Tokoh Wanita | Nama Pahlawan Nasional dan Asalnya Beserta Gambarnya | Indonesia memiliki ratusan tokoh yang ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional. Mereka datang dari latar yang sangat beragam: pejuang bersenjata, ulama, pendidik, sastrawan, diplomat, dokter, tokoh politik, pemimpin kerajaan, aktivis sosial, hingga tokoh yang berjuang melalui gagasan dan karya.
Menariknya, peta asal para Pahlawan Nasional juga membentang hampir di seluruh Nusantara. Dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua, masing-masing membawa cerita perjuangan yang berbeda.
Hingga penetapan terbaru pada 10 November 2025, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru. Dengan tambahan tersebut, jumlah Pahlawan Nasional yang umum dirujuk mencapai 216 tokoh.
Catatan penting: artikel ini menggunakan istilah asal daerah untuk merujuk pada daerah kelahiran, daerah perjuangan, atau provinsi yang secara resmi dikaitkan dengan tokoh tersebut dalam dokumen pemerintah. Untuk beberapa tokoh sejarah lama, penyebutan wilayah dapat berbeda antara sumber modern dan pembagian administratif masa kini.
Apa Itu Pahlawan Nasional?
Menurut Kementerian Sosial, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan pemerintah Republik Indonesia kepada seseorang yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.
Secara hukum, pengaturan mengenai gelar tersebut terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Undang-undang tersebut juga menjelaskan bahwa istilah Pahlawan Nasional mencakup berbagai gelar kepahlawanan yang sebelumnya pernah digunakan, termasuk Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Revolusi dan Pahlawan Proklamator.
Karena itu, menjadi Pahlawan Nasional tidak selalu berarti seseorang harus gugur di medan perang.
Ada tokoh yang dikenang karena memimpin perlawanan bersenjata. Ada pula yang jasanya muncul melalui pendidikan, diplomasi, hukum, kesehatan, agama, kebudayaan, pers, ekonomi dan perjuangan sosial.
Daftar Pahlawan Nasional Indonesia Terbaru
Berdasarkan daftar penerima gelar pemerintah dan pembaruan sampai 2025, terdapat 216 Pahlawan Nasional. Pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara menyediakan daftar penerima gelar sejak 1959 hingga periode terbaru.
Daftar di bawah ini disusun berdasarkan nama dan daerah yang paling kuat dikaitkan dengan masing-masing tokoh.
Pahlawan Nasional dari Aceh
Aceh menjadi salah satu daerah yang sangat kuat dalam sejarah kepahlawanan Indonesia. Perlawanan terhadap kolonialisme melahirkan sejumlah nama besar.
Di antaranya:
- Sultan Iskandar Muda — Aceh
- Teuku Cik di Tiro — Aceh
- Teuku Umar — Aceh
- Cut Nyak Dhien — Aceh
- Cut Meutia — Aceh
- Teuku Nyak Arif — Aceh
- Teuku Mohammad Hasan — Aceh
- Laksamana Malahayati — Aceh
Laksamana Malahayati bahkan menjadi salah satu figur penting dalam sejarah maritim Nusantara. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2017, bersama beberapa tokoh lainnya dari berbagai daerah.
Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat
Sumatera Barat juga melahirkan banyak tokoh pergerakan, ulama, pendidik, sastrawan dan pejuang.
Beberapa di antaranya:
- Tuanku Imam Bonjol
- Mohammad Hatta
- Mohammad Natsir
- Agus Salim
- Rasuna Said
- Buya Hamka
- Rohana Kudus
- Ilyas Yacoub
- Bagindo Aziz Chan
- Sutan Sjahrir
- Rahmah El Yunusiyah
Rahmah El Yunusiyah kemudian menjadi salah satu tambahan penting pada daftar Pahlawan Nasional 2025. Ia dikenal terutama melalui perjuangan pendidikan Islam dan pendirian Diniyyah Puteri.
Pahlawan Nasional dari Jambi
Nama-nama yang berkaitan dengan Jambi antara lain:
- Sultan Thaha Syaifuddin
- Raden Mattaher
Sultan Thaha Syaifuddin dikenal sebagai pemimpin perlawanan terhadap Belanda di Jambi. Sementara Raden Mattaher merupakan salah satu pejuang yang melawan kekuasaan kolonial di wilayah tersebut.
Pahlawan Nasional dari Sumatera Selatan
Sumatera Selatan memiliki sejumlah tokoh yang memiliki peran dalam perjuangan dan pemerintahan Indonesia, antara lain:
- Sultan Mahmud Badaruddin II
- Adnan Kapau Gani
- A.K. Gani atau Adnan Kapau Gani
- Ahmad Dahlan bukan berasal dari Sumatera Selatan, sehingga perlu dibedakan dengan tokoh-tokoh daerah tersebut.
Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah satu figur penting dalam sejarah Kesultanan Palembang dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara
Beberapa Pahlawan Nasional yang mempunyai kaitan kuat dengan Sumatera Utara antara lain:
- Sisingamangaraja XII
- Amir Hamzah
- Ferdinand Lumban Tobing
- Djamin Ginting
- Kiras Bangun
- Tahi Bonar Simatupang
Kiras Bangun, misalnya, dikenal sebagai pejuang dari Tanah Karo yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Pahlawan Nasional dari Kepulauan Riau
Tokoh-tokoh dari kawasan Kepulauan Riau antara lain:
- Raja Haji Fisabilillah
- Raja Ali Haji
- Sultan Mahmud Riayat Syah
Raja Ali Haji dikenal bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai sastrawan, penyair dan intelektual Melayu.
Sementara Raja Haji Fisabilillah dikenang karena perjuangannya menghadapi kekuatan kolonial Belanda.
Pahlawan Nasional dari Bangka Belitung
Salah satu tokoh penting dari Bangka Belitung adalah:
- Depati Amir
Depati Amir merupakan tokoh perlawanan terhadap Belanda yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2018. Dokumen Sekretariat Negara mencatatnya sebagai tokoh dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pahlawan Nasional dari Jawa Barat
Jawa Barat melahirkan banyak tokoh nasional, terutama dalam bidang pendidikan, politik, agama dan perjuangan kemerdekaan.
Di antaranya:
- Dewi Sartika
- Otto Iskandardinata
- Kusumah Atmaja
- Djuanda Kartawidjaja
- Abdul Halim
- Ahmad Sanusi
- Abdul Chalim
- Iwa Kusuma Sumantri
- Raden Eddy Martadinata
- Raden A.A. Wiranatakusumah dalam sejarah Jawa Barat juga kerap dikaitkan dengan perjuangan kebangsaan, tetapi tidak boleh otomatis dimasukkan sebagai Pahlawan Nasional tanpa dasar penetapan.
Dewi Sartika menjadi salah satu nama yang sangat penting dalam sejarah pendidikan perempuan Indonesia. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1966.
Pahlawan Nasional dari Jawa Tengah
Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah dengan jumlah tokoh yang sangat banyak.
Beberapa nama terkenalnya adalah:
- Jenderal Soedirman
- Ki Hajar Dewantara memiliki hubungan kuat dengan Yogyakarta
- R.A. Kartini
- Pangeran Diponegoro
- Sultan Agung
- Ki Sarmidi Mangunsarkoro
- Samanhudi
- Kasman Singodimedjo
- Sam Ratulangi bukan berasal dari Jawa Tengah
- Soeharto
- Sarwo Edhie Wibowo
- Supeno
- Wage Rudolf Soepratman
Daftar pemerintah mencatat beberapa tokoh berdasarkan provinsi pengusul atau daerah tokoh, sehingga asal administratif dan tempat lahir tidak selalu identik. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menyamakan istilah “asal” dengan satu definisi saja.
Pahlawan Nasional dari Daerah Istimewa Yogyakarta
Yogyakarta mempunyai posisi istimewa dalam sejarah kepahlawanan Indonesia.
Nama-nama yang sangat terkenal antara lain:
- Ki Hajar Dewantara
- Sri Sultan Hamengkubuwono IX
- Sri Sultan Hamengkubuwono I
- Ki Sarmidi Mangunsarkoro
- Ki Bagus Hadikusumo
- Sardjito
- Abdul Kahar Mudzakkir
- Abdurrahman Baswedan
- Ignatius Joseph Kasimo
- Lafran Pane
Hamengkubuwono IX tidak hanya dikenal sebagai Sultan Yogyakarta, tetapi juga sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan, Wakil Presiden kedua RI dan salah satu tokoh penting Gerakan Pramuka.
Pahlawan Nasional dari Jawa Timur
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah paling banyak melahirkan tokoh yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Beberapa di antaranya:
- H.O.S. Tjokroaminoto
- Dr. Soetomo
- Bung Tomo
- KH Hasyim Asy’ari
- KH Abdul Wahab Hasbullah
- KH Abdul Chalim
- KH Mas Mansur
- KH Abdul Halim
- KH As’ad Syamsul Arifin
- Sukarni Kartodiwirjo
- Moestopo
- Moehammad Mangoendiprodjo
- Moehammad Jasin
- Gus Dur
- Syaikhona Muhammad Kholil
- Marsinah
Tiga nama Jawa Timur kemudian menjadi sorotan besar pada 2025: Gus Dur, Syaikhona Muhammad Kholil dan Marsinah.
Pahlawan Nasional dari Bali
Bali mempunyai sejumlah tokoh penting dalam sejarah perjuangan nasional.
Di antaranya:
- I Gusti Ngurah Rai
- I Gusti Ketut Jelantik
- I Gusti Ketut Pudja
- I Gusti Ngurah Made Agung
- Ide Anak Agung Gde Agung
I Gusti Ngurah Rai sangat dikenal melalui perjuangannya di Bali dan peristiwa Puputan Margarana.
Pahlawan Nasional dari Kalimantan
Kalimantan juga memiliki tradisi panjang perlawanan terhadap kolonialisme.
Tokoh-tokoh yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional antara lain:
- Pangeran Antasari — Kalimantan Selatan
- Hasan Basry — Kalimantan Selatan
- Pangeran Mohammad Noor — Kalimantan Selatan
- Abdul Kadir — Kalimantan Barat
- Tjilik Riwut — Kalimantan Tengah
- Sultan Aji Muhammad Idris — Kalimantan Timur
Sultan Aji Muhammad Idris termasuk empat tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2021. Dokumen pemerintah mencatatnya sebagai tokoh dari Provinsi Kalimantan Timur.
Pahlawan Nasional dari Sulawesi
Sulawesi memiliki banyak figur penting dalam sejarah Indonesia.
Sulawesi Selatan
Beberapa di antaranya:
- Sultan Hasanuddin
- La Maddukelleng
- Andi Mappanyukki
- Andi Abdullah Bau Massepe
- Pajonga Daeng Ngalle
- Andi Depu
- Opu Daeng Risadju
- Ranggong Daeng Romo
- Sultan Alauddin
Sultan Hasanuddin merupakan salah satu tokoh paling terkenal dari Sulawesi Selatan karena perlawanannya terhadap VOC.
Sulawesi Utara
Tokohnya antara lain:
- Sam Ratulangi
- Maria Walanda Maramis
- A.A. Maramis
- Bernard Wilhelm Lapian
- AlexandER Andries Maramis
Sulawesi Tengah
- Tombolotutu
Tombolotutu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2021. Dalam dokumen pemerintah, ia disebut sebagai tokoh dari Provinsi Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tenggara
- Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi
Pahlawan Nasional dari Maluku dan Maluku Utara
Sejarah Maluku dan Maluku Utara juga melahirkan banyak tokoh besar.
Di antaranya:
- Pattimura
- Martha Christina Tiahahu
- Karel Satsuit Tubun
- Sultan Nuku
- Sultan Baabullah tidak boleh otomatis dimasukkan ke daftar Pahlawan Nasional tanpa penetapan resmi
- Sultan Zainal Abidin Syah
- Salahuddin bin Talabuddin
Karel Satsuit Tubun secara resmi tercatat sebagai Pahlawan Revolusi dari daerah Maluku.
Pahlawan Nasional dari Papua
Nama-nama Pahlawan Nasional yang berkaitan dengan Papua antara lain:
- Frans Kaisiepo
- Silas Papare
- Marthen Indey
- Johannes Abraham Dimara
- Zainal Abidin Syah
Frans Kaisiepo, Silas Papare, Marthen Indey dan Johannes Abraham Dimara memiliki peran penting dalam sejarah integrasi Papua dan perjuangan kebangsaan Indonesia.
Zainal Abidin Syah kemudian menjadi salah satu dari 10 tokoh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025. Ia dikenal sebagai Sultan Tidore dan tokoh yang mempunyai peran dalam perjuangan mempertahankan Papua sebagai bagian dari Indonesia.
10 Pahlawan Nasional Terbaru Tahun 2025
Penetapan 2025 merupakan pembaruan paling penting untuk artikel ini.
Pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025, yang ditetapkan pada 6 November 2025.
1. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur — Jawa Timur
Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 dan wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009.
Ia dikenal sebagai ulama, intelektual, tokoh Nahdlatul Ulama dan Presiden keempat Republik Indonesia.
Perjuangannya mencakup demokrasi, pluralisme, kemanusiaan dan pendidikan Islam. ANTARA mencatat bahwa Gus Dur juga dikenal melalui perjuangannya terhadap demokrasi, toleransi, kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia.
2. Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto — Jawa Tengah
Soeharto lahir di Kemusuk pada 8 Juni 1921 dan wafat pada 27 Januari 2008.
Ia merupakan Presiden kedua Republik Indonesia yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto pada 2025 menjadi salah satu keputusan paling banyak diperbincangkan karena perjalanan sejarahnya juga memiliki sisi yang kompleks.
Pemerintah secara resmi mencantumkan Soeharto sebagai salah satu dari 10 penerima gelar berdasarkan Keppres 116/TK/Tahun 2025.
3. Marsinah — Jawa Timur
Marsinah merupakan aktivis buruh yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969.
Ia bekerja di kawasan industri Sidoarjo dan dikenal karena perjuangannya menyuarakan hak pekerja.
Marsinah diculik pada Mei 1993 dan ditemukan meninggal pada 8 Mei 1993. Kisahnya kemudian menjadi simbol perjuangan buruh dan kemanusiaan di Indonesia.
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja — Jawa Barat
Mochtar Kusumaatmadja dikenal sebagai ahli hukum, akademisi dan diplomat.
Ia mempunyai peran besar dalam perkembangan pemikiran hukum Indonesia dan diplomasi internasional, termasuk dalam perjuangan Indonesia mengenai hukum laut.
Pada 2025 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dari Provinsi Jawa Barat.
5. Hj. Rahmah El Yunusiyah — Sumatera Barat
Rahmah El Yunusiyah merupakan tokoh pendidikan Islam dari Sumatera Barat.
Namanya sangat erat dengan Diniyyah Puteri Padang Panjang, lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan perempuan Indonesia.
Penetapan Rahmah sebagai Pahlawan Nasional mempertegas bahwa perjuangan melalui pendidikan juga menjadi bagian penting dari sejarah kepahlawanan Indonesia.
6. Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo — Jawa Tengah
Sarwo Edhie Wibowo merupakan tokoh militer yang mempunyai perjalanan panjang dalam sejarah TNI dan perjuangan Indonesia.
Ia termasuk 10 tokoh yang memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada 2025.
7. Sultan Muhammad Salahuddin — Nusa Tenggara Barat
Sultan Muhammad Salahuddin merupakan tokoh dari Bima, Nusa Tenggara Barat.
Ia dikenang sebagai pemimpin yang memiliki peran dalam perjuangan dan perkembangan masyarakat di wilayah Bima.
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 menambah representasi Nusa Tenggara Barat dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.
8. Syaikhona Muhammad Kholil — Jawa Timur
Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama besar dari Bangkalan, Madura.
Namanya sangat berpengaruh dalam tradisi keilmuan pesantren dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 dengan bidang perjuangan pendidikan Islam.
9. Tuan Rondahaim Saragih — Sumatera Utara
Tuan Rondahaim Saragih merupakan tokoh dari Simalungun, Sumatera Utara.
Ia dikenang sebagai pemimpin yang melakukan perlawanan terhadap kolonialisme di wilayah Simalungun.
Penetapannya pada 2025 memperkaya daftar tokoh Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara.
10. Zainal Abidin Syah — Maluku Utara
Zainal Abidin Syah merupakan Sultan Tidore yang juga dikenal dalam sejarah perjuangan mempertahankan kedudukan Papua dalam wilayah Indonesia.
Ia menjadi salah satu dari 10 penerima gelar Pahlawan Nasional pada 2025.
Mengapa Jumlah Pahlawan Nasional Menjadi 216?
Angka 216 perlu diberi konteks.
Sebelum penganugerahan 2025, jumlah yang banyak dirujuk adalah 206 Pahlawan Nasional. Pada 2025 pemerintah menambahkan 10 tokoh baru sehingga total menjadi 216.
Kemensetneg sendiri menyediakan dokumen daftar penerima gelar Pahlawan sejak 1959 dan dokumen profil untuk berbagai periode. Daftar resmi tersebut menunjukkan bagaimana gelar kepahlawanan berkembang dari masa ke masa.
Dengan demikian, angka tersebut bukan berarti ada “peringkat” dari 1 sampai 216. Nomor pada sejumlah situs yang menyusun daftar 216 tokoh hanyalah nomor editorial untuk memudahkan pembaca.
Bagaimana Seseorang Bisa Menjadi Pahlawan Nasional?
Gelar Pahlawan Nasional tidak diberikan hanya karena seseorang terkenal.
Ada mekanisme pengusulan, penelitian, pengkajian dan penetapan.
Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2012 mengatur mengenai pengusulan Gelar Pahlawan Nasional sebagai bagian dari pelaksanaan UU Nomor 20 Tahun 2009 dan PP Nomor 35 Tahun 2010.
Secara umum, tokoh yang diusulkan harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain memiliki perjuangan atau tindakan kepahlawanan, memberikan jasa luar biasa bagi bangsa, memiliki dampak yang luas dan menunjukkan semangat kebangsaan.
Prosesnya juga tidak langsung berada di tingkat Presiden. Usulan dapat berangkat dari masyarakat dan pemerintah daerah, kemudian melalui proses penelitian serta pengkajian sebelum sampai pada keputusan negara.
Menteri Sosial pada 2025 menjelaskan bahwa usulan calon Pahlawan Nasional berasal dari daerah dan kemudian diproses melalui tahapan yang berlaku.
Pahlawan Nasional Tidak Selalu Berjuang dengan Senjata
Ini salah satu hal penting yang sering terlewat ketika membahas daftar Pahlawan Nasional.
Jika melihat nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Pattimura, Sultan Hasanuddin atau Jenderal Soedirman, gambaran yang muncul memang perjuangan bersenjata.
Namun sejarah kepahlawanan Indonesia jauh lebih luas.
Ada Ki Hajar Dewantara dengan perjuangan pendidikan.
Ada R.A. Kartini dengan gagasan mengenai pendidikan dan kedudukan perempuan.
Ada Rohana Kudus melalui pers dan pendidikan.
Ada Buya Hamka melalui pendidikan, keagamaan dan karya intelektual.
Ada Mohammad Hatta melalui pemikiran ekonomi, politik dan perjuangan kemerdekaan.
Ada Mochtar Kusumaatmadja melalui hukum dan diplomasi.
Ada Marsinah yang perjuangannya berkaitan dengan buruh dan kemanusiaan.
Ada pula Gus Dur yang dikenang melalui demokrasi, pluralisme dan kemanusiaan.
Karena itu, kepahlawanan tidak semestinya dipahami hanya sebagai keberanian berada di medan perang.
Pahlawan Nasional Perempuan
Dari 216 tokoh yang tercatat setelah pembaruan 2025, terdapat 18 Pahlawan Nasional perempuan menurut kompilasi daftar terbaru.
Beberapa nama yang sangat dikenal antara lain:
- Cut Nyak Dhien
- Cut Meutia
- R.A. Kartini
- Dewi Sartika
- Nyi Ageng Serang
- Martha Christina Tiahahu
- Maria Walanda Maramis
- Rasuna Said
- Fatmawati
- Rohana Kudus
- Rahmah El Yunusiyah
- Ratu Kalinyamat
- Andi Depu
- Agung Hajjah Andi Depu
- Marsinah
Tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kiprah perempuan dalam sejarah Indonesia tidak berada pada satu bidang saja.
Ada yang memimpin perang, mendirikan sekolah, menulis, berorganisasi, memperjuangkan pendidikan, bergerak di bidang sosial, hingga memperjuangkan hak pekerja.
Pahlawan Nasional dan Hubungan Mereka dengan Organisasi Besar
Sejarah Pahlawan Nasional juga tidak bisa dipisahkan dari organisasi yang berkembang pada masa pergerakan.
Nahdlatul Ulama
Sejumlah Pahlawan Nasional memiliki hubungan erat dengan NU, termasuk:
- KH Hasyim Asy’ari
- KH Abdul Wahab Hasbullah
- KH Abdul Chalim
- KH Abdul Wahid Hasyim
- KH Mas Mansur
- KH As’ad Syamsul Arifin
- KH Abdurrahman Wahid
- Syaikhona Muhammad Kholil
Pada 2025, NU Online mencatat bahwa penetapan Gus Dur dan Syaikhona Muhammad Kholil menambah jumlah tokoh NU yang telah mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Muhammadiyah
Nama seperti:
- KH Ahmad Dahlan
- Ki Bagus Hadikusumo
- Buya Hamka
- KH Fakhruddin
memiliki kaitan kuat dengan perkembangan Muhammadiyah dan gerakan pembaruan Islam Indonesia.
Taman Siswa
Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh sentral pendidikan nasional dan pendiri Taman Siswa.
Sarekat Islam
H.O.S. Tjokroaminoto dan Samanhudi menjadi dua nama penting dalam sejarah Sarekat Islam dan perkembangan kesadaran politik masyarakat pribumi.
Kronologi Penetapan Pahlawan Nasional
Penetapan Pahlawan Nasional berlangsung secara bertahap sejak masa awal Republik.
Sekretariat Negara mencatat Abdul Muis sebagai salah satu penerima gelar paling awal pada 1959. Dalam daftar resmi, Abdul Muis tercatat melalui Keppres Nomor 218 Tahun 1959.
Pada periode berikutnya, semakin banyak tokoh ditetapkan.
Beberapa tonggak penting
1959
Abdul Muis dan beberapa tokoh awal memperoleh gelar.
1960-an
Nama seperti Kartini, Hasyim Asy’ari, Sudirman, Oerip Soemohardjo, Cut Nyak Dhien dan sejumlah Pahlawan Revolusi masuk dalam daftar.
1970-an
Muncul sejumlah nama besar seperti Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Sultan Agung dan lainnya.
1980-an–1990-an
Gelar diberikan kepada tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Hamengkubuwono IX, Sultan Iskandar Muda, Frans Kaisiepo, Silas Papare dan lainnya.
2000-an
Daftar berkembang dengan masuknya tokoh seperti Abdul Haris Nasution, Adnan Kapau Gani, Buya Hamka, Djuanda, Andi Abdullah Bau Massepe dan berbagai tokoh daerah.
2010-an
Muncul nama seperti Johannes Leimena, Johannes Abraham Dimara, Lafran Pane, Abdurrahman Baswedan, Rohana Kudus, Depati Amir dan lainnya.
2021
Empat tokoh baru ditetapkan: Tombolotutu, Sultan Aji Muhammad Idris, Usmar Ismail dan Raden Aria Wangsakara.
2023
Pemerintah kembali menambah enam nama, termasuk Abdul Chalim, Ahmad Hanafiah, Bataha Santiago, Ida Dewa Agung Jambe, Mohammad Tabrani dan Ratu Kalinyamat.
2025
10 tokoh baru ditetapkan, sehingga daftar menjadi 216 tokoh.
Mengapa Ada Perbedaan Nama dan Ejaan Pahlawan?
Pembaca mungkin menemukan nama yang berbeda ketika mencari tokoh yang sama.
Contohnya:
- Soedirman / Sudirman
- Soepomo / Supomo
- Soepratman / Supratman
- Tjipto Mangoenkoesoemo / Cipto Mangunkusumo
- Tjut Nyak Dhien / Cut Nyak Dhien
- Hasyim Asy’ari / Hasjim Asj’arie
- Abdul Wahab Hasbullah / Abdul Wahab Chasbullah
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti tokohnya berbeda.
Sebagian merupakan akibat perubahan ejaan bahasa Indonesia dari masa kolonial hingga sekarang. Dokumen resmi pemerintah sendiri masih memuat sejumlah ejaan lama karena mempertahankan format nama dalam dokumen historis.
Untuk SEO, sebaiknya artikel menggunakan ejaan modern yang paling umum, kemudian menyebut ejaan alternatif jika memang penting untuk membantu pembaca menemukan informasi.
Daftar Nama Pahlawan Nasional yang Paling Banyak Dicari
Untuk kebutuhan pencarian Google, beberapa nama memiliki search intent yang sangat kuat karena sering dicari berdasarkan biodata, asal daerah dan kisah perjuangannya.
Tokoh perjuangan kemerdekaan
- Soekarno
- Mohammad Hatta
- Jenderal Sudirman
- Pangeran Diponegoro
- Cut Nyak Dhien
- Cut Meutia
- Pattimura
- Sultan Hasanuddin
- Teuku Umar
- Tuanku Imam Bonjol
- I Gusti Ngurah Rai
- Pangeran Antasari
- Sisingamangaraja XII
Tokoh pendidikan
- Ki Hajar Dewantara
- R.A. Kartini
- Dewi Sartika
- Rahmah El Yunusiyah
- Ahmad Dahlan
- Rohana Kudus
- Maria Walanda Maramis
Tokoh agama
- KH Hasyim Asy’ari
- KH Ahmad Dahlan
- KH Abdul Wahab Hasbullah
- Buya Hamka
- KH Abdul Chalim
- KH Abdurrahman Wahid
- Syaikhona Muhammad Kholil
Tokoh politik dan diplomasi
- Mohammad Hatta
- Agus Salim
- Mohammad Natsir
- Sutan Sjahrir
- Djuanda Kartawidjaja
- Achmad Soebardjo
- Adam Malik
- Mochtar Kusumaatmadja
Tokoh perempuan
- R.A. Kartini
- Cut Nyak Dhien
- Cut Meutia
- Dewi Sartika
- Rasuna Said
- Rohana Kudus
- Fatmawati
- Martha Christina Tiahahu
- Andi Depu
- Rahmah El Yunusiyah
- Marsinah
Apa Perbedaan Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi?
Keduanya sering dianggap sama, padahal secara historis terdapat perbedaan.
Pahlawan Nasional adalah gelar kehormatan negara yang diberikan kepada tokoh yang memenuhi persyaratan kepahlawanan sesuai peraturan.
Sementara Pahlawan Revolusi merupakan sebutan historis bagi sejumlah perwira yang gugur dalam peristiwa politik 1965.
Dalam perkembangan hukum penghargaan negara, berbagai kategori gelar kepahlawanan tersebut kemudian berada dalam cakupan Pahlawan Nasional. UU Nomor 20 Tahun 2009 secara khusus menjelaskan bahwa istilah Pahlawan Nasional mencakup berbagai jenis gelar kepahlawanan yang pernah diberikan sebelumnya.
Pahlawan Nasional dan Warisan yang Ditinggalkan
Membaca daftar Pahlawan Nasional seharusnya tidak berhenti pada menghafal nama.
Yang lebih penting adalah memahami warisan yang mereka tinggalkan.
Pangeran Diponegoro meninggalkan pelajaran tentang keteguhan.
Cut Nyak Dhien menunjukkan keberanian mempertahankan perjuangan meskipun kehilangan orang-orang terdekat.
Ki Hajar Dewantara memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan membangun bangsa.
Kartini menunjukkan bahwa gagasan yang ditulis dengan tekun dapat melampaui zamannya.
Sudirman memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kekuatan fisik.
Mohammad Hatta meninggalkan tradisi pemikiran tentang demokrasi, ekonomi dan kehidupan bernegara.
Gus Dur menunjukkan bahwa keberanian memperjuangkan kemanusiaan juga dapat dilakukan melalui dialog dan gagasan.
Sementara Marsinah mengingatkan bahwa perjuangan terhadap ketidakadilan dapat lahir dari tempat kerja dan kehidupan masyarakat biasa.
Inilah yang membuat sejarah Pahlawan Nasional tetap relevan untuk dibaca generasi sekarang.
Nama Pahlawan Nasional Indonesia tidak hanya berisi tokoh perang atau pejabat negara. Di dalamnya terdapat guru, ulama, dokter, sastrawan, wartawan, aktivis buruh, diplomat, pemimpin kerajaan, akademisi dan tokoh masyarakat.
Hingga pembaruan terakhir pada 2025, Indonesia memiliki 216 Pahlawan Nasional yang umum dirujuk, setelah pemerintah menambahkan 10 tokoh baru pada Hari Pahlawan 10 November 2025.
Sepuluh nama terbaru tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid, Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyah, Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih dan Zainal Abidin Syah.
Dari Aceh hingga Papua, kisah mereka memperlihatkan bahwa Indonesia dibangun melalui banyak jalan. Ada yang mengangkat senjata, ada yang mendirikan sekolah, ada yang menulis, berdiplomasi, mendidik masyarakat, memperjuangkan hukum, membangun organisasi, hingga menyuarakan keadilan sosial.
Karena itu, mengenal nama Pahlawan Nasional dan asalnya bukan sekadar menghafal sejarah. Ia merupakan cara untuk memahami bagaimana Indonesia terbentuk melalui perjuangan manusia dari berbagai daerah, latar belakang dan bidang pengabdian.
FAQ Pahlawan Nasional Indonesia
Berapa jumlah Pahlawan Nasional Indonesia terbaru?
Sampai penetapan 10 tokoh baru pada 10 November 2025, jumlah yang umum dirujuk mencapai 216 Pahlawan Nasional.
Siapa Pahlawan Nasional terbaru tahun 2025?
Ada 10 tokoh, yaitu Abdurrahman Wahid, Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyah, Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih dan Zainal Abidin Syah.
Siapa Pahlawan Nasional perempuan?
Beberapa di antaranya adalah R.A. Kartini, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, Maria Walanda Maramis, Rasuna Said, Fatmawati, Rohana Kudus, Andi Depu, Ratu Kalinyamat, Rahmah El Yunusiyah dan Marsinah.
Siapa Pahlawan Nasional dari Aceh?
Di antaranya Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Umar, Teuku Cik di Tiro, Teuku Nyak Arif, Sultan Iskandar Muda dan Laksamana Malahayati.
Siapa Pahlawan Nasional dari Jawa Barat?
Beberapa nama yang terkenal adalah Dewi Sartika, Otto Iskandardinata, Djuanda Kartawidjaja, Abdul Halim, Ahmad Sanusi, Abdul Chalim dan Kusumah Atmaja.
Siapa Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat?
Di antaranya Mohammad Hatta, Agus Salim, Mohammad Natsir, Tuanku Imam Bonjol, Rasuna Said, Buya Hamka, Rohana Kudus dan Rahmah El Yunusiyah.
Apakah Pahlawan Nasional harus gugur dalam perang?
Tidak. Gelar Pahlawan Nasional juga diberikan kepada tokoh yang menghasilkan gagasan, karya atau pengabdian luar biasa dalam bidang pendidikan, politik, agama, hukum, sosial, kesehatan, budaya dan bidang lainnya.
Kapan gelar Pahlawan Nasional pertama kali diberikan?
Salah satu penerima gelar pertama adalah Abdul Muis, yang tercatat menerima gelar pada 1959 berdasarkan Keppres Nomor 218 Tahun 1959.










