk menjadi 216 tokoh.
Siapa Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia?
Dalam sejarah Indonesia, terdapat sejumlah Pahlawan Nasional perempuan yang memiliki peran besar.
Beberapa nama yang paling dikenal antara lain:
- R.A. Kartini
- Cut Nyak Dhien
- Cut Meutia
- Dewi Sartika
- Martha Christina Tiahahu
- Nyi Ageng Serang
- Maria Walanda Maramis
- Rasuna Said
- Fatmawati
- Laksamana Malahayati
- Opu Daeng Risadju
- Ruhana Kuddus
- Ratu Kalinyamat
- Rahmah El Yunusiyah
- Marsinah
KOWANI mencatat sejumlah tokoh perempuan tersebut dalam daftar Pahlawan Nasional, termasuk Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika, dan tokoh perempuan lainnya.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa sejarah perjuangan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh laki-laki.
Apa Perbedaan Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi?
Istilah Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki konteks berbeda.
Pahlawan Nasional merupakan gelar yang diberikan negara kepada tokoh yang berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara.
Sementara Pahlawan Revolusi merujuk pada sejumlah perwira dan tokoh yang gugur dalam peristiwa 1965 dan memperoleh penghargaan dalam konteks tersebut.
Karena itu, ketika mencari informasi tentang “30 nama pahlawan nasional”, daftar harus dibedakan dari daftar Pahlawan Revolusi.
Bagaimana Seseorang Bisa Mendapat Gelar Pahlawan Nasional?
Gelar Pahlawan Nasional bukan gelar yang muncul hanya karena seseorang terkenal.
Ada mekanisme pengusulan, penelitian, pengkajian, dan pemberian pertimbangan sebelum keputusan ditetapkan Presiden.
Kementerian Sosial menjelaskan bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional didasarkan pada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Dengan demikian, seseorang yang memiliki jasa besar belum tentu otomatis menjadi Pahlawan Nasional.
Ada proses administratif, penelitian sejarah, verifikasi, dan pertimbangan sebelum gelar diberikan.
Mempelajari 30 nama Pahlawan Nasional beserta tanggal lahir dan wafatnya bukan hanya menghafalkan nama untuk kebutuhan sekolah atau menjawab soal.
Setiap nama memiliki cerita yang berbeda.
Soekarno dan Hatta berjuang membawa Indonesia menuju proklamasi. Sudirman mempertahankan Republik melalui perang gerilya. Ki Hadjar Dewantara dan Dewi Sartika memperjuangkan pendidikan. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari membangun gerakan pendidikan dan sosial-keagamaan.
Di Aceh, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Teuku Umar menghadapi perang panjang melawan Belanda. Di Maluku ada Pattimura. Di Jawa ada Diponegoro. Di Bali ada I Gusti Ngurah Rai. Di Sulawesi ada Sultan Hasanuddin dan Sam Ratulangi.
Sementara Abdul Muis, Tan Malaka, Agus Salim, Sjahrir, Natsir, dan Djuanda menunjukkan bahwa perjuangan juga dilakukan melalui tulisan, politik, diplomasi, organisasi, dan gagasan.
Itulah sebabnya sejarah kepahlawanan Indonesia tidak dapat disederhanakan menjadi cerita tentang perang.
Kepahlawanan juga berbicara tentang pendidikan, keberanian, pengorbanan, persatuan, gagasan, diplomasi, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kesediaan memberikan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.
Dan ketika generasi sekarang mengingat tanggal lahir serta wafat mereka, yang sesungguhnya sedang dijaga bukan hanya sebuah data sejarah, melainkan ingatan tentang bagaimana Indonesia dibangun oleh begitu banyak manusia dengan jalan perjuangan yang berbeda-beda.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Dicari tentang Pahlawan Nasional Indonesia
Siapa 30 Pahlawan Nasional Indonesia?
30 tokoh yang dibahas dalam artikel ini adalah Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, Ki Hadjar Dewantara, R.A. Kartini, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pattimura, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Sultan Agung, I Gusti Ngurah Rai, Bung Tomo, Otto Iskandardinata, Ahmad Yani, Gatot Soebroto, Djuanda Kartawidjaja, Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, Agus Salim, Wahidin Soedirohoesodo, Sam Ratulangi, Tan Malaka, dan Abdul Muis.
Siapa Pahlawan Nasional yang lahir pada 21 April?
R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Tanggal kelahirannya kemudian diperingati sebagai Hari Kartini.
Siapa Pahlawan Nasional yang lahir pada 2 Mei?
Ki Hadjar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Siapa Pahlawan Nasional yang lahir pada 6 Juni?
Ir. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya.
Siapa Pahlawan Nasional yang lahir pada 12 Agustus?
Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi.
Siapa Pahlawan Nasional yang wafat pada 17 September 1904?
R.A. Kartini wafat pada 17 September 1904 di Rembang.
Siapa Pahlawan Nasional yang wafat pada 16 Desember 1817?
Kapitan Pattimura wafat pada 16 Desember 1817 setelah ditangkap dan dihukum mati oleh Belanda.
Siapa Pahlawan Nasional yang wafat pada 8 Januari 1855?
Pangeran Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855 di Makassar.
Siapa Pahlawan Nasional perempuan dari Aceh?
Beberapa yang paling terkenal adalah Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia. Keduanya memimpin atau terlibat aktif dalam perjuangan melawan Belanda di Aceh.
Berapa jumlah Pahlawan Nasional Indonesia sekarang?
Setelah penetapan 10 Pahlawan Nasional baru pada 10 November 2025, jumlah yang umum dirujuk menjadi 216 Pahlawan Nasional. Angka tersebut perlu diperbarui apabila pemerintah menetapkan gelar baru pada tahun berikutnya.
Siapa Pahlawan Nasional terbaru tahun 2025?
Sepuluh tokoh yang ditetapkan pada 2025 adalah KH Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyah, Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah.










