Menu
Aktivis, Pejuang dan Pahlawan

Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026

  • Bagikan
Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026
Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026

Tokoh Wanita | Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026 | Ada sebuah ember sederhana di rumah Jumariah yang mungkin terlihat biasa saja. Tidak mewah, tidak istimewa, bahkan tidak menyimpan sesuatu yang dianggap berharga oleh kebanyakan orang.

Namun, bagi wanita asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ember itu menyimpan sebuah impian yang dirawat selama bertahun-tahun.

Sedikit demi sedikit, uang hasil bekerja sebagai buruh tani ia masukkan ke dalamnya. Ketika mendapatkan penghasilan, sebagian disisihkan. Begitu seterusnya, selama bertahun-tahun.

Jumariah tidak memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar. Ia juga menjalani kehidupan yang sederhana dan tinggal seorang diri setelah berpisah dengan suaminya.

Tetapi ada satu keinginan yang tidak pernah ia lepaskan: pergi ke Tanah Suci dan melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri.

Impian itu akhirnya terwujud pada musim haji 2026.

Bukan hanya berhasil menjejakkan kaki di Makkah, kisah Jumariah kemudian mendapat perhatian luas hingga dirinya dipilih menjadi salah satu wajah Indonesia dalam materi promosi internasional Haji 2026 melalui program “Makkah Route”.

Perjalanan dari sebuah rumah sederhana di tengah sawah menuju Masjidil Haram itulah yang membuat kisah Jumariah begitu menarik.

Bukan karena hidupnya bergelimang harta.

Justru karena ia berangkat dari keterbatasan.

Siapa Nenek Jumariah?

Jumariah adalah jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang kisah perjuangannya menjadi sorotan pada musim Haji 2026.

Ia dikenal sebagai wanita lansia yang hidup sederhana dan bekerja sebagai buruh tani. Dalam berbagai laporan mengenai kisahnya, usia Jumariah disebut berada di kisaran 70-an tahun.

Jumariah tinggal di kawasan Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.

Kehidupannya jauh dari kemewahan.

Hari-harinya diisi dengan pekerjaan rumah tangga, merawat ayam, berkebun, dan mengurus sawah. Ia juga bekerja di lahan milik orang lain untuk mendapatkan penghasilan.

Ada satu hal yang membuat kisahnya semakin menyentuh.

Jumariah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia tidak bisa membaca dan menulis.

Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti bermimpi.

Keinginannya untuk menunaikan ibadah haji justru ia wujudkan melalui cara yang sangat sederhana: bekerja, menyisihkan uang, lalu menyimpannya sedikit demi sedikit.

Selama bertahun-tahun, ia menjalani kebiasaan tersebut.

Tidak banyak orang mungkin mengetahui seberapa panjang proses yang ia lalui sebelum akhirnya berangkat ke Tanah Suci.

Hingga suatu hari, kisah tentang ember tempat ia menabung itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Kehidupan Jumariah di Tengah Sawah Maros

Sebelum dikenal sebagai ikon Haji 2026, Jumariah hanyalah seorang wanita lansia yang menjalani kehidupan sederhana di kampung halamannya.

Pagi hari menjadi awal dari rutinitasnya.

Setelah fajar, ia mengurus keperluan rumah. Ia memberi makan ayam peliharaan, membersihkan rumah, kemudian menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.

Setelah pekerjaan rumah selesai, aktivitasnya berlanjut ke kebun dan sawah.

Sekitar pukul sembilan pagi, Jumariah mulai bekerja.

Ia menggunakan sabit untuk merawat kebun ubi milik tetangganya. Setelah itu, ia berjalan menuju sawah yang juga menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Sawah miliknya tidak luas. Luasnya sekitar 15 are.

Di lahan tersebut, Jumariah pernah menanam, merawat, dan memanen sendiri.

Pekerjaan seperti itu tentu bukan pekerjaan ringan, apalagi bagi wanita yang usianya sudah tidak muda lagi.

Namun, bertahun-tahun bekerja di sawah membuat aktivitas fisik menjadi bagian dari kehidupannya.

Tangannya terbiasa bekerja.

Kakinya terbiasa berjalan di pematang.

Dan tubuhnya terbiasa menjalani hari dengan sederhana.

Dari pekerjaan itulah sebagian penghasilannya kemudian disisihkan untuk satu tujuan yang ia simpan dalam hati.

Berangkat haji.

Impian Berhaji yang Disimpan Selama Puluhan Tahun

Keinginan Jumariah untuk berhaji bukan sesuatu yang muncul dalam waktu singkat.

Ia mulai menabung sekitar dua dekade sebelum akhirnya berangkat.

Tidak ada jumlah besar yang langsung bisa ia sisihkan.

Pendapatannya sebagai buruh tani dan pekerja kebun tidak selalu sama. Karena itu, ia menggunakan cara yang menurutnya paling mungkin dilakukan.

Setiap kali mendapatkan uang, sebagian disimpan.

Jumariah pernah menceritakan bahwa ketika mendapatkan uang Rp110 ribu, sekitar Rp50 ribu ia sisihkan untuk tabungan.

Uang tersebut tidak langsung dibelanjakan.

Ia kumpulkan sedikit demi sedikit.

Tempat menyimpannya pun sangat sederhana.

Bukan rekening khusus.

Bukan brankas.

Melainkan sebuah ember yang ada di rumahnya.

“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” demikian cerita Jumariah yang dikutip dalam pemberitaan mengenai kisahnya.

Ember itu menjadi saksi dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

Dari sanalah impian besar itu perlahan dibangun.

Ember Sederhana yang Mengubah Perjalanan Hidup Jumariah

Bagi sebagian orang, menabung mungkin dilakukan dengan menyisihkan uang dalam rekening bank.

Bagi Jumariah, kondisinya berbeda.

Ia memilih menyimpan hasil jerih payahnya di dalam ember.

Cara tersebut sederhana, tetapi memiliki makna besar dalam perjalanan hidupnya.

Setiap lembar uang yang dimasukkan ke dalam ember bukan sekadar uang.

Ada harapan di dalamnya.

Ada keinginan untuk melihat Ka’bah.

Ada doa agar suatu hari bisa menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Dan ada kesabaran yang terus diuji oleh waktu.

Selama sekitar 20 tahun, Jumariah menjalani kebiasaan tersebut.

Tidak selalu mudah.

Sebagai buruh tani, penghasilannya terbatas. Ia juga harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun, ia tetap berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya.

Tidak harus banyak.

Yang penting ada yang disimpan.

Kebiasaan kecil tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Pada 2011, tabungan Jumariah telah mencapai sekitar Rp25 juta.

Dengan bantuan kemenakan atau kerabatnya, ia kemudian mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji.

Momen tersebut menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya.

Tetapi pendaftaran bukanlah akhir perjuangan.

Justru setelah mendaftar, perjalanan panjang itu masih berlanjut.

Setelah Mendaftar, Jumariah Tetap Menabung

Masuk dalam daftar tunggu haji bukan berarti Jumariah bisa berhenti bekerja.

Ia masih harus mempersiapkan kebutuhan untuk keberangkatan.

Karena itu, kebiasaan menabung terus ia lakukan.

Penghasilan dari bekerja tetap disisihkan.

Jika ada uang yang bisa ditabung, ia masukkan kembali ke simpanannya.

Kehidupan Jumariah tetap berjalan seperti biasa.

Ia masih bekerja.

Masih mengurus rumah.

Masih pergi ke kebun dan sawah.

Namun, kini ada satu penantian yang semakin dekat.

Suatu hari nanti namanya akan dipanggil untuk berangkat.

Waktu yang dinantikan itu akhirnya tiba setelah perjalanan panjang.

Ketika Jumariah mengetahui dirinya akan berangkat pada musim Haji 2026, semangatnya semakin besar.

Usianya sudah lanjut.

Namun, ia tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk mengurangi persiapan.

Justru ia menunjukkan kesungguhan yang luar biasa.

Menempuh 15 Kilometer demi Belajar Manasik

Salah satu bagian paling menarik dari persiapan Jumariah adalah kegigihannya mengikuti manasik haji.

Lokasi kegiatan manasik berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya.

Bagi sebagian orang, jarak tersebut mungkin bukan masalah besar.

Tetapi bagi wanita lansia yang hidup sederhana dan tidak memiliki banyak fasilitas, perjalanan tersebut tentu membutuhkan usaha.

Jumariah tetap datang.

Bahkan bukan hanya sekali atau dua kali.

Ia tercatat mengikuti lebih dari 80 sesi manasik yang diselenggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah atau KBIHU.

Tidak pernah absen.

Dalam kegiatan tersebut, Jumariah berusaha memahami rangkaian ibadah yang akan ia jalani.

Ia bahkan disebut selalu duduk di barisan depan untuk menyimak penjelasan pembimbing.

Kondisi tersebut menjadi semakin bermakna karena Jumariah tidak dapat membaca maupun menulis.

Ia tidak bisa mengandalkan buku panduan seperti sebagian jemaah lainnya.

Karena itu, ia lebih banyak mengandalkan penjelasan langsung dan mengingat arahan yang diberikan pembimbing.

Manasik menjadi bagian penting dari persiapannya.

Ia belajar melalui mendengar.

Ia mengingat melalui pengulangan.

Dan ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Lebih dari 80 kali kehadiran menunjukkan bahwa keinginannya untuk menjalankan ibadah haji dengan baik bukan sekadar keinginan sesaat.

Dari Rumah Sederhana Menuju Tanah Suci

Setelah penantian panjang, hari keberangkatan akhirnya datang.

Jumariah menjadi bagian dari jemaah haji Indonesia pada musim Haji 2026 melalui Embarkasi Makassar Kloter 14 atau UPG-14.

Perjalanan tersebut tentu sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya di Maros.

Selama ini, dunia Jumariah tidak jauh dari rumah, kebun, dan sawah.

Kini ia harus melakukan perjalanan jauh menuju Arab Saudi.

Untuk pertama kalinya, ia menaiki pesawat.

Untuk pertama kalinya pula, ia berada di tengah perjalanan besar bersama ribuan jemaah dari berbagai daerah.

Ada perasaan haru yang menyertai perjalanan tersebut.

Sebab, perjalanan ke Tanah Suci bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.

Jumariah telah menunggunya selama puluhan tahun.

Uang yang terkumpul di dalam ember.

Pekerjaan yang dilakukan setiap hari.

Manasik yang diikuti berkali-kali.

Semuanya akhirnya membawa Jumariah semakin dekat dengan tujuan yang selama ini ia simpan dalam doa.

Pengalaman Jumariah di Madinah

Sesampainya di Arab Saudi, perjalanan Jumariah berlanjut ke Madinah.

Di kota tersebut, ia mengikuti berbagai aktivitas bersama rombongan jemaah.

Kisahnya kembali mendapat perhatian karena semangatnya dalam menjalani ibadah.

Jumariah disebut mampu mengikuti aktivitas ibadah di Masjid Nabawi.

Ia juga sempat beriktikaf dari waktu Asar hingga salat Isya berjamaah.

Ada pula momen ketika Jumariah mendapatkan kesempatan masuk ke Raudhah dengan bantuan anggota rombongannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjalani pengalaman spiritual yang diimpikan.

Jumariah bahkan tidak memiliki ponsel.

Namun, anggota rombongan membantunya agar dapat mengikuti kegiatan dan mendapatkan pengalaman beribadah di tempat-tempat yang diinginkan.

Di tengah keramaian jutaan jemaah dari berbagai negara, Jumariah tetap menjalani perjalanan tersebut dengan kesederhanaannya.

Ia datang dari sebuah kampung di Maros.

Ia bekerja sebagai buruh tani.

Namun, kini langkahnya berada di salah satu tempat paling penting bagi umat Islam di dunia.

Tiga Kali Umrah Sebelum Puncak Perjalanan

Semangat Jumariah juga terlihat ketika berada di Makkah.

Setelah tiba di kota suci tersebut, ia disebut telah melaksanakan tiga kali umrah, yang terdiri atas satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.

Keterangan mengenai aktivitas ibadahnya menggambarkan bagaimana Jumariah tetap berusaha mengikuti rangkaian kegiatan meski usianya sudah lanjut.

Ia menjalani semuanya dengan dukungan rombongan.

Tidak semua perjalanan dilakukan seorang diri.

Kebersamaan dengan jemaah lain menjadi bagian penting dalam perjalanan Jumariah.

Bagi seorang wanita yang sehari-hari terbiasa hidup sendiri, berada di tengah rombongan tentu menghadirkan pengalaman berbeda.

Ada orang-orang yang membantu.

Ada pembimbing yang mengarahkan.

Ada teman seperjalanan.

Dan ada lingkungan yang membuat perjalanan ke Tanah Suci terasa lebih ringan.

Namun, satu momen tetap menjadi bagian yang paling emosional.

Momen ketika Jumariah akhirnya melihat Ka’bah.

Tangis Jumariah Saat Pertama Kali Melihat Ka’bah

Minggu, 10 Mei 2026, menjadi salah satu hari yang tidak akan mudah dilupakan Jumariah.

Pada hari itu, ia memasuki pelataran Masjidil Haram.

Setelah puluhan tahun menyimpan impian untuk melihat Baitullah, kini Ka’bah berdiri tepat di hadapannya.

Jumariah berulang kali mengusap wajahnya menggunakan ujung kerudung hitam yang dikenakannya.

Air mata mengalir.

Momen tersebut terasa begitu kuat karena Jumariah tidak datang ke Makkah melalui kehidupan yang mudah.

Ia datang setelah puluhan tahun bekerja.

Setelah menabung sedikit demi sedikit.

Setelah menyimpan uang dalam sebuah ember.

Setelah melewati masa tunggu yang panjang.

Dan setelah mempersiapkan diri dengan mengikuti puluhan sesi manasik.

Kini semua itu seolah menemukan jawabannya.

Ka’bah yang selama ini hanya ada dalam bayangan dan doa akhirnya dapat dilihat secara langsung.

“Saya senang bisa melihat Ka’bah.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun, bagi Jumariah, kalimat tersebut mewakili perjalanan hidup yang sangat panjang.

Tidak heran jika momen itu kemudian menjadi bagian dari kisah yang banyak diberitakan.

Mengapa Kisah Jumariah Menjadi Sorotan?

Kisah jemaah haji Indonesia tentu sangat beragam.

Setiap tahun ada banyak orang yang datang ke Tanah Suci dengan cerita masing-masing.

Ada yang berangkat setelah bertahun-tahun menabung.

Ada yang mendapat dukungan keluarga.

Ada pula yang memiliki perjalanan hidup yang penuh tantangan.

Jumariah menjadi berbeda karena seluruh perjalanan hidupnya terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sederhana.

Ia bukan tokoh terkenal.

Ia bukan pejabat.

Ia bukan orang dengan kekayaan besar.

Jumariah adalah seorang buruh tani lansia dari Maros yang hidup seorang diri.

Pendapatannya tidak besar.

Ia bahkan tidak pernah bersekolah.

Namun, ia memiliki tekad yang sangat kuat.

Cerita tentang tabungan dalam ember menjadi salah satu bagian yang membuat kisahnya mudah dikenang.

Ember tersebut menjadi simbol dari kesabaran dan konsistensi.

Setiap uang yang masuk mungkin tidak banyak.

Tetapi ketika dikumpulkan dalam waktu panjang, jumlahnya bisa menjadi jalan menuju sebuah impian besar.

Dari Maros, Kisah Jumariah Menjadi Materi Promosi Haji 2026

Perjalanan Jumariah kemudian memasuki babak yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kisah hidupnya menarik perhatian pihak terkait di Kabupaten Maros.

Profil Jumariah kemudian diajukan untuk menjadi bagian dari dokumenter “Makkah Route”.

Program tersebut berkaitan dengan layanan dan promosi penyelenggaraan perjalanan haji yang dikembangkan Arab Saudi.

Kisah Jumariah dinilai memiliki nilai kemanusiaan dan inspirasi yang kuat.

Ia hidup sendiri.

Ia tinggal di kawasan sederhana.

Ia bekerja di kebun dan sawah.

Tetapi ia mempunyai keinginan besar untuk menunaikan ibadah haji.

Tim dokumenter kemudian datang ke Maros untuk merekam keseharian Jumariah.

Kehidupan yang selama ini ia jalani tanpa sorotan tiba-tiba menjadi bagian dari materi yang diperkenalkan secara lebih luas.

Rumahnya.

Sawahnya.

Aktivitasnya.

Cara hidupnya.

Semuanya menjadi bagian dari cerita.

Dari sinilah Jumariah kemudian dikenal sebagai salah satu ikon global Haji 2026 dari Indonesia.

Apa Itu Makkah Route?

Makkah Route atau Rute Makkah merupakan salah satu program layanan haji Arab Saudi yang bertujuan mempermudah proses jemaah dari negara peserta sebelum keberangkatan menuju Tanah Suci.

Program ini antara lain berkaitan dengan penyelesaian sejumlah prosedur perjalanan dan keimigrasian jemaah dari negara yang mengikuti layanan tersebut.

Dalam konteks kisah Jumariah, yang menarik adalah bagaimana perjalanan seorang jemaah dari desa sederhana di Maros kemudian menjadi bagian dari materi yang dikenal secara internasional.

Jumariah bukan dipilih karena kehidupan yang mewah.

Justru kehidupan sederhananya menjadi bagian paling kuat dari cerita tersebut.

Kisah itu memperlihatkan bahwa jemaah haji datang dari latar belakang yang sangat beragam.

Ada orang kaya.

Ada profesional.

Ada pejabat.

Ada pedagang.

Ada petani.

Dan ada pula buruh tani seperti Jumariah.

Semua memiliki cerita masing-masing tentang bagaimana mereka sampai ke Tanah Suci.

Kisah Jumariah dan Makna Menabung Sedikit demi Sedikit

Salah satu bagian yang paling mudah diingat dari perjalanan Jumariah adalah kebiasaannya menyimpan uang dalam ember.

Cara tersebut mungkin terlihat sederhana.

Tetapi ada pelajaran tentang konsistensi di dalamnya.

Jumariah tidak menunggu sampai memiliki uang dalam jumlah besar.

Ia menabung dari apa yang ia punya.

Ketika mendapatkan penghasilan, ia menyisihkan sebagian.

Jika mendapatkan lebih banyak, tabungannya bertambah.

Jika mendapatkan lebih sedikit, ia tetap berusaha menyimpan sesuai kemampuannya.

Kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali.

Dalam kehidupan sehari-hari, hasil dari kebiasaan kecil memang sering kali tidak langsung terlihat.

Menabung Rp50 ribu mungkin terasa kecil.

Namun jika dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun, hasilnya bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti.

Dalam kisah Jumariah, kebiasaan itu bahkan menjadi bagian dari perjalanan menuju Baitullah.

Karena itu, ember sederhana tersebut kemudian menjadi simbol yang sangat kuat.

Bukan karena embernya istimewa.

Tetapi karena apa yang dilakukan Jumariah di dalamnya.

Ia menyimpan hasil kerja keras.

Ia menyimpan kesabaran.

Dan ia menyimpan harapan.

Hidup Sendiri, tetapi Tidak Berhenti Berjuang

Jumariah juga menjalani kehidupan seorang diri setelah berpisah dengan suaminya.

Kondisi tersebut membuat kesehariannya semakin sederhana.

Ia mengurus banyak kebutuhan sendiri.

Pekerjaan rumah dilakukan sendiri.

Aktivitas di kebun dan sawah juga dijalani sendiri.

Namun, kesendirian tidak membuatnya berhenti menjalani kehidupan.

Justru rutinitas itulah yang menjadi bagian dari kekuatannya.

Bangun pagi.

Mengurus rumah.

Memberi makan ayam.

Pergi ke kebun.

Bekerja di sawah.

Menabung.

Beribadah.

Kemudian mengulanginya lagi pada hari berikutnya.

Di balik rutinitas sederhana itu, ada satu tujuan yang terus ia jaga.

Pergi ke Tanah Suci.

Bagi banyak orang, mimpi seperti itu mungkin terasa sangat jauh.

Namun, Jumariah tidak mencoba menyelesaikannya dalam satu langkah.

Ia menjalani satu hari demi satu hari.

Satu penghasilan demi satu penghasilan.

Satu tabungan demi satu tabungan.

Sampai akhirnya, perjalanan yang panjang tersebut benar-benar membawanya ke Makkah.

Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026
Kisah Nenek Jumariah, Buruh Tani Sebatang Kara yang Menabung Puluhan Tahun hingga Jadi Ikon Global Haji 2026

Tidak Pernah Berhenti Belajar Meski Tidak Bisa Membaca

Ada satu sisi lain dari kisah Jumariah yang penting untuk diperhatikan.

Ia tidak pernah mendapatkan pendidikan formal.

Ia tidak bisa membaca dan menulis.

Dalam perjalanan haji, kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri.

Namun, Jumariah tidak menjadikannya sebagai alasan untuk tidak belajar.

Ia mengikuti manasik.

Ia mendengarkan arahan pembimbing.

Ia berusaha mengingat doa dan tata cara yang dijelaskan.

Lebih dari 80 kali mengikuti manasik menunjukkan betapa seriusnya ia mempersiapkan diri.

Bagi Jumariah, belajar tidak selalu harus dilakukan melalui buku.

Ia belajar dengan mendengar.

Ia belajar dengan mengulang.

Ia belajar dengan mengikuti orang-orang yang membimbingnya.

Cara tersebut membantunya mempersiapkan diri sebelum benar-benar berada di Tanah Suci.

Kisah ini juga memperlihatkan pentingnya dukungan lingkungan bagi jemaah lansia.

Kerabat membantu proses pendaftarannya.

Pembimbing membantu persiapan manasik.

Rombongan membantu ketika berada di Arab Saudi.

Dengan dukungan tersebut, Jumariah dapat menjalani perjalanan yang telah ia impikan selama puluhan tahun.

Dari Ember ke Ka’bah

Jika seluruh perjalanan Jumariah diringkas dalam satu garis besar, kisahnya terlihat seperti perjalanan dari sesuatu yang sangat sederhana menuju sesuatu yang sangat besar.

Dimulai dari sebuah rumah sederhana.

Kemudian sebuah ember.

Di dalamnya ada uang hasil kerja.

Uang itu dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Pada 2011, jumlahnya mencapai Rp25 juta dan digunakan sebagai bagian dari proses pendaftaran haji.

Setelah itu, Jumariah kembali bekerja dan menabung.

Bertahun-tahun kemudian, namanya masuk sebagai jemaah yang berangkat.

Ia mengikuti lebih dari 80 kali manasik.

Ia melakukan perjalanan dari Maros menuju Arab Saudi.

Ia beribadah di Madinah.

Ia kemudian tiba di Makkah.

Dan pada 10 Mei 2026, ia akhirnya melihat Ka’bah secara langsung.

Perjalanan itu begitu panjang.

Namun, setiap tahapnya memiliki arti.

Tidak ada yang terjadi secara instan.

Semuanya dibangun dari kebiasaan kecil yang terus dilakukan.

Mengapa Kisah Nenek Jumariah Begitu Menginspirasi?

Ada banyak alasan mengapa kisah Jumariah menarik perhatian.

Pertama, karena latar belakang kehidupannya sangat sederhana.

Ia bukan orang kaya dan tidak memiliki sumber penghasilan besar.

Kedua, karena proses menabungnya berlangsung sangat lama.

Ia tidak mengumpulkan biaya haji dalam beberapa bulan.

Ia menabung selama bertahun-tahun.

Ketiga, cara menabungnya sangat sederhana.

Ia menggunakan ember untuk menyimpan uang.

Keempat, usianya sudah lanjut ketika akhirnya mendapat kesempatan berangkat.

Namun, ia tetap mempersiapkan diri dengan serius.

Kelima, ia menunjukkan ketekunan dalam mengikuti manasik.

Lebih dari 80 sesi ia ikuti tanpa absen.

Keenam, perjalanan hidupnya kemudian mendapat perhatian hingga tingkat internasional.

Kisah seorang buruh tani dari Maros akhirnya menjadi bagian dari promosi Haji 2026.

Semua unsur tersebut membuat kisah Jumariah memiliki daya tarik tersendiri.

Namun, hal terpenting bukanlah popularitas yang kemudian datang.

Yang paling penting adalah perjalanan panjang yang terjadi sebelum dunia mengenalnya.

Bukan Sekadar Cerita tentang Haji

Kisah Jumariah sebenarnya tidak hanya berbicara tentang keberangkatan ke Tanah Suci.

Ada cerita tentang kesabaran di dalamnya.

Ada cerita tentang bekerja dalam keterbatasan.

Ada cerita tentang menabung.

Ada cerita tentang menunggu.

Ada cerita tentang belajar meski memiliki keterbatasan pendidikan.

Dan ada cerita tentang mempertahankan sebuah keinginan selama bertahun-tahun.

Jumariah menunjukkan bahwa perjalanan menuju sebuah impian tidak selalu terlihat besar pada awalnya.

Kadang-kadang, semuanya dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Dalam kasus Jumariah, salah satunya adalah uang yang ia masukkan ke dalam ember.

Tidak ada yang bisa memastikan kapan impian itu akan terwujud.

Namun, ia terus menjalani prosesnya.

Hingga akhirnya kesempatan itu benar-benar datang.

Dari Sawah Maros hingga Dikenal Dunia

Kehidupan Jumariah sebelum Haji 2026 mungkin tidak pernah menarik perhatian banyak orang.

Ia menjalani kehidupan seperti biasa.

Sawah menjadi bagian dari kesehariannya.

Kebun menjadi tempat mencari penghasilan.

Rumah sederhana menjadi tempat beristirahat.

Ember menjadi tempat menyimpan tabungan.

Namun, perjalanan haji membuat kisah tersebut berubah.

Foto dan cerita Jumariah kemudian beredar luas.

Media Indonesia memberitakan kisahnya.

Masyarakat mengenalnya sebagai jemaah haji lansia yang menabung selama puluhan tahun.

Dan yang paling menarik, kisah tersebut kemudian masuk ke materi promosi internasional Haji 2026.

Dari seorang wanita yang hidup sederhana di Maros, Jumariah kemudian dikenal jauh lebih luas.

Namun, jika kembali ke titik awal, sebenarnya tidak ada yang berubah dari inti kisah tersebut.

Ia tetap Jumariah.

Seorang wanita yang bekerja.

Seorang wanita yang hidup sederhana.

Seorang jemaah yang selama puluhan tahun menyimpan harapan.

Dan akhirnya seorang wanita yang dapat melihat Ka’bah secara langsung.

Pelajaran dari Kisah Jumariah

Setiap orang tentu dapat mengambil makna yang berbeda dari kisah Jumariah.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin mengingatkan pentingnya menabung.

Bagi yang lain, kisah ini menunjukkan arti kesabaran.

Ada pula yang melihatnya sebagai cerita tentang ketekunan dalam mengejar cita-cita.

Namun, ada satu hal yang jelas.

Jumariah tidak menunggu hidupnya menjadi sempurna sebelum mulai berusaha.

Ia memulai dari kondisi yang ada.

Penghasilannya terbatas.

Pendidikannya terbatas.

Fasilitasnya sederhana.

Tetapi ia tetap melakukan sesuatu.

Ia menyisihkan uang.

Ia bekerja.

Ia mengikuti manasik.

Ia belajar.

Ia menunggu.

Dan ia terus menjaga harapannya.

Proses panjang itulah yang akhirnya membawanya ke Tanah Suci.

Ketika Mimpi yang Disimpan Puluhan Tahun Menjadi Nyata

Bayangkan kembali sebuah rumah sederhana di Maros.

Di dalamnya terdapat seorang wanita lansia yang menjalani kehidupan sehari-hari.

Tidak banyak yang tahu bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki sebuah impian besar.

Di salah satu sudut rumah, ada ember yang perlahan terisi.

Hari demi hari, uang masuk ke dalamnya.

Tidak selalu banyak.

Namun, terus bertambah.

Pada akhirnya, uang tersebut menjadi bagian dari biaya pendaftaran haji.

Tahun-tahun berlalu.

Jumariah terus menunggu.

Hingga akhirnya ia berangkat.

Ketika berdiri di depan Ka’bah pada 10 Mei 2026, semua perjalanan panjang itu seperti bertemu pada satu titik.

Air mata yang jatuh bukan hanya karena melihat bangunan suci.

Ada puluhan tahun kehidupan di balik air mata tersebut.

Ada keringat dari sawah.

Ada uang yang disimpan dalam ember.

Ada perjalanan jauh menuju tempat manasik.

Ada puluhan kali pertemuan untuk belajar.

Ada masa menunggu.

Dan ada doa yang terus dijaga.

Kini, nama Jumariah telah dikenal jauh lebih luas.

Namun, mungkin bagian paling indah dari kisahnya justru tetap sederhana.

Seorang wanita dari Maros akhirnya bisa berkata bahwa ia senang melihat Ka’bah.

Kisah Jumariah dan Harapan bagi Jemaah Indonesia

Indonesia memiliki jutaan Muslim dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda.

Ada yang sudah memiliki kemampuan finansial sejak lama.

Ada yang harus menunggu bertahun-tahun.

Ada yang menabung bersama keluarga.

Ada pula yang seperti Jumariah, menyisihkan hasil kerja sedikit demi sedikit.

Karena itu, kisah Jumariah menjadi bagian dari wajah perjalanan haji Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa di balik setiap daftar nama jemaah terdapat cerita.

Ada perjuangan keluarga.

Ada pekerjaan yang ditinggalkan sementara.

Ada tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.

Ada doa orang tua.

Ada penantian panjang.

Dan ketika akhirnya sampai di Tanah Suci, setiap jemaah membawa cerita masing-masing.

Jumariah membawa cerita dari sawah dan rumah sederhananya di Maros.

Ia membawa cerita tentang ember yang menjadi tempat menyimpan uang.

Ia membawa cerita tentang manasik yang diikuti puluhan kali.

Dan ia membawa cerita tentang air mata ketika pertama kali melihat Ka’bah.

Penutup: Dari Sebuah Ember, Lahir Sebuah Kisah Besar

Kisah Nenek Jumariah mungkin terlihat sederhana jika hanya dilihat dari hasil akhirnya.

Seorang wanita lansia dari Maros berhasil menunaikan ibadah haji.

Namun, jika melihat perjalanan di belakangnya, kisah itu jauh lebih panjang.

Ada sekitar 20 tahun menabung.

Ada hasil kerja sebagai buruh tani.

Ada uang yang disimpan sedikit demi sedikit dalam sebuah ember.

Ada Rp25 juta yang terkumpul pada 2011 untuk mendaftar haji.

Ada masa tunggu yang panjang.

Ada lebih dari 80 kali manasik.

Ada perjalanan dari Maros ke Arab Saudi.

Ada ibadah di Madinah.

Ada perjalanan menuju Makkah.

Dan ada air mata ketika Ka’bah akhirnya terlihat di depan mata.

Setelah semua itu, Jumariah justru dikenal dunia sebagai salah satu ikon global Haji 2026.

Kisahnya mengajarkan bahwa perjalanan menuju impian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang-kadang, sebuah impian besar hanya membutuhkan satu langkah kecil yang dilakukan berulang kali.

Bagi Jumariah, langkah itu adalah menyisihkan sebagian penghasilan.

Lalu menyimpannya.

Kemudian bekerja lagi.

Menabung lagi.

Dan terus menunggu.

Sampai suatu hari, ember sederhana itu tidak lagi sekadar tempat menyimpan uang.

Ia menjadi saksi perjalanan panjang seorang wanita dari Maros menuju Baitullah.

Dari sepetak sawah.

Menuju Tanah Suci.

Dari kehidupan yang sunyi.

Menuju kisah yang akhirnya dikenal dunia.

Dan dari sebuah impian yang disimpan puluhan tahun, Jumariah akhirnya berdiri di hadapan Ka’bah dan mengucapkan kalimat sederhana:

“Saya senang bisa melihat Ka’bah.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TUTUP