Biografi Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh Lengkap

  • Bagikan
Biografi Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh Lengkap
Biografi Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh Lengkap

Nangroe Aceh Darussalam sebagai Serambi Mekah di Indonesia, telah melahirkan banyak ulama hebat sejak perkembangan awal Islam pada abad 1 Hijriyah hingga kini. Pada masa lalu, banyak ulama terkenal seperti Syeikh Hamzah al-Fanshuri, Syeikh Syamsuddin Sumatrani, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Teungku Syiah Kuala, dan banyak lagi muncul. Sedangkan di abad ke-20, ulama terkenal seperti Dawud Beureueh, Ali Hasymi, Ismail Ya’qub, Abu Bakar Aceh, dan lain-lain tumbuh subur. Kebanyakan dari mereka adalah ulama sekaligus penulis atau penulis sastra.

Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh adalah seorang ulama, pejabat Departemen Agama dan penulis buku-buku agama, filsafat, dan sejarah Islam terkenal, baik sebelum maupun setelah Proklamasi Kemerdekaan. Nama aslinya adalah Abu Bakar, namun tambahan kata “Aceh” diterima setelah Presiden RI Ir. Soekarno memberikannya untuk membedakan antara ulama terkenal Abu Bakar Aceh dan Abu Bakar lain, serta untuk memudahkan orang mengenali asal-usul beliau dari Aceh. Tambahan ini menunjukkan bahwa Ir. Soekarno, yang memiliki minat belajar agama, mengakui profesi dan ulama Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh sebagai ulama terkemuka di Indonesia.

Abu Bakar lahir pada tanggal 28 April 1909 di Kutaraja (Banda Aceh), putra Syeikh Abdurrahman, ulama dan imam Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Mereka berasal dari keturunan kadi Kesultanan Aceh di Aceh Barat. Abu Bakar memulai pelajaran agama dari orang tuanya sejak masa kecil, kemudian belajar kepada guru atau teungku di kampung halaman. Selain itu, sebagai putra keluarga agama bangsawan, Abu Bakar memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan umum, memasuki Volkschool di Meulaboh (Aceh Barat).

Gaya bahasa unik dan provokatif: Setelah lulus, sang ulama melanjutkan pendidikan ke Kweekschool Islamiyah dan memperdalam ilmunya melalui belajar mandiri dan berbagai kursus. Seperti kebanyakan tokoh pergerakan pada masanya, beliau menguasai beberapa bahasa asing, seperti Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, serta bahasa daerah seperti Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Aceh Gayo. Setelah menunaikan ibadah haji, Abu Bakar Aceh tinggal beberapa waktu di Mekah untuk memperdalam ilmu keagamaan dengan ulama dari berbagai belahan dunia, termasuk ulama al-Jawi dan Timur Tengah.

Sejak era penjajahan Belanda hingga Jepang, Abu Bakar Aceh tak hanya seorang ulama terkemuka, tetapi juga terlibat aktif dalam perjuangan nasional. Beliau ikut berpartisipasi dalam pendirian Perserikatan Muhammadiyah di Banda Aceh, dan bahkan menjadi pengurusnya. Prestasinya tidak berhenti sampai di situ, karena beliau terus berjuang untuk meningkatkan karier dan keahlian, hingga akhirnya menjadi pegawai tinggi setelah kemerdekaan. Kiprahnya membuktikan bahwa beliau adalah tokoh yang tidak kenal lelah dalam memperdalam ilmu dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Pada era penjajahan Belanda, Abu Bakar sempat menjabat sebagai pegawai pustaka dan editor di Kantor Urusan Dalam Negeri (1930-1942). Saat Jepang memerintah, beliau memegang peran sebagai pustakawan serta pemimpin asrama Shumubu Nito Syoki. Dari sana, Abu Bakar ditunjuk sebagai instruktur dalam pelatihan Kursus Kiai pada akhir masa penjajahan Jepang. Kesempatan ini dimanfaatkan olehnya untuk mempererat hubungan dengan tokoh-tokoh Masyumi, seperti KH. Abdul Kahar Muzakkir, KH. Masykur, KH. Wahid Hasyim, dan lain-lain.

Berkat kesempatan yang besar untuk belajar mandiri, H. Abu Bakar Aceh membaca banyak literatur, termasuk yang berkaitan dengan isu agama dan budaya. Setelah Proklamasi, beliau bekerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu pindah ke Kementerian Agama dan berkarya hingga pensiun sebagai pegawai tinggi. Saat berada di Kementerian Agama, beliau bertugas sebagai Kepala Perpustakaan Islam dan direkrut menjadi pengurus Partai Masyumi yang berpusat di Yogyakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia pada masa itu.

Sebagai seorang Pegawai Kementerian Agama yang ahli dalam bidang penulisan dan perpustakaan, Bapak Abu Bakar Aceh ditunjuk sebagai pemimpin Majalah Mimbar Agama, sebagai media resmi Kementerian Agama pada era 1950-an. Ia juga yang berinisiatif untuk mengusulkan kepada Menteri Agama Kabinet Hatta I, Bapak Masykur (1948), untuk menulis Alquran Pustaka dengan ukuran yang cukup besar, 65 X 12 cm, dan usahanya berhasil. Alquran Pustaka ini kemudian disimpan di Masjid Istana Negara, Masjid Baiturrahim, Jakarta. Beliau pula yang bertanggung jawab dalam mengkoordinir penulisan sejarah dan riwayat hidup Menteri Agama RIS, Bapak Wahid Hasyim, dengan judul “Sejarah Hidup Bapak Abdul Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar” (1957).

H. Abu Bakar Aceh merupakan salah satu penggagas dalam pendirian Masjid Istiqlal Jakarta dan sekaligus menjadi panitia penting dalam proses tersebut. Bersama Bapak Buya Hamka, beliau juga turut andil dalam pendirian Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta Selatan. Berasal dari Aceh, Bapak Abu Bakar juga terlibat sebagai pendiri Perpustakaan Katub Khanah Iskandar Muda di Banda Aceh (1949-1950), serta pendiri Perpustakaan Islam di Jakarta dan Yogyakarta.

Seorang ulama yang dekat dengan Bapak Wahid Hasyim, Bapak Abu Bakar juga menjalankan amanat dari sahabat dan atasannya untuk mengumpulkan ulama-ulama ahli Alquran. Beliau kemudian membentuk panitia untuk menyelenggarakan musyawarah pembentukan Jami’ah Al-Qura’ Wa Al-Huffâdh (Perhimpunan Ahli Qira’at dan Penghafal Alquran) dan terpilih sebagai ketua umum pertamanya pada tahun 1953.

Sejak dasawarsa 1950-an, KH. Abu Bakar Aceh menjalankan tugas resminya sebagai pegawai tinggi di Departemen Agama dan berkontribusi dalam melakukan dakwah Islam melalui pengajian dan majelis taklim. Ia juga aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi seperti PTAIN (sekarang IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Universitas Ibnu Khaldun, Universitas Islam Jakarta, dan lainnya. Ia juga sering memberikan ceramah di Pusroh (sekarang Bintal, Bimbingan Mental) Mabes ABRI Jakarta. Atas prestasi dan dedikasinya tersebut, KH. Abu Bakar Aceh dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (DR. HC) di bidang Ilmu Agama Islam dari Universitas Islam Jakarta. Gelar ini diterima setelah melewati berbagai proses seleksi dan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ketat. Dengan penerimaan gelar ini, dapat dikatakan bahwa DR. KH. Abu Bakar Aceh adalah ulama dan cendekiawan dengan disiplin keilmuan agama yang sangat tinggi.

Seorang ulama dan cendekiawan berasal dari Tanah Rencong Aceh yang memiliki pengalaman melakukan lawatan ke berbagai negara seperti Arab Saudi, Pakistan, Filipina, dan Jepang, dikenal sebagai sosok yang sangat tekun belajar sejak usia mudanya. Ia merupakan penulis yang produktif, menyelesaikan puluhan buku yang semuanya telah terbit. Buku-buku tersebut membahas masalah keagamaan, arah dan kebudayaan Islam, serta filsafat. Beberapa karya ilmiah dari Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh antara lain:

• Masalah Akidah : Ahlussunnah wal Jama’ah; Keyakinan dan I’tiqad (1969); Gerakan Salafiyah di Indonesia (1970) ; Perbandingan Madzhab Salaf, Islam dalam Masa Murni (1970); Perbandingan Madzhab Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam (1965).

• Masalah Fikih dan Hukum Islam: Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Madzhab (1977); Sejarah Ka’bah dan Manasik Haji (1963).

• Masalah Akhlaq dan Tasawuf : Pengantar Ilmu Tarekat (1963); Wasiat Ibnu Arabi, Kepuasan Hakekat dan Ma’rifat dalam Tasawuf Islam (1976), Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf; Pendidikan Sufi, Sebuah Upaya Mendidik Ahlaq Manusia (terbit 1985) ; Lee Sabooh Nang (nasihat anak-anak dalam Bahasa Aceh); Mutiara Ahlaq (1959)

• Sejarah Islam : Sejarah Alquran (1951) ; Sejarah Hidup KH. A, Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar (1957) ; Sekitar Masuknya Islam di Indonesia (1965).

• Filsafat Islam : Sejarah Filsafat Islam (terbit cetakan kedua 1982).

• Masalah Dakwah : Potret Dakwah Nabi Muhammad s.a.w., dan Para Sahabatnya (terbit 1986) ; Toleransi Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya (terbit cetakan ke tiga 1984)

Dan masih banyak lagi karya-karya lain dari Prof. DR. Abu Bakar Aceh yang sangat dicintai dan diminati oleh berbagai kalangan, seperti kampus, santri pesantren, sekolah, madrasah, serta masyarakat luas. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbitnya buku-bukunya yang sampai beberapa kali cetak ulang.

Sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan keagamaan sejak masa mudanya, dan memiliki jabatan penting sebagai pejabat di lingkungan Departemen Agama serta sebagai penulis buku keislaman, pada usia lanjut, Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh lebih banyak melakukan riyâdlah rohani melalui tarekat Qadriyah wan Naqsyabandiyah yang diikutinya. Ia merupakan salah satu ikhwan Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah di Suryalaya, Tasikmalaya yang berada di bawah pimpinan mursyid-nya, KH. Sahibul Wafa’ Tajul Arifin yang lebih dikenal dengan Abah Anom.

Nama Prof. DR. KH. Abu Bakar Aceh sebagai ulama, cendekiawan muslim terkemuka dan penulis produktif meraih karunia Allah pada 17 September 1979 di usia 70 tahun dan dipanenggarakan pemakaman di Jakarta. Walaupun sudah tidak ada fisiknya, legasi dan pengabdiannya terus hidup melalui para mahasiswa, santri-santri yang diajari dan mengikuti majelis ta’lim serta buku-buku karya ilmiahnya yang masih sering dibaca dan digunakan sebagai sumber ilmu.

Terakhir, sebagai pemegang amanah sejarah dan perjuangan, kami berharap artikel ini dapat memberikan sedikit banyak wawasan tentang tokoh ini. Mohon maaf atas segala keterbatasan dan kekurangan data dalam penyajian kisah hidupnya. Semoga kita semua dapat terus mengapresiasi jasa dan pengabdian beliau dalam memajukan dunia pendidikan dan Islam di tanah air. Wallahua’lam.

Sumber: Ensiklopedia Ulama Nusantara : Riwayat Hidup, Karya, Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *