Menu
Aktivis, Pejuang dan Pahlawan

Biografi Nyai Masruroh Hasyim: Tokoh Wanita Tangguh Pendamping Hadratussyaikh

  • Bagikan
Biografi Nyai Masruroh Hasyim Tokoh Wanita Tangguh Pendamping Hadratussyaikh
Biografi Nyai Masruroh Hasyim Tokoh Wanita Tangguh Pendamping Hadratussyaikh

Biografi Nyai Masruroh Hasyim: Tokoh Wanita Tangguh Pendamping Hadratussyaikh | Tokoh WanitaNyai Masruroh Hasyim dikenal sebagai salah satu perempuan berpengaruh dalam sejarah pesantren Indonesia. Sosok beliau bukan hanya dikenal sebagai istri terakhir Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, tetapi juga sebagai perempuan alim, sederhana, dan penuh keteladanan dalam mendampingi perjuangan dakwah serta pendidikan pesantren.

Di lingkungan Pesantren Tebuireng, nama Nyai Masruroh dikenang sebagai figur ibu nyai yang tekun mendidik santri, istiqamah dalam ibadah, dan memiliki karakter tawadhu yang kuat. Keteladanan beliau hingga kini masih menjadi inspirasi bagi perempuan Muslim, khususnya di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama.

Latar Belakang Keluarga Nyai Masruroh Hasyim

Nyai Masruroh lahir dari keluarga pesantren di Kapurejo, Kecamatan Pagu, Kediri. Beliau merupakan putri dari Kiai Hasan Muchyi dan Nyai Khodijah. Ayah beliau dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Salafiyah Kapurejo. Sebelum menjadi pengasuh pesantren, Kiai Hasan Muchyi disebut pernah menjadi prajurit Pangeran Diponegoro dengan nama Raden Mas Ronowijoyo.

Tumbuh di Lingkungan Pesantren

Sejak kecil, Nyai Masruroh tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat kuat dengan pendidikan agama Islam. Beliau mempelajari ilmu agama langsung dari kedua orang tuanya, mulai dari membaca Al-Qur’an, kitab turats, hingga pendalaman ilmu fikih dan akhlak. Ketekunan beliau dalam belajar membuatnya dikenal sebagai perempuan yang memiliki pemahaman agama mendalam.

Selain dikenal cerdas dalam ilmu agama, Nyai Masruroh juga dikenal sebagai sosok yang tekun menjalani tirakat dan ibadah. Karakter inilah yang kemudian membuat beliau dihormati oleh masyarakat sekitar pesantren.

Perjalanan Pernikahan Nyai Masruroh

Menikah dengan KH Ihsan Dahlan

Karena keilmuan dan akhlaknya yang baik, Nyai Masruroh pernah dipersunting oleh KH Ihsan Dahlan, pengasuh Pesantren Jampes Kediri sekaligus pengarang kitab Siraj Ath-Thalibin yang terkenal di kalangan pesantren. Namun, pernikahan tersebut tidak berlangsung lama dan keduanya berpisah tanpa keturunan.

Pernikahan Kedua dan Kehidupan Keluarga

Setelah itu, Nyai Masruroh menikah dengan Sayyid Shodaqoh dari Bani Dahlan. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai seorang putri bernama Nur Jannah. Namun rumah tangga tersebut juga tidak bertahan lama hingga akhirnya berpisah.

Kisah Nyai Masruroh dan KH Hasyim Asy’ari

Awal Pertemuan dengan Hadratussyaikh

Perjalanan hidup Nyai Masruroh berubah ketika beliau mengalami sakit cukup serius. Karena merasa prihatin terhadap kondisi putrinya, Kiai Hasan Muchyi membuat sayembara bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan Nyai Masruroh. Jika perempuan akan dianggap saudara, sedangkan jika laki-laki akan dinikahkan dengan beliau.

Kabar tersebut akhirnya sampai kepada KH Hasyim Asy’ari. Setelah datang ke Kapurejo dan berikhtiar membantu pengobatan Nyai Masruroh, beliau akhirnya sembuh. Dari peristiwa itulah kemudian KH Hasyim Asy’ari menikahi Nyai Masruroh.

Menjadi Pendamping Perjuangan KH Hasyim Asy’ari

Dalam pernikahan tersebut, Nyai Masruroh dikaruniai empat anak, yaitu Abdul Kadir, Nyai Fatimah, Nyai Khodijah, dan Gus Ya’qub. Setelah menikah, kehidupan keduanya banyak dihabiskan antara Tebuireng dan Kapurejo karena tanggung jawab besar dalam mengembangkan pesantren.

KH Hasyim Asy’ari fokus mengembangkan Pesantren Tebuireng, sementara Nyai Masruroh aktif mendampingi pendidikan santri putri sekaligus melanjutkan pengasuhan Pesantren Salafiyah Kapurejo.

Peran Nyai Masruroh dalam Dunia Pesantren

Mengembangkan Pendidikan di Kapurejo

Kehadiran KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh di Kapurejo membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan pesantren. Jika sebelumnya pendidikan masih bersifat pengajian tradisional masyarakat sekitar, keduanya mulai merumuskan sistem madrasah dan pendidikan yang lebih terstruktur.

Peran Nyai Masruroh dalam pendidikan santri putri sangat besar. Beliau dikenal sabar, telaten, dan disiplin dalam membimbing para santri.

Mendirikan Pondok Pesantren Al-Masruriyyah

Pada tahun 1977, beberapa wali santri menitipkan anak perempuan mereka kepada Nyai Masruroh untuk belajar agama sambil sekolah formal. Awalnya jumlah santri hanya tujuh orang dan tinggal di kediaman beliau. Karena jumlah santri terus bertambah, rumah beliau kemudian dikembangkan menjadi pondok pesantren yang diberi nama Al-Masruriyyah.

Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pesantren putri yang dikenal di lingkungan Tebuireng.

Keteladanan Nyai Masruroh bagi Perempuan Muslim

Sosok Istri yang Tawadhu dan Sederhana

Nyai Masruroh dikenal sebagai perempuan yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Beliau tidak pernah hidup bermewah-mewahan dan selalu menjaga kesederhanaan dalam berpakaian maupun bersikap. Bahkan kerudung pemberian KH Hasyim Asy’ari hanya digunakan pada acara-acara tertentu karena sangat dijaga dengan penuh penghormatan.

Beliau sering memberikan nasihat kepada para santri putri agar menjadi perempuan yang baik, sabar, dan mampu menjaga keharmonisan rumah tangga.

Tekun Beribadah dan Bertirakat

Selain aktif mengajar, Nyai Masruroh juga dikenal istiqamah dalam menjalankan ibadah malam, puasa sunnah, dan berbagai tirakat. Kehidupan spiritual beliau menjadi salah satu alasan mengapa banyak santri dan masyarakat menghormatinya.

Keteladanan tersebut menjadikan Nyai Masruroh sebagai contoh perempuan pesantren yang mampu menyeimbangkan antara pengabdian keluarga, pendidikan, dan spiritualitas.

Keteguhan Nyai Masruroh di Masa Penjajahan Jepang

Pada tahun 1942, KH Hasyim Asy’ari pernah ditangkap tentara Jepang karena menolak penghormatan kepada Kaisar Hirohito. Dalam situasi penuh tekanan tersebut, Nyai Masruroh tetap menunjukkan keteguhan hati dan kesabaran luar biasa.

Tetap Mengajar di Tengah Ujian

Meski harus mengungsi ke Denanyar demi keamanan, Nyai Masruroh tetap mengajar para santri putri dan terus mendoakan keselamatan suaminya. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa beliau bukan hanya pendamping ulama besar, tetapi juga perempuan tangguh yang mampu menghadapi situasi sulit dengan penuh ketabahan.

Wafatnya Nyai Masruroh Hasyim

Nyai Masruroh wafat pada Selasa, 1 Mei 1979 atau 4 Jumadal Akhirah 1399 H setelah mengalami sakit diabetes. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Tebuireng bersama KH Hasyim Asy’ari dan keluarga besar pesantren lainnya.

Setelah wafatnya beliau, kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Masruriyyah diteruskan oleh putrinya, Hj Chodidjah Hasyim bersama KH Abdurrahman Utsman.

Warisan Keteladanan Nyai Masruroh Hasyim

Nyai Masruroh Hasyim meninggalkan warisan besar dalam dunia pendidikan pesantren dan keteladanan perempuan Muslim Indonesia. Sosok beliau memperlihatkan bagaimana perempuan dapat berperan penting dalam pendidikan, dakwah, dan perjuangan sosial tanpa meninggalkan nilai kesederhanaan serta akhlak mulia.

Hingga kini, nama Nyai Masruroh tetap dikenang sebagai perempuan tangguh, alim, dan penuh pengabdian yang menjadi bagian penting dari sejarah besar Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *